Novel: Ada Informasi, Jenderal Terlibat

Kamis, 15 Juni 2017  19:59

Novel: Ada Informasi, Jenderal Terlibat
JAKARTA (BM) - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan buka suara mengenai kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Dalam sebuah wawancara kepada Time, Novel mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya.
 
"Begitu banyak korupsi untuk dilawan," kata Novel kepada Time. 
Saat diwawancara Time, Novel masih dalam proses penyembuhan terhadap matanya yang terkena siraman air keras. Sebuah pelindung mata terlihat terpasang di wajahnya untuk melindungi penglihatannya yang mulai membaik.
 
Novel menduga ada "orang kuat" yang menjadi dalang serangan itu. Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat.
 
"Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat," kata Novel.
"Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi informasi itu), sepertinya informasi itu benar," kata Novel.
 
Menanggapi informasi tersebut, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul menyatakan, seharusnya Novel Baswedan sebagai korban penyerangan air keras menyampaikan setiap informasi penting yang diketahuinya kepada penyidik Polda Metro Jaya yang menangani kasusnya.
 
Selain agar bisa ditindaklanjuti dan dikroscek kebenarannya, juga untuk menghindari penilaian pernyataan Novel itu sebuah tuduhan atau tudingan kepada pihak tertentu.
 
"Informasi-informasi yang dianggap penting oleh saudara Novel hendaknya disampaikan kepada penyidik, supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan," ujar Kombes Pol Martinus Sitompul.
 
"Karena informasi itu kan harus diuji, tidak dibiarkan, kalau diberikan kepada penyidik. Nanti kami akan teruskan, kami akan selidiki," kata dia.
 
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian sebelumnya mengatakan bahwa Polri berusaha keras untuk menangkap pelaku teror terhadap Novel Baswedan.
 
Bahkan, Tito menyebut ada kemungkinan keterlibatan Miryam S Haryani, anggota Komisi II DPR periode 2009-2014 yang saat ini terlibat kasus e-KTP.
 
Ia mengungkapkan, dalam menangani kasus penyiraman terhadap Novel, polisi menggunakan metode induktif berdasarkan olah TKP dan deduktif berdasarkan orang-orang yang berpotensi terlibat.
 
Tito menambahkan, dalam penggunaan metode deduktif tadi, sejauh ini polisi telah memeriksa dua orang, yakni Miryam dan Miko yang belakangan muncul melalui videonya di YouTube.
 
Sedangkan melalui metode induktif, polisi sudah memeriksa tiga orang, di antaranya Muhammad Lestaluhu, dan belum menemukan hasil yang sudah positif.
 
"Semenjak 11 April, Polri telah membentuk tim gabungan yang berasal dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri dan ini terus bekerja," ujar Tito.
 
Tanggapan KPK 
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif menyatakan KPK belum mendapatkan informasi yang rinci terkait pernyataan Novel Baswedan kepada Time bahwa ada dugaan keterlibatan jenderal polisi dalam kasus penyerangan dengan air keras terhadap dirinya.
 
"Kami belum mendapatkan informasi yang detail tentang itu," kata Laode saat di kantor KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/6).
 
Menurut Laode, komunikasi antara KPK dan Mabes Polri terjalin dengan baik. Komunikasi keduanya terkait keberlanjutan penanganan kasus penyerangan Novel pun terus berlanjut. Bahkan, pimpinan dari dua instansi penegak hukum itu akan bertemu pada pekan depan.
 
"Kayaknya Senin atau Selasa (pekan depan pertemuannya). Pak Kapolri juga sudah bertemu dengan Pak Agus kemarin saat buka puasa," ujarnya.
 
Terkait dugaan keterlibatan jenderal polisi, Laode untuk sementara ini belum dapat menilai ada konflik kepentingan di tubuh Polri dalam pengungkapan kasus penyerangan Novel. "Untuk sementara belum ada kami melihat itu," kata Laode.
 
Istana Enggan Komentar 
Pihak Istana Kepresidenan belum mau merespons perihal dugaan ada jenderal Polri yang terlibat penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.
 
Sekretaris Kabinet Pramono Anung, saat dicegat para pewarta Istana usai pelantikan Djarot Saiful Hidayat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Kamis (15/6/2017) pagi, mengaku tidak mengetahui berita itu. "Enggak tahu saya," ujar Pramono.
 
Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki juga tidak mau berkomentar soal dugaan itu. "Itu bukan (wewenang) saya. Tanya kepada juru bicara saja (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Saptopribowo)," ujar Teten saat dicegat para pewarta usai mengikuti acara yang sama.
 
Sementara itu, Johan Budi sendiri belum merespons pertanyaan para pewarta yang disampaikan lewat pesan singkat. (kom/rep/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>