Presiden: Tangkap Semua Pelaku Penembakan di Papua!

Rabu, 05 Desember 2018  19:24

Presiden: Tangkap Semua Pelaku Penembakan di Papua!

OPM Pimpinan Egianus Kogoya Tantang Perang

Jakarta (BM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar aparat TNI-Polri menangkap seluruh pelaku penembakan pekerja di Trans Papua, dan menumpas sampai ke akar-akarnya.

"Saya juga telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri untuk mengejar dan menangkap seluruh pelaku tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan tersebut," kata Presiden Jokowi dalam jumpa pers di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).

"Kita akan tumpas mereka sampai akar-akarnya," tegasnya.

Jokowi menjelaskan, dia telah mendapat laporan terbaru dari Panglima TNI terkait penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua tersebut.

"Saya telah mendapatkan laporan terbaru dari Panglima TNI yang saat ini sudah berada di Papua dan Kapolri mengenai dugaan penyerangan dengan penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata di Papua yang telah mengakibatkan gugurnya para pekerja yang tengah bertugas membangun jalan Trans Papua," tutur Jokowi.

Jokowi lalu menceritakan bagaimana sulitnya membangun di Papua. "Saya mau menambahkan sedikit bahwa pembangunan di Papua sangat sulit sekali. Medannya sangat sulit. (Kondisi) geografisnya, cuacanya, ketinggian 3.000-4.000 meter di atas permukaan laut seperti yang kita lihat dari Wamena ke Mamugu 278 km, itu ketinggian di atas 3.000, membawa alat beratnya saja pakai helikopter, membawa aspalnya juga pakai helikopter," tutur Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).

Jokowi ingin masyarakat tahu tentang kesulitan pembangunan di Papua. Pembangunan di Papua, lanjut Jokowi, sangat berbeda dengan di Pulau Jawa.

"Pembangunan yang sangat sulit seperti itu yang harus diketahui oleh masyarakat. Sangat berbeda sekali dengan di Pulau Jawa. Di Papua, alamnya sangat sulit, kemudian ada sisi keamanan di titik tertentu, alamnya sangat sulit,," katanya.

Jokowi juga mengungkit soal keamanan di Papua. Dia menegaskan pembangunan di Papua tak akan berhenti.

"Keamanannya juga masih perlu perhatian, sehingga yang bekerja di sana betul-betul bertaruh nyawa. Dan sekali lagi ingin saya sampaikan bahwa pembangunan Trans Papua tetap terus dijalankan, diteruskan. Tidak akan berhenti," tegas Jokowi.

 

Tantang Perang

Sementara itu, juru bicara kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), Sebby Sambom mengatakan, Panglima Daerah Militer Makodap III Ndugama Organisasi Papua Merdeka (OPM) Pimpinan Egianus Kogoya mengaku bertanggungjawab atas penyerangan yang menewaskan puluhan pekerja jembatan di Distrik Mbua.

Menurutnya, pihaknya tidak akan berperang melawan warga sipil, akan tetapi sasarannya jelas yakni TNI/Polri. "Kami tidak akan berperang melawan warga sipil yang tidak seimbang dan sepadan.

Untuk itu kami imbau kepada pihak TNI/Polri Kolonial Indonesia, berperanglah secara gentleman dan bertanggung jawab menjunjung tinggi hukum humanisme Internasional," kata Sebby yang menyampaikan keterangan Egianus Kogoya, dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (5/12/2018).

Ia pun mengklaim, aparat TNI/Polri telah melancarkan serangan udara saat melakukan evakuasi para korban.

"Mereka melancarkan serangan udara sampai dengan sore ini dengan menggunakan peralatan perang yang canggih dan bahan peledak daya besar. Beberapa rumah jadi korban serangan ini dan warga sipil dan anggota TPNPB juga menjadi korban. Namun, wilayah Mbua besar jadi kami secara komando belum identifikasi korban," sambungnya.

Oleh karena itu, kata Sebby, pihaknya meminta kepada TNI/Polri agar tidak menyerang sembarang terhadap warga sipil.

OPM mengklaim, para pekerja yang mereka serang itu bukanlah warga sipil, melainkan prajurit TNI Batalion Zeni Tempur (Zipur) yang menyamar sebagai warga sipil dan dipekerjakan di sana.

“Karena kami tahu bahwa yang bekerja selama ini untuk jalan trans dan jembatan-jembatan yang ada sepanjang Jalan Habema Juguru Kenyam Batas Batu adalah murni anggota TNI (SIPUR [Batalion Zeni Tempur atau Zipur, red])," kata Juru Bicara OPM, Sebby Sanbom.

"Medan perang ada di Distrik Mbua sampai Habema, bukan Distrik Dal Yigi dan lainya. Kami berjuang bukan KKB, KKSB, dan lain-lain tetapi kami adalah pejuang sejati untuk kebebasan Republik West Papua. Kami tidak minta Jalan Trans dan pembangunan, namun solusi masalah Papua adalah Kemerdekaan dan Berdaulat sendiri sebagai Bangsa yang beradap," pungkasnya.

