Polri Buka Tabir di Balik Kerusuhan 21-22 Mei

Selasa, 11 Juni 2019  19:28

Polri Buka Tabir di Balik Kerusuhan 21-22 Mei

Jumpa pers Polri bersama TNI di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (11/6/2019)

Ungkap Penyandang Dana hingga Rencana Pembunuhan

Jakarta (BM) –  Polri akhirnya membeberkan hasil pemeriksaan para tersangka, terkait kerusuhan yang terjadi pada 21 dan 22 Mei lalu. Dalam jumpa pers Polri bersama TNI di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (11/6/2019), juga diputar sejumlah video yang berisi kesaksian tersangka makar.

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal menyebut, aksi menolak hasil penghitungan suara Pilpres 2019 itu terbagi menjadi dua segmen.

Iqbal menguraikan bahwa segmen pertama aksi terjadi pada Selasa (21/5) pukul 14.00 hingga 21.00. Aksi ini berjalan damai. Bahkan pihak keamanan memberi toleransi bahwa aksi bisa berlanjut hingga lebih dari pukul 18.00.

 “Karena momentum bulan Ramadan, meminta waktu berbuka puasa, maghrib, isya, sampai tarawih. Alhamdulillah tanpa sekat,” terangnya dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6).

“Korlap kembali berkoordinasi dan mengimbai masa agar kembali,” terangnya.

Sementara di aksi segmen kedua berbanding terbalik. Aksi ini dimulai pada pukul 22.30 secara tiba-tiba. Muncul 500 lebih massa di depan dan samping Gedung Bawaslu melakukan penyerangan dan perusakan.

“Bahkan petugas yang mengimbau diserang. Bukan hanya menggunakan bena kecil tapi juga benda mematikan,” sambungnya.

Iqbal menguraikan bahwa benda mematikan itu di antaranya adalah bom molotov, batu berukuran besar, petasan roket, pedang, hingga panah beracun.  “Massa didesain untuk rusuh untuk menyerang petugas. Segmen dua itu bergulir sampai pagi hari (22/5),” ujar Iqbal.

Di kesempatan tersebut, Polri mengungkap peran Kivlan Zen tersangka dugaan makar dan kepemilikan senjata api. Kivlan Zen disebut memesan senjata api, memberikan target pembunuhan sekaligus memberikan duit operasional.

"Dari keenam tersangka yang kami amankan ini dan kami lakukan pemeriksaan, kami tetapkan tersangka KZ dan HM," ujar Wadir Krimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Berikut peran Kivlan Zen yang dibeberkan Polri:

- Kivlan Zen diduga berperan memberikan perintah kepada tersangka HK alias I dan tersangka AZ untuk mencari eksekutor pembunuhan.

- Kivlan Zen memberikan uang sebesar Rp 150 juta ke HK alias I untuk membeli beberapa pucuk senjata api.

"Setelah mendapat empat senjata api pun, berdasarkan fakta yang kami dapatkan, tersangka KZ masih menyuruh tersangka HK mencari satu lagi senpi panjang lainnya karena senpi yang didapatkan dianggap belum memenuhi standar yang diberikan," kata Ade Ary.

- Kivlan Zen diduga memberikan target pembunuhan yang 4 tokoh termasuk pimpinan lembaga survei Charta Politika

- Kivlan Zen diduga memberikan uang Rp 5 juta kepada tersangka IR untuk melakukan pengintaian kepada target target khususnya target pimpinan lembaga survei

"Dari tangan KZ kami sita sebuah handphone yang dipakai berkomunikasi antara tersangka KZ dan dengan tersangka lainnya," sambung Ade Ary.       

 

Penyandang Dana

Polisi menyebut, telah menangkap Habil Marati (HM) terkait rencana pembunuhan terhadap 4 tokoh nasional. Habil Marati berperan sebagai pemberi uang kepada Kivlan Zen dan Iwan.

Habil Marati ditetapkan sebagai tersangka dan ditangkap di rumahnya di Jakarta Selatan pada Rabu (29/5). Uang yang diberikan Habil Marati ke Kivlan Zen adalah untuk pembelian senjata api.

"Tersangka HM berperan memberikan uang. Uang yang diterima tersangka KZ (Kivlan Zen) berasal dari HM, maksud dan tujuannya adalah untuk pembelian senjata api," kata Kasubdit I Dirtipidum Bareskrim Polri Kombes Daddy Hartadi di Kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Uang yang diserahkan Habil Marati ke Kivlan sebesar 15.000 SGD atau senilai Rp 150 juta sebagai dana operasional. Kombes Daddy mengatakan Kivlan Zen lalu mencari eksekutor dan memberi target 4 tokoh nasional.

