Ngaku Rugi Rp 2 T, Petani Demo Tolak Gula Impor

Selasa, 16 Oktober 2018  18:25

Ngaku Rugi Rp 2 T, Petani Demo Tolak Gula Impor

Jakarta (BM) - Petani gula yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) melakukan aksi demo menolak masuknya gula impor. Mereka mengaku rugi hingga Rp 2 triliun disebabkan gula yang tak laku di pasaran.

Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan pihaknya ingin pemerintah untuk menghentikan impor gula baik rafinasi maupun konsumsi. Pasalnya saat ini stok gula dalam negeri telah berlebih.

Imbasnya, gula petani dalam negeri tidak laku di pasaran dan membuat kerugian mencapai Rp 2 triliun.

Angka tersebut didapat dari kerugian biaya produksi sebesar Rp 10.600 hingga Rp 11.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga beli ganya Rp 9.700 per kg dengan begitu ada selisih harga mencapai Rp 2.000 per kg.

"Kerugian kami untuk tahun 2018 sebesar Rp 2 triliun. Itu dengan perhitungan kerugian petani itu Rp 2.000 per kg dikali 1 juta ton gula petani yang tidak laku," ungkap Soemitro di Monas, Selasa (15/10/2018).

Lebih lanjut, ia menjelaskan saat ini pasokan gula yang berlebih ada sebanyak 2,4 juta ton. Angka itu terdiri dari sisa stok 2017 sebanyak 1 juta ton, rembesan gula 2018 sebanyak 800 ribu ton, produksi gula konsumsi 2018 2,1 juta ton, impor gula konsumsi tahun 2018 sebanyak 1,2 juta ton.

Sehingga total stok gula sebanyak 5,1 juta ton. Sedangkan kebutuhan gula konsumsi hanya sebesar 2,7 juta ton.

 

Kecewa Pemerintah

Dalam kegiatan itu, para petani sempat melakukan aksi bagi-bagi gula gratis sebagai bentuk kekecewaan petani lantaran pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih impor gula.

Menurut salah satu petani, Dwi jumlah gula yang dibagikan mencapai 400 kilogram (kg).

Ia mengatakan, gula tersebut dibagikan di depan istana negara kepada pejalan kaki, pengendara mobil dan motor.

"Jam 10-an tadi kita bagi-bagi gula jumlahnya ada 400 kg. Itu ke pejalan kaki, pengendara motor, mobil," ungkap dia, Selasa (16/10/2018).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan alasan pembagian gula tersebut dilakukan sebagai aspirasi kekecewaan. Pasalnya, saat ini gula petani tidak laku di pasaran.

"Ini aspirasi petani karena nggak laku ini gula," sambung dia.

Sebagai informasi, saat ini pasokan gula dalam negeri berlimpah. Hal ini dikarenakan izin impor yang terus keluar.

 

Rembes ke Pasar

Salah satu isu yang diusung dalam demo ini adalah gula impor rembes ke pasar.

Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro menjelaskan gula rafinasi, yang selama ini diimpor, justru rembes ke pasar. Dia mencontohkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Menurutnya harga gula rafinasi yang rembes di pasar lebih murah, di bawah harga ecerat tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah Rp 12.500/kilogram (kg).

"Di Banjarmasin itu saya ketemu di pasar banyak sekali numpuk. Saya beli 50 kg itu Rp 510.000 artinya per kg cuma Rp 10.200, kan murah," terang Soemitro di kawasan Monas, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Dia berharap pemerintah memperhatikan pasokan gula impor rafinasi agar tak rembes ke pasar. Selain itu pasokan gula rafinasi impor juga perlu dikaji ulang agar tak berlebihan hingga menumpuk dan rembes ke pasar.

"Rafinasi itu buktinya berlebih kan sampai masuk ke pasar. Bilang yang baru terealisasi 1,5 juta dari kuota 3,6 juta lalu industri nggak teriak-teriak artinya masih banyak," kata Soemitro.

Dipantau di lokasi, unjuk rasa yang dilakukan APTRI dimulai sejak pukul 09.40 WIB. Kemudian, perwakilan sebanyak 10 orang memasuki istana negara sekitar pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan informasi, mereka akan bertemu dengan salah satu deputi dari Kantor Staf Presiden (KSP) untuk menyampaikan tuntutan tersebut.

Adapun, tuntutan yang disampaikan empat hal, yakni setop impor gula, membeli gula tani yang tidak laku, tindak tegas pelaku rembesan gula rafinasi ke pasar dan ganti menteri perdagangan.

Memasuki Istana Negara, 10 perwakilan tersebut memakai kaos #2018GantiMendag berlatar warna hitam. Hal itu dilakukan karena menganggap Mendag sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas impor gula.

"Ganti menteri perdagangan sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap banjirnya impor gula," kata Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (16/10/2018).

Sebagai informasi, gula petani tidak laku karena banyaknya impor gula rafinasi yang masuk dan rembes ke pasaran. Bahkan angka surplus gula mencapai 2,4 juta ton.

 

Produksi Nasional

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan izin impor gula sebanyak 1,1 juta ton. Izin impor diberikan kepada tiga anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), tujuh BUMN industri gula yakni tiga anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN), PTPN X, XI, dan XII, serta PT Gendhis Multi Manis (GMM).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mebeberkan alasan soal impor gula yang disepakati dalam rapat koordinator antar menteri. Alasan pertama adalah karena kualitas gula nasional belum bisa memenuhi kebutuhan gula industri.

"Ya kembali lagi kalau kita produksi di dalam negeri tidak bisa memenuhi ya apa yang harus dilakukan? Ya sekarang kalau kita bicara industri makanan dan minuman tertentu dia punya ICUMSA ( International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis). Maka ya karena kita tidak bisa memenuhi (kualitasnya), ya harus impor," kata dia di Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Ia menjelaskan gula yang ia impor merupakan jenis raw sugar atau gula mentah yang nantinya akan diolah di dalam negeri sebagai gula rafinansi kebutuhan industri.

"Impornya bukan impor gula kristal rafinasi. Tapi impor raw sugar yang diolah menjadi gula yang bisa dipergunakan sebagai bahan baku industri," jelas dia.

Selain kualitas, secara volume atau jumlah, produksi gula nasional juga dianggap belum memenuhi. Enggar menjelaskan mengapa Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan gula industri yang begitu tinggi.

"Bisa, tapi kalau gula mentah itu bisa menjadi bahan baku untuk gula kristal putih. Lah wong untuk gula kristal putihnya(gula konsumsi) aja kita nggak cukup (apalagi industri)," kata dia. (dtf/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>