Pantau Jaringan, Kapori Minta Polda Bentuk Satgas Antiteror

Selasa, 05 Juni 2018  17:34

Pantau Jaringan, Kapori Minta Polda Bentuk Satgas Antiteror

Jakarta (BM) - Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta seluruh Kepolisian Daerah membuat Satgas Antiteror untuk mendeteksi jaringan terorisme. Satgas Antiteror juga akan bekerja sama dengan TNI di daerah.

"Rekan Kapolda saya sudah perintahkan bentuk Satgas Antiteror yang di dalamnya ada unsur penyelidikan, penyidikan, penindakan, dan tim preventif maupun humanis," kata Tito dalam rapat koordinasi lintas sektoral di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (5/6/2018).

Tito mengaku telah meminta Densus 88 untuk memberikan data dan informasi jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang tidak aktif di daerah untuk diberikan kepada Kapolda. Hal itu agar jaringan yang tidak aktif ini tetap terpantau oleh jajaran polisi dan TNI di wilayah setempat.

"Kemudian masih ada juga di beberapa wilayah. Kita semua bekerja keras baik jajaran Polri dan TNI untuk mendeteksi dan menekan terutama jaringan JAD. Hampir di semua provinsi terdapat sel. Ini perlu diwaspadai. Ada sel aktif dan ada juga tidak aktif. Saya sudah memerintahkan Kepala Densus 88 untuk sel-sel tidak terlalu aktif namun potensial agar di-share kewilayahan atau Kapolda," kata Tito.

Tito menyebut data dari Densus 88 itu akan digunakan Polda dan TNI setempat melakukan monitor terhadap jaringan teroris yang tidak aktif. Hal itu untuk mencegah hal serupa yang terjadi seperti di Surabaya. Sementara Densus 88 tetap melakukan pemantauan terhadap jaringan terorisme yang aktif di daerah.

"Ini dimonitor kembali oleh Satgas Antiteror tingkat Polda bekerja sama dengan rekan-rekan jajaran TNI yang juga kita harapkan bisa membentuk satgas atau tim khusus yang memback-up itu sehingga semua jaringan yang sebetulnya sudah terpetakan betul-betul dapat termonitor oleh kita," imbuhnya.

"Pascaperistiwa di Mako Brimob sudah ada 96 tersangka ditangkap di seluruh Indonesia. 14 di antaranya tertembak mati pada saat penangkapan," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Selain itu, lanjut Tito, dalam beberapa hari terakhir Densus 88 Antiteror melakukan penangkapan terduga teroris di Universitas Riau dan di Lampung. Tito menyebut kelompok radikal memang berencana melakukan aksi teror di bulan Ramadan karena menganggap amaliyah yang dilakukan akan mendapat pahala.

"Ini adalah hari besar bagi umat Islam tapi kita perlu juga kewaspadaan karena kelompok-kelompok terorisme ini yang punya ideologi tersendiri itu justru menganggap bulan Ramadan itu adalah bulan amaliyah artinya kalau melakukan aksi di bulan Ramadan menurut mereka pahala lebih besar dibanding bulan bulan sebelumnya. Bukan justru diam pas bulan Ramadan," kata Tito.

Menurut Tito, hal itu berkaca pada beberapa peristiwa yakni bom Bali II dan bom Kedubes Australia. Tito memerintahkan jajarannya untuk terus memonitor jaringan teroris di berbagai daerah menjelang Lebaran.

"Beberapa peristiwa seperti bom Bali II, bom Kedubes Australia itu menyettingnya di bulan Ramadan," sambungnya.

Kerusuhan di area Mako Brimob terjadi pada Selasa (8/5). Setelah itu, terjadi beberapa peristiwa berkaitan dengan tindak pidana terorisme susulan. Pada Minggu (13/5) pagi, terjadi serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, disusul bom meledak di rusunawa di Sidoarjo, hingga penyerangan ke Mapolda Riau, Rabu (16/5).  (det/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>