"HM juga memberikan uang Rp 60 juta kepada tersangka HK alias I (Iwan) untuk biaya operasional dan pembelian senpi," jelasnya.

Berdasarkan BAP, uang Rp 60 juta yang diberikan Habil Marati kepada Iwan itu untuk operasional sebesar Rp 10 juta dan Rp 50 juta sisanya untuk unjuk rasa. Polisi menyita HP yang digunakan Habil Marati untuk berkomunikasi. Ada pula printout rekening bank yang disita.          

 

Pengakuan Iwan, Pembeli Senjata

Polisi membuka kesaksian tersangka makar bernama H Kurniawan alias Iwan. Iwan mengungkap peran Kivlan Zein yang juga jadi tersangka makar. Berikut kesaksian lengkap Iwan yang diputar melalui video:

Saya H Kurniawan, biasa dipanggil Iwan, domisili Cibinong, Bogor. Saya diamankan polisi tangagl 21 Mei pukul tiga belas nol nol terkait ujaran kebencian, kepemilikan senjata api, dan ada kaitannya dengan senior saya, jenderal saya yang saya hormati dan saya banggakan, yaitu bapak mayor jenderal Kivlan Zein.

Di mana pada bulan Maret, sekitar Maret, saya dan saudara Udin dipanggil Bapak Kivlan untuk ketemuan ke Kelapa Gading. Di mana dalam pertemuan tersebut saya diberi uang seratus lima puluh juta untuk pembelian alat, senjata, yaitu senjata laras pendek dua pucuk, dan laras panjang 2 pucuk.

Uang tersebut seratus lima puluh juta dalam bentuk dolar Singapur dan langsung saya tukarkan di money changer. Karena saya belum mendapatkan senjata yang dimaksud, saya dikejar-kejar dan ditagih oleh Bapak Kivlan Zein, dan saat ditangkap saya membawa satu pucuk senjata jenis revolver 38 magnum, dengan mengisi sekitar seratus butir, yang saya bawa memang untuk ke lokasi demo, yang tujuan saya adalah untuk apabila menemukan massa tandingan dan akan membahayakan anak buah saya, maka saya akan bertanggung jawab untuk mengamankan seluruh anak buah saya. Dan tanggal 21 itu adalah aksi pemanasan demo di KPU, cuma karena memang massanya belum ramai saya segera kembali ke pangkalan yaitu di Jalan Proklamasi Nomor 36.

Adapun senjata yang saya miliki itu saya dapatkkan dari seseorang ibu-ibu juga yang kebetulan juga masih keluarga besar TNI. Seharga, saya ganti, atau saya bawa dengan jaminan untuk beliau itu uang lima puluh juta, sedangkan senjata yang Mayer kaliber 22 dan Ladies Gun kaliber 22 yang saya dapatkan dari saudara Admil, yang Mayer saya percayakan kepada saudara Armi yang di sini Armi adalah sebagai pengawal, ajudan, sekaligus drivernya Bapak Kivlan Zein. Dan satu lagi yang Ladies Gun saya percayakan kepada saudara Udin untuk alat pengamanan pribadi selama melakukan aktivitas pemantauan dan pengamanan adapun sesuai TO yang diberikan bapak Kivlan Kepada saya dan saya sampaikan kepada Udin adalah Bapak Wiranto dan Bapak Luhut.

 

Kesaksian Tajudin yang Disuruh Kivlan Tembak Luhut-Wiranto-BG-Gories

Tersangka makar lain yang video testimoninya diputar oleh polisi adalah Tajudin alias Udin. Tajudin mengaku mendapat perintah untuk membunuh 4 pejabat negara.

Polisi bersama TNI menggelar jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (11/6/2019). Dalam jumpa pers itu, polisi memutar sejumlah video yang berisi kesaksian tersangka makar, salah satunya adalah Udin.

Udin bicara sambil berdiri. Dia mengakan kaus hitam dan putih. Wajahnya disensor. Berikut pengakuan lengkap Udin:

Nama Tajudin, tempat tanggal lahir Bogor 11 Januari 1979. Saya mendapatkan perintah dari Bapak Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen melalui Bapak Haji Kurniawan alias Iwan untuk menjadi eksekutor penembakan target atas nama: satu, Wiranto; dua, Luhut Pandjaitan; tiga, Budi Gunawan; empat, Gories Mere.

