Mustofa N Ditangkap! Bareskrim: Cuitannya Bikin Onar

Kamis, 26 Mei 2019  21:47

Mustofa N Ditangkap! Bareskrim: Cuitannya Bikin Onar

Detik-detik penangkapan Mustofa Nahrawardaya di rumahnya, Minggu (26/5) dinihari.

 Jakarta (BM) – Anggota BPN Mustofa Nahrawardaya ditangkap aparat kepolisian pada Minggu (26/5) dinihari, di rumahnya, di Bintaro Jakarta. Saat berita ini diturunkan, Mustofa Nahrawardaya yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran hoax ini masih diperiksa di Bareskrim Mabes Polri.

Untuk status penahanan, masih akan ditentukan dalam 1 x 24 jam setelah menjalani pemeriksaan. "Kalau aturan KUHAP 'kan pemeriksaan itu maksimal 24 jam untuk kemudian bisa dilakukan penahanan atau penahanan luar," kata Djudju Purwantoro selaku kuasa hukum Mustofa Nahrawardaya di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Minggu, 26 Mei 2019.

Kendati demikian, Djudju berharap Mustofa tidak ditahan. Akan tetapi, Djudju mengaku dia belum mempersiapkan surat penangguhan penahanan.

"Kami harap tidak ditahan, ya. Untuk surat penangguhan, kami lihat sejauh mana kondisinya. Sampai saat ini cukup bisa bertahan. Istri juga sudah membawakan obat untuk yang bersangkutan," kata Djudju.

Mustofa ditangkap untuk diperiksa karena diduga keras telah melakukan tindak pidana ujaran kebencian berdasarkan SARA dan/atau pemberitaan bohong melalui Twitter berdasarkan laporan di Bareskrim Polri pada tanggal 25 Mei 2019.

Ia dijerat dengan Pasal 45A Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dalam surat penangkapan, Mustofa dijerat Pasal 45A Ayat (2) jo. Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 dan/atau Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Bagi kuasa hukum, penangkapan ini memang terlalu cepat prosesnya. Akan tetapi, Djudju masih tetap berpikiran positif pada pihak kepolisian.

"Biasalah hal-hal seperti itu. Akan tetapi, kami minta penyidik menerapkan aturan yang berlaku dan bertindak equality before the law (persamaan di depan mata hukum)," kata Djudju.

Mustofa menjadi tersangka karena cuitannya. Cuitan yang dipersoalkan itu diunggah di akun Twitter @AkunTofa yang menggambarkan ada seorang anak bernama Harun (15) yang meninggal setelah disiksa oknum aparat.

"Innalillahi-wainnailaihi-raajiuun. Sy dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat yg disiksa oknum di kompleks Masjid Al Huda ini, syahid hari ini. Semoga Almarhum ditempatkan di tempat yg terbaik disisi Allah Swt., Amiiiin YRA," demikian cuitan di @AkunTofa disertai emoticon menangis dan berdoa.

 

Hoaks

Sebelumnya, di media sosial, ramai disebarkan informasi disertai narasi hoaks bahwa ada korban anak di bawah umur bernama Harun Rasyid dipukuli hingga meninggal. Peristiwanya disebut terjadi di dekat Masjid Al-Huda, Jalan Kp Bali XXXIII No 3, RT 2 RW 10, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Polri kemudian membantah hoaks tersebut. Polri mengatakan bahwa peristiwa dalam video tersebut faktanya adalah penangkapan salah seorang perusuh bernama A alias Andri Bibir. Polri memastikan pelaku perusuh itu masih hidup. Peristiwa itu sendiri terjadi pada Kamis, 23 Mei 2019 pagi. Polri menegaskan narasi dalam video yang viral di Twitter hoaks.

"Bahwa viral video berkonten dan narasi seolah-olah kejadian tersebut mengakibatkan korban meninggal dunia akibat tindakan aparat. Ternyata pada kenyataannya orang yang dalam video tersebut adalah pelaku perusuh yang sudah diamankan atas nama A alias Andri Bibir," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 25 Mei 2019 dini hari.