 

Evakuasi Jenazah

Tiga helikopter TNI sempat ditembaki kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat hendak mengevakuasi jenazah anggota Pos TNI Mbua, Serda Handoko. Baku tembak antara personel TNI-Polri dan KKB Papua pun tak terhindarkan.

Baku tembak terjadi saat tiga helikopter TNI tiba di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua, Rabu (5/12/2018). Karena ditembaki KKB, Tim Nanggala, yang merupakan gabungan TNI-Polri, langsung terlibat baku tembak di wilayah Gunung Kabo, yang juga merupakan TKP pembantaian para pekerja proyek Trans Papua.

"Begitu Tim Nanggala tiba dengan tiga unit helikopter ada tembakan dari arah puncak Kabo. Kemudian Tim Nanggala melakukan tembakan balasan dari helikopter. Satu unit helikopter jenis Bell baling-balingnya terkena tembakan dari kelompok KKB," ujar Kapolda Papua Irjen Martuani Sormin dalam keterangannya, Rabu (5/12).

Martuani melanjutkan, ketiga helikopter TNI itu sedang melakukan refueling dan mengevakuasi jenazah Serda Handoko ke Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, untuk selanjutnya dibawa ke Timika. Saat ini tim gabungan TNI-Polri dikabarkan tengah melakukan penyisiran ke arah puncak Kabo.

"Menurut info yang didapat, ada satu anggota dari Tim Belukar yang terkena tembakan pada tangan, dari kelompok KKB. Dan (anggota tertembak di tangan) sudah berada di Pos TNI Mbua," ujarnya.

"Tim Nanggala dan Tim Belukar sudah berada di sekitar Puncak Kabo dan sampai saat ini masih terjadi kontak tembak," tambahnya.

 

Kekuatan KKB

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut jumlah kekuatan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Pimpinan Egianus Kogoya, yang diduga sebagai pelaku penembakan pekerja di Trans Papua, tak lebih dari 50 orang. Jumlah senjata yang dimiliki kelompok tersebut sekitar 20 pucuk senjata api.

"Saat ini kita kirim tim gabungan Polri-TNI, dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam bergerak ke sana. Kekuatan mereka tidak banyak, lebih-kurang 30-50 orang dengan 20 pucuk," kata Tito di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (5/12/2018).

Tito menceritakan sedikit tentang kelompok Egianus Kogoya. Kelompok itu disebut sempat mengganggu Pilkada di wilayah Papua. Mereka juga memeras pemerintah daerah dan masyarakat sebelum berpindah ke Nduga.

"Tapi kelompok Egianus Kogoya ini bergeser berpindah d sekitaran Nduga... dan terakhir mereka bawa, dia lihat sasaran yang mudah adalah pekerja ini. Mereka pahlawan-pahlawan untuk Pembangunan Papua. Ini mereka tanpa belas kasihan bawa dan mereka lakukan pembunuhan," ujarnya.

Personel yang sudah diturunkan kurang-lebih 154 prajurit. Tito yakin personel TNI-Polri yang jumlahnya lebih besar bisa melumpuhkan KKB.

"Kekuatan yang kita kirim jauh lebih besar karena yakin kita sebentar lagi bisa kita kendalikan," ujarnya.

Lebih lanjut, Tito menjelaskan, untuk menyisir lokasi guna mengamankan sekaligus mencari KKB, para prajurit terkendala oleh medan yang berat. Medan lokasi yang berat dan luas juga memungkinkan para pemberontak sudah ada yang melarikan diri dari lokasi pembunuhan.

Meski demikian, Tito sudah menginstruksikan para personelnya untuk mengamankan lokasi pembangunan proyek di Trans Papua. Apalagi Presiden Jokowi sudah menginstruksikan pembangunan tetap jalan.

"Jadi pembangunan sesuai perintah Bapak Presiden harus jalan terus dan Polri-TNI saya sudah koordinasi dengan panglima beliau sedang di Papua bersama Wakapolri, kita akan jalankan terus, kita akan amankan. Kami lakukan koordinasi yang lebih intens pada jajaran Bapak Menteri PUPR, programnya so must go on, artinya jalan terus. Dia tidak akan pernah takut," kata Tito.

Sebelumnya, pihak TNI/Polri melaporkan, sebanyak 31 pekerja jembatan di jalur Trans-Papua di Distrik Yigi, Nduga, dibantai selepas perayaan proklamasi Papua Merdeka pada Ahad (2/12). Belakangan, jumlah yang meninggal diralat menjadi 19 orang.

Menurut keterangan pihak TNI, sebanyak 25 pekerja PT Istaka Karya tersebut digiring ke Gunung Kabo dan ditembaki. Dari jumlah itu, enam di antaranya berhasil melarikan diri. Selepas insiden tersebut, Pos TNI Distrik Mbua diserang dan seorang anggota TNI gugur.(det/viv/oke/tri/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>