Polisi Panggil Fauka \'Tim Mawar\', Menhan: Jangan Ungkit Lagi
Asep Adi Saputra
By: admin
12 Jun 2019 18:08
 
 

Jakarta (BM) Polisi akan memanggil Letkol (Purn) Fauka Noor Farid yang merupakan eks Tim Mawar. Pemanggilan itu karena Fauka disebut dalam berita acara pemeriksaan (BAP) M alias Kobra Hercules di kepolisian, yang merupakan tersangka peristiwa kerusuhan 22 Mei.

"Menurut rencana para penyidik, berdasarkan keterangan Saudara C alias Cobra Hercules, itu juga kita akan mendalami keterangan itu. Dan sesegera mungkin memanggil yang bersangkutan (Fauka) untuk dimintai keterangan," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).

Asep menuturkan pemeriksaan diperlukan untuk memperjelas soal apa yang dilakukan Fauka.

"Sehingga peran dari yang bersangkutan jelas dan bagaimana peran-peran yang lainnya," ujar Asep.

Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal dalam kesempatan sebelumnya mengatakan Fauka akan dimintai konfirmasi mengenai pengakuan Kobra Hercules itu. Namun apa pengakuan Kobra, Iqbal tidak menjabarkannya. Yang jelas, presumption of innocence tetap dikedepankan.

"Apakah benar atau tidak keterangan yang sudah dituangkan di BAP tersebut kami pasti akan memanggil Saudara F untuk dimintai keterangan, proses tetap berlanjut, asas praduga tak bersalah benar kami kedepankan," tutur Iqbal.

Nama Fauka Noor Farid sebelumnya muncul dalam aduan eks Komandan Tim Mawar Brigjen (Purn) Chairawan kepada Dewan Pers. Dalam aduannya terhadap majalah Tempo, Chairawan meminta majalah tersebut meminta maaf kepada dirinya dan Fauka Noor Farid.

Chairawan sendiri mengaku Fauka merupakan mantan anak buahnya saat dia masih aktif di Kopassus, TNI Angkatan Darat. Fauka juga merupakan mantan anggota Tim Mawar.

Mananggapi tercatutnya Tim Mawar di peristiwa kerusuhan 22 Mei, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu angkat bicara. Ia meminta Tim Mawar tidak lagi diungkit-ungkit dalam kerusuhan 22 Mei. Tim Mawar, katanya, sudah bubar dan tidak ada lagi.

"Nggak perlu lagi, Tim Mawar itu sudah selesai. Mereka udah kena sanksi, dan nggak ada lagi. Sudah dibekukan lagi. Jangan dibawa-bawa lagi. Itu itu terus," ucap Ryamizard kepada wartawan di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Pengungkitan Tim Mawar, kata Ryamizard, bisa membuat bingung prajurit Kopassus. Padahal, menurutnya, mereka tidak mengerti apapun soal tim yang dianggap bertanggung jawab soal penculikan aktivis 90-an.

"Tim Mawar itu jangan diungkit-ungkit lagi. Sudah, kasihan prajurit Kopassus itu. Dia nggak tahu apa-apa. Mungkin pas itu belum lahir," ujar Ryamizard.

Bagi Ryamizard, hal terpenting adalah menjamin keamanan bangsa Indonesia. Jangan ada kerusuhan yang mengakibatkan korban. "Jangan dibawa-bawa lagi, jadi membawa luka lama. Nggak baik. Ke depan kita ke arah lain. Bagaimana bangsa ini tidak ribut, tidak ada korban, tidak ada kerusuhan," ucap Ryamizard.

Hal senada disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, yang mengatakan tidak ada keterlibatan Tim Mawar dalam kerusuhan 22 Mei.

"Sebenarnya jangan bicara Tim Mawar lagi, karena Tim Mawar dulu. Mereka-mereka bagian-bagian dari Tim Mawar yang dulu. Hanya dikatakan 'oh Tim Mawar'. Tapi sesungguhnya dalam kerusuhan sekarang ini tidak ada Tim Mawar," ujar Moeldoko di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019).

Moeldoko tidak mengetahui secara pasti ada-tidaknya anggota eks Tim Mawar yang terlibat dalam kerusuhan. Ia menyerahkan pengusutan hal itu kepada polisi.

"Kalau perorangannya kita nggak tahu, nanti polisi yang lebih tahu dari hasil penyidikan," kata Moeldoko.

"Jangan lagi menyebut Tim Mawar, nanti merancukan situasi," imbuh Moeldoko.

Sebelumnya, eks Komandan Tim Mawar Mayjen (Purn) Chairawan menyayangkan pemilihan kata 'Tim Mawar' dalam berita majalah Tempo tentang peristiwa kerusuhan 22 Mei. Chairawan mengungkapkan, jika ada kecurigaan beberapa eks anggota tim yang pernah dipimpinnya dalam kejadian tersebut, jangan 'dipukul rata' seolah seluruh eks Tim Mawar terlibat.

"Nah Tim mawar kan sudah bubar. Itu kan menyudutkan berarti. Tahun 1999 sudah bubar. Kalaupun ada, itu kan personel, anggota. Nggak mungkin satu orang dibilang tim atau dua (orang) disebut tim. Tim itu banyak," ungkap Chairawan di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/6).

Sementara itu, majalah Tempo pun siap mengikuti mekanisme Dewan Pers terkait aduan tersebut.

"Prinsipnya, kami terbuka terhadap pelaporan. Karena UU mengatur setiap sengketa antara narasumber dengan media itu akan dimediasikan oleh Dewan Pers. Jadi sudah benar kalau pengadu pergi ke Dewan Pers. Nanti dalam selanjutnya kami mengikuti proses yang akan ditetapkan oleh Dewan Pers. Biasanya akan ada mediasi, dipertemukan dan seterusnya begitu. Itu yang dari Dewan Pers," ujar Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli kepada detikcom, Selasa (11/6).

Pria yang akrab disapa Azul itu mengatakan pihaknya terbuka atas pelaporan yang ditujukan kepada majalah Tempo. Namun dia menegaskan majalah Tempo selalu berupaya memegang teguh kaidah-kaidah jurnalistik dalam setiap pemberitaannya.

"Tapi tentu saja dalam bekerja jurnalistik kami memegang teguh kaidah-kaidah jurnalistik. Check and recheck, cover both side, konfirmasi kepada narasumber dan hal-hal prinsip seperti itu. Jadi silakan saja Dewan Pers yang akan mengeksaminasi kita, apakah sesuai dengan (kaidah jurnalistik) apa tidak. Tapi kami sudah bekerja semaksimal mungkin yang bisa kami lakukan," tutur Azul. (det/tit)


Create Account



Log In Your Account