Setahun Kasusnya Tak Terungkap, Novel Tunggu Janji Presiden

Rabu, 11 April 2018  17:23

Setahun Kasusnya Tak Terungkap, Novel Tunggu Janji Presiden

Massa menggelar aksi 'ulang tahun' pertama kasus Novel Baswedan di depan Istana Negara.

Jakarta (BM) – Kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan telah genap satu tahun. Namun, pihak kepolisian belum berhasil menangkap pelaku, bahkan hingga kini publik juga belum mendapatkan informasi perkembangan yang signifikan.

Atas keadaan ini, sejumlah elemen massa terus mendesak, agar kepolisian segera menuntaskan kasus tersebut. "Penanganan kasus penyerangan terhadap saya ini aneh kalau terjadi sampai sekian lama. Dari segala perspektif pun aneh," ujar Novel.

Keanehan yang disebut Novel adalah tentang pelaku yang sebenarnya telah diketahui banyak saksi. Namun, menurut Novel, polisi tak juga bergerak. "Pelaku dikenali kok, dilihat kok oleh banyak saksi. Masih nggak bisa diungkap, aneh. Bukti apa lagi yang mau dicari?" ujar Novel.

"Tapi saya bilang bahwa ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Saya menagih, nggak boleh dibiarkan," imbuh Novel.

Untuk itu, saat ini Novel hanya bisa menyandarkan harapan kepada Jokowi. Saat awal kejadian, Jokowi memang meminta agar kasus teror air keras itu diusut tuntas.

"Jadi sekarang kurang lebih saya sekarang menunggu janji Pak Presiden, benar atau tidak," ujar Novel.

Novel Baswedan mengaku telah melaporkan sosok jenderal yang diduga berada di balik teror air keras terhadap dirinya. Ia melaporkan sosok tersebut ke polisi dan Komnas HAM.

"Saya melaporkan tidak hanya ke kepolisian, saya juga melapor ke Komnas HAM. Saya kira itu yang ingin saya sampaikan," kata Novel di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Novel enggan menyebut siapa nama jenderal yang diduganya terlibat di balik aksi teror air keras setahun lalu itu. Ia juga tak menjelaskan apakah polisi dan Komnas HAM sudah mengantongi nama pelaku teror terhadap dirinya.

"Saya kira saya tidak pada posisi ingin menyebut di forum-forum publik. Saya menyebutkan di tempat di mana yang mesti disampaikan," ujarnya.

"Saya tidak tahu apakah kepolisian sudah mengantongi nama atau tidak, saya tidak tahu. Saya melaporkan ke Komnas HAM mengenai hal itu dan itu akan diproses lebih lanjut kita tunggu saja," sambung Novel.

Ia sempat mengungkapkan kecurigaannya ada oknum Polri yang terlibat dalam kasus ini. Novel pun pesimistis kasusnya dapat diungkap.

"Saya pernah menyampaikan bahwa ini terkait dengan orang-orang yang punya kekuasaan. Saya menduga bahwa ada oknum Polri yang terlibat di sini, saya menduga bahwa itu yang terjadi," ucap Novel.

Novel Baswedan kecewa teror air keras padanya tak terungkap meski telah setahun berlalu. Novel menyebut kasus itu dibiarkan dan bisa menjadi ancaman lain bagi pegawai KPK ke depannya.

"Ini nggak boleh dianggap sepele, nggak boleh dibiarkan. Saya juga kecewa dengan proses pengungkapan yang sampai sekarang belum juga diungkap. Saya bilang bukan belum ketemu pelakunya, tapi saya bicara kemungkinan dugaan saya ini memang belum mau diungkap. Saya kecewa sekali," kata Novel di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Novel khawatir teror serupa berulang pada pegawai KPK. Dia meminta agar pemerintah tidak abai dengan potensi teror-teror semacam itu.

"Kalau dibiarkan dan kejadian ini terus menerus jadi ancaman saya khawatir ke depan pegawai KPK takut atau menurun keberaniannya. Saya khawatir pelaku makin berani. Ini nggak boleh terjadi. Saat ini setahun penyerangan saya yang belum terungkap, saya ingin sampaikan negara tidak boleh abai," ujar Novel.

Kasus teror air keras terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017 lalu. Akibat serangan itu, Novel harus menjalani serangkaian operasi terhadap matanya.

Hingga saat ini