Saya diberikan uang tunai total 25 juta dari Bapak Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen melalui Haji Kurniawan alias Iwan. Kemudian rencana penembakan dengan senjata laras panjang kaliber 22 dan sejata laras pendek. Senjata tersebut saya peroleh dari Haji Kurniawan alias Iwan.

 

Testimoni Irfansyah

IR alias Irfansyah, tersangka salah satu tersangka perencana pembunuhan terhadap 4 tokoh nasional saat rusuh 22 Mei mengaku akan dijamin kehidupan keluarganya oleh Kivlan Zen jika berhasil membunuh bos Charta Politika, Yunarto Wijaya. Pengakuan Irfansyah ditayangkan polisi lewat video. Berikut pengakuan lengkap Irfansyah:

Selamat malam saya Irfansyah alamat kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pada bulan April sehabis pemilu 2 hari, saya ditelepon Armi untuk bertemu Pak Kivlan Zen di Masjid Pondok Indah, kebetulan waktu Armi nelepon, saya bersama Yusuf di Pos Peruri. Lalu keesokan harinya saya mengajak Yusuf untuk bertemu Pak Kivlan Zen ke Masjid Pondok Indah. Kita berangkat besok sekira jam 13.00 WIB mengendarai mobil Yusuf, Ertiga. Sampai di Pondok Indah kami parkir di lapangan parkir Masjid Pondok Indah dan menunggu Armi datang, kemudian Armi datang mengendarai motor, lalu kami duduk sambil minum kopi dan makan.

Nggak lama kemudian datang Pak Kivlan bersama Eka sopirnya dan Pak Kivlan salat asar sebentar, setelah menunggu Pak Kivlan salat asar, Armi manggil saya, saya masuk ke dalam mobil Pak Kivlan, karena Pak Kivlan di dalam mobil sendirian.

Lalu Pak Kivlan keluarkan HP dan menunjukkan alamat serta foto Pak Yunarto lembaga quick count, dan Pak Kivlan berkata pada saya coba kamu cek alamat ini, nanti kamu foto dan videokan. Siap saya bilang.

Lalu beliau berkata lagi, nanti saya kasih uang operasional Rp 5 juta untuk bensin, makan dan uang kendaraan. Lalu saya bilang, siap pak. Dan beliau berkata lagi, kalau nanti ada yang bisa eksekusi, nanti saya jamin anak istri serta liburan ke mana pun.

Lalu saya pun disuruh keluar dari mobil dan beliau perintahkan Eka ambil uang operasional Rp 5 juta, setelah terima Rp 5 juta saya dan Yusuf kembali pulang, dan Armi pun pulang dengan motornya, dan kami pulang naik mobil Yusuf.

Keesokan harinya kami langsung survei ke lokasi yang diperintahkan Pak Kivlan, lalu saya dan Yusuf menuju ke lokasi sekira jam 12 siang, sesampai di sana dengan HP Yusuf kami foto dan video alamat Pak Yunarto. Setelah itu dari HP Yusuf dikirim ke HP saya, dan saya kirim ke Armi, lalu dijawab mantap, setelah itu kembali pulang.

Setelah kami pulang, esok harinya Armi datang ke Pos Peruri dan saya tanya senjata kamu di mana. 'Oh iya saya gadai bang, kan itu untuk nutupi kontrakan dan kebutuhan rumah tangga. Kan pelurunya ada sama abang dua yang saya titipkan waktu gadai di Bogor'. 'oh iya Armi aku lupa'. Setelah itu Armi pun pulang.

Esok harinya sekira jam 12 siang saya dan Yusuf kembali lagi ke alamat tersebut untuk survei kedua, alamat yang kata Pak Kivlan itu rumah Pak Yunarto lalu jam 12 kami bertiga naik Ertiga milik Yusuf. Setelah itu kami foto dan video dan setelah itu seperti biasa Yusuf kirim foto ke saya, saya kirim ke Armi, tapi Armi tak pernah jawab lagi.

Lalu saya dan Yusuf kembali pulang dan sampai di Pos Peruri kami memutuskan mungkin ini sudah selesai tugas kita dan sisa uang operasional itu kami bagi-bagi, setelah itu kami pulang masing-masing.