Polisi menuturkan bahwa Andri Bibir saat kerusuhan pada tanggal 22 Mei 2019 menyuplai batu-batu besar untuk para demonstran yang hendak membuat suasana kacau. Andri juga membantu menyediakan air bilas untuk para demonstran yang terkena tembakan gas air mata dengan maksud agar kerusuhan berlanjut.

Polisi sendiri masih mencari pelaku penyebar hoaks ini. Dedi menjelaskan bahwa pelaku hoaks dapat dijerat Pasal 45 dan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Pasal 14 ayat 1 dan 2 Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP.

 

Jenguk Isteri

Istri Mustofa Nahrawardaya, Cathy Ahadianti, tampak menjenguk suaminya di Bareskrim Mabes Polri. Cathy membawakan obat-obatan untuk Mustofa, pada Minggu (26/5) malam.

Pantauan di lokasi, Cathy tiba di Bareskrim Maves Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/5/2019) pukul 19.18 WIB. Ia mengenakan gamis dan kerudung berwarna abu-abu dan datang seorang diri.

"Infonya sedang di-BAP sekarang, makanya ini saya mau bawa obatnya karena beliau masih dalam pengobatan dokter," ujar Cathy.

Mustofa diketahui menderita sakit asam urat, diabetes, dan darah tinggi. Sementara itu, pengacara Mustofa, Djudju Purwantoro, mengatakan kliennya saat ini masih diperiksa.

Mustofa diketahui sudah mulai diperiksa sejak siang tadi, namun hanya ditanya mengenai identitas karena harus didampingi oleh pengacara. Pemeriksaan formal baru dilakukan pukul 15.30 WIB tadi.

"Belum (diperiksa) secara komplit, belum secara menyeluruh, baru dikonfirmasi persoalan identitas maupun beberapa hal yang terkait yang akan diklarifikasi atau dipertanyakan, ada beberapa postingan lah," kata Djudju di lokasi yang sama.

Djudju mengatakan dirinya adalah pengacara yang membela Mustofa secara pribadi dan tergabung dalam Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI). Djudju menjelaskan penangkapan Mustofa didasarkan atas laporan dari seseorang tanggal 25 Mei 2019.

"Betul, (ditangkap) atas laporan seseorang. Tidak terlalu jelas penjelasannya terhadap orang tersebut. Tapi ada laporan seperti itu," jelasnya.

Menurut Djudju, penangkapan Mustofa pada 26 Mei dini hari tadi tergolong cepat. Ia meminta penyidik untuk menerapkan kesamaan seseorang dalam hukum atau equality before the law.

"Ya kita biasalah hal-hal seperti itu. Tapi tentu dalam hal ini tetap kami akan berusaha untuk, apa namanya, menerapkan atau penyidik harus menerapkan aturan yang berlaku, equality before the law, artinya sama semua orang di muka hukum. Seharusnya seperti itu, kita berharap seperti itu, walaupun memang tampaknya terlalu cepat," tandasnya.

 

Keterangan Polisi

Polisi membenarkan adanya penangkapan Mustofa Nahrawardaya terkait kasus penyebaran hoax alias berita bohong soal kerusuhan 22 Mei 2019. Polri menyebut cuitan tersebut telah menimbulkan keonaran.

"Cuitannya buat onar," kata Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul, Minggu (26/5/2019).

Kombes Rickynaldo mengatakan Mustofa ditangkap di kediamannya sekitar pukul 03.00 WIB tadi. Mustofa lalu dibawa ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, untuk diperiksa. Pemeriksaannya baru dimulai sekitar pukul 11.30 WIB.

"Ini lagi pemeriksaan. Jam 03.00 WIB dia ditangkap. Jam 04.00 WIB sahur, jam 05.00 WIB subuhan, tidur dulu, baru sekarang mulai periksa," jelas Kombes Rickynaldo.

Kombes Ricky menambahkan, Mustofa masih diperiksa. Sementara Mustofa dijerat Pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). (det/pik/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>