Ratusan Akun Diblokir Google, Facebook, Youtube dan Twitter

Selasa, 15 Mei 2018  17:44

Ratusan Akun Diblokir Google, Facebook, Youtube dan Twitter

Menkominfo Rudiantara usai rapat dengan Facebook, Google,Youtube, dan Twitter.

Jakarta (BM) - Facebook, Google, Twitter, dan Telegram telah menyatakan komitmennya untuk ikut membasmi konten radikalisme dan terorisme di internet. Sejauh ini, ada ratusan konten yang sudah diblokir sejak kasus bom yang terjadi akhir pekan lalu.

Data-data tersebut diungkapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara usai melakukan pertemuan tertutup dengan perwakilan keempat perusahaan berbasis internet itu.

Rudiantara lebih lanjut merinci bahwa Telegram telah memblokir lebih 280 akun yang kedapatan memuat konten radikalisme dan terorisme.

"Lebih dari 280 (akun) yang langsung di-take down, karena Telegram ini kooperatif. Dulu banyak kaitannya masalah radikalisme terorisme sampai ditutup. Sekarang sangat kooperatif, jadi dari 280 itu sudah di-take down," ujar Rudiantara di gedung Kominfo, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Kemudian, Facebook dan Instagram yang merupakan satu perusahaan, menemukan 450 akun yang berisikan radikalisme dan terorisme, dimana 300 akun di antaranya sudah diblokir.

Lalu, YouTube yang merupakan situs berbagi video di bawah naungan Google, mengatakan ada 250 akun yang menyebarkan konten negatif. Dari laporan tersebut, 40% sudah dilakukan pemebersihan oleh YouTube.

Dan, terakhir Twitter mengungkapkan bahwa situs mikroblogging ini telah memblokir konten radikalisme dan terorisme sampai 60%-70% dari laporan yang diterimanya. Sementara sisanya, masih dalam proses.

"Ini yang kami lakukan pemantauan terus-menerus. Kerjasama platform, baik Facebook, Google YouTube, kemudian Twitter, dan Telegram, khususnya empat itu sangat membantu dalam hal ini," ucapnya.

"Karena (terorisme) ini jadi musuh bersama dan ke depannya kerja sama ini dapat ditingkatkan," kata Menkominfo menambahkan.

Mengenai ada akun yang belum diblokir, Rudiantara menjelaskan bahwa hal itu hanya masalah waktu. Sebab, aparat kepolisian masih menelusuri akun tersebut mempunyai jaringan di mana saja.

"Sehingga tidak dilakukan pemblokiran, tapi itu masalah waktu," tandasnya.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika merapatkan barisan dengan para penyelenggara layanan berbasis internet sebagai tindak lanjut untuk menghadang aksi terorisme.

Dalam rapat yang berlangsung di Kementerian Kominfo, Jakarta, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memanggil perwakilan dari Facebook, Google, Telegram, hingga Twitter.

"Dari hari Sabtu, sejak ada serangan bom terus-terusan, teman-teman sudah bekerja. Kemarin juga sudah rapat teknis, sekarang saya juga minta karena ingin menyampaikan kepada publik mengenai statusnya dan apa yang akan dilakukan," ujar Rudiantara di Gedung Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Disampaikan menteri, Facebook, Google, Telegram, hingga Twitter akan terus melakukan pemantauan. Bila menemukan konten negatif, khususnya terorisme dan radikalisme, maka langsung dilakukan penurunan konten (take down).

"Dari akun maupun konten, baik itu di media sosial, messenger, sampai file video sharing di YouTube," ucapnya melanjutkan.

Dari rapat kali ini, Kominfo menerima laporan bahwa ada ribuan akun yang terkonfirmasi, di mana ada yang sudah di-take down tapi ada juga yang belum.

"Pertanyaannya kenapa ada yang belum? Kami bekerjasama senantiasa dengan aparat penegak hukum, baik Polri maupun BNPT, karena teman-teman Polri juga tidak berhenti untuk misalnya akun memprovikasi, situs mengajak membuat bom, tetapi juga mengetahui jaringannya ke mana, sehingga tidak dilakukan pemblokiran, tapi itu masalah waktu," tuturnya.

Dari rapat kali ini, Menkominfo menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak tegas terhadap penyebaran konten-konten terorisme di dunia maya. "Pokoknya kita tegas. Tanpa tedeng aling-aling," kata Menkominfo.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>