Pada tanggal 21 Mei pukul 20.00 WIB, 19 Mei saya ditangkap polisi pakaian preman, dan sampai lah saya sekarang ini. Penutup sekian dan terima kasih.

 

Bantahan

Terpisah, Kuasa hukum Kivlan Zen, Muhammad Yuntri membantah pengakuan H Kurniawan alias Iwan soal rencana pembunuhan 4 pejabat nasional. Yuntri justru menyebut, Iwan hendak melapor rencana pembunuhan terhadap Kivlan.

"Tentang pengakuan Iwan, menurut Pak Kivlan pengakuan Iwan tuh begini. Dia (Iwan) datang ke Pak Kivlan, dia bilang isunya, 'Pak bapak ini mau dibunuh'. Skenarionya dari orang 4 itu, si A, si B, si C, si D, itu. 'Nah saya diperintahkan untuk melindungi bapak'. Kemudian ceritanya Iwan ini, 'Nah kalau gitu, kau di sini lah bekerja, ada sopir'," kata Yuntri, Selasa (11/6/2019).

"Beliau (Kivlan) ini kan rumah di Gunung Sindur, Bogor, kan masih banyak hutan, babi dan segala macam. 'Nah ini pak banyak ini kalau ini bahaya babi'. Bawa senjata, dibawalah dia. 'Ini bukan senjata untuk babi ini, ini peluru tikus, nggak bener kau ini'. gitu kan," sambungnya menirukan gaya bicara Kivlan ke Iwan.

Yuntri juga menjelaskan soal duit SGD 15 Ribu yang disebut polisi untuk mendanai perencanaan pembunuhan 4 pejabat nasional. Penuturannya, berdasarkan cerita Kivlan, uang itu justru diberikan untuk melakukan aksi memperingati supersemar.

"Sekitar bulan Maret itu beliau ini kan sangat anti komunis banget, jadi momuntem supersemar, 'Wan ini coba kau bikin momentum demo lah entah apa untuk momentum supersemar, anti PKI', Dikasihlah dana yang disebutkan itu 10 ribu dolar Singapura. Kemudian entah dilaksanakan tidak demonya, Iwan ini menghilang. ditanya kemana Iwan. Kemudian tiba-tiba kasus ini muncul seperti ini," katanya.

Yuntri dan kuasa hukum Kivlan lainnya berupaya menemui Iwan di tahanan. Namun kuasa hukum Kivlan mengaku tak diizinkan membesuk.

"Nggak tahu diframing, Iwan ini mengaku seperti itu. Pada saat waktu lalu sampai kemarin kita kan mau besuk Iwan, kita nggak boleh besuk Iwan, sama yang 5 orang itu. Jadi kalau seandainya konfrontasi segala macam kita mau tahu ada apa sebenarnya. Kondisi sebenarnya. Sementara kita dari kuasa hukum cerita dari Pak Kivlan seperti ini, kok Iwan lain. Malah sebaliknya yang terjadi. Tadinya Iwan mengatakan Pak Kivlan diisukan akan dibunuh oleh 4 orang itu, malah sekarang Pak Kivlan yang nyuruh 4 orang itu," kata Yuntri.

Iwan, kata Yuntri, menerima informasi kalau Kivlan hendak dibunuh oleh 4 pejabat nasional melalui BIN. Kemudian Iwan diminta pasang badan melindungi Kivlan. Namun, menurut Yuntri, rencana pembunuhan itu kini berbanding terbalik.

"Disuruh melalui BIN. BIN lah pokoknya, intelejen. Jadi sampailah ke telinga Iwan ini. Iwan ini dibisikkan dari yang lain untuk melindungi Pak Kivlan. Gitu ceritanya. Sekarang dibalik ceritanya, seolah Pak Kivlan nyuruh dia untuk bunuh 4 orang itu," katanya.

"Tapi kita mengkonfirmasi sama Iwan apa ceirta sebenarnya, kita kan besuk Iwan, Iwannya ndak bisa dibesuk di polisi. Kita kan juga ingin tahu karena klien kita kan sudah ditahan. Ditahan juga ada tahapannya. Digelar perkara dulu, barang bukti, sehingga yakin, makanya kita ingin uji, polisi jangan begitu, karena kan mereka kerja promoter, jadi jangan diframing terus melangkahi praduga tak bersalah Pak Kapolri dan Pak Polhukam," sambung Yuntri.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>