Peringati Supersemar, Titiek: Ambil Sisi Positif Soeharto

Minggu, 11 Maret 2018  17:23

Peringati Supersemar, Titiek: Ambil Sisi Positif Soeharto

Peringatan Supersemar di TMII, pelajar SMP kompak berbaju wajah Soeharto

JAKARTA (BM) - Peringatan peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dilangsungkan di Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII), Jakarta, Minggu (11/3). Di depan pintu masuk terlihat beberapa spanduk berisikan foto Presiden RI ke-2, Soeharto.

Terlihat ratusan orang tua dan pelajar kompak mengenakan baju dengan foto Soeharto. Mereka berkumpul di depan Candi Bentar. Kaos tersebut bertuliskan Bapak Pembangunan Bangsa.

Nazwa (13), pelajar SMPN 25 Jakarta turut hadir mengenakan baju berwajah Pak Harto. Dia mengaku diminta gurunya untuk datang ke TMII. "Iya disuruh guru datang ke sini," ucap Nazwa di lokasi, Minggu (11/3/2018).

Disinggung wajah di kaos yang dikenakan, dia mengaku mengetahui sosok Presiden yang dijuluki Bapak Pembangunan. "Ini Presiden kedua. Bapak pembangunan," tutur Nazwa.

Untuk diketahui, dalam rangka mengenang Presiden kedua RI Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, Yayasan Damandiri bersama tujuh Yayasan yang didirikan HM Soeharto mengadakan serangkaian kegiatan bertajuk: "Bulan HM Soeharto".

Kegiatan yang sudah dimulai di Yogjakarta sejak 1 Maret 2018 itu akan berlanjut dengan kegiatan bakti sosial dan pentas seni budaya yang mengambil momentum peringatan Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar. Kegiatan tersebut dipusatkan di Panggung Candi Bentar, Kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pada momen peringatan supersemar tersebut, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menginginkan agar Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dihidupkan kembali sehingga kebijakan antarkepala negara berkesinambungan.

“Ternyata kita butuh GBHN, kalau tidak ada haluan, negara melenceng, setiap kepala negara tidak ada haluannya, mereka punya kebijakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu diperlukan GBHN,” ujar dia dalam acara puncak “Bulan HM Soeharto” di TMII, Jakarta, Minggu.

Putri keempat Soeharto itu menyebut selama masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia dapat melaksanakan pembangunan terarah dan terukur dengan adanya GBHN.

Dengan GBHN, menurut Titiek, pada masa kepemimpinan Presiden kedua itu situasi politik terkendali, ekonomi tumbuh, kebudayaan berkembang baik serta keamanan terjaga.

Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah meneruskan hal yang baik dalam kepemimpinan Soeharto dan mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali GBHN.

“Semoga pemerintah saat ini dan pemerintah yang akan datang bersedia meneruskan apa yang telah baik di kepemimpinan beliau, mencontoh dan menyelesaikan sesuai pada zamannya,” kata Titiek.

Mbak Titiek menuturkan, banyak hal-hal yang bisa dipetik dari sosok dan pemikiran ayahnya.  "Bapak selalu mengatakan Pancasila itu sudah mencakup semuanya, yang terbaik untuk bangsa kita. Kelihatannya, Pancasila sudah mulai luntur, tidak diajarkan di sekolah lagi. Padahal Pancasila buat benteng generasi muda," ucap Titiek seperti dilansir Liputan6.com.

Titiek berharap ajaran tersebut masih bisa diterapkan dan diajarkan kembali di sekolah. "Dengan mengerti Pancasila itu bisa membentengi dari narkoba, seks bebas. Jadi saya kira itu ajaran Pak Harto, Pancasila harus diajarkan lagi di sekolah-sekolah," ungkap Titiek.

Dia juga menyinggung stabilitas serta iklim politik di era Soeharto yang lebih terjaga dan terkendali. Titiek tak segan membanggakan zaman keemasan saat ayahnya memimpin Indonesia.

"Dalam masa kepemimpinan Bapak Soeharto, bangsa kita telah melaksanakan pembangunan yang terarah dan terukur dengan adanya GBHN. Situasi politik terkendali, ekonomi tumbuh, kebudayaan berkembang baik serta keamanan terjaga," kata Titiek.

Titiek berpesan agar pemerintah saat ini dan yang akan datang, tak segan meniru hal baik dari sosok Soeharto.

"Atau mencontoh dengan keadaan di zamannya," ucap Titiek.

"Kami memperingati apa yang sudah dibuat Pak Harto untuk bangsa ini. Jadi kami melakukan kegiatan sosial, ini ada khitanan massal 200 anak, seminar, di TMII lomba keluarga, di Yogyakarta operasi katarak di dua tempat," ujar Titiek Soeharto.

Dalam rangka mengenang Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, keluarga menggelar acara di Yogyakarta dan Jakarta. Keluarga bekerja sama dengan yayasan yang didirikan Soeharto juga mengadakan kegiatan penanaman 1.600 pohon sengon dan 2.500 tanaman produktif di DIY pada 2 Maret 2018. Pesta rakyat dan pembangunan desa lestari juga dilakukan di Bantul dan Gunung Kidul.

Untuk di Jakarta, digelar khitanan massal, pameran foto, lomba mewarnai dan kuliner nasional yang digelar di TMII.

"Saya mewakili keluarga besar HM Soeharto berbahagia dan terharu atas adanya rangkaian kegiatan inisiatif yayasan yang seluruhnya memiliki manfaat langsung kepada masyarakat," ucap Titiek.

Titiek menjelaskan, Ibu Tien selalu mendampingi ayahnya sepanjang hidupnya untuk negara Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Dia menyebut ayahnya sebagai pejuang sejati yang berhasil mendapat pengakuan dari dalam dan luar negeri.

"Demikian banyaknya program pembangunan yang telah menunjukkan hasil selama kepemimpinan Soeharto sehingga beliau diberi gelar Bapak Pembangunan Indonesia," kata Titiek.

Selain Titiek, hadir dalam acara tersebut putri bungsu Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto serta cucu-cucu Soeharto dan para pimpinan yayasan yang didirikan Soeharto. (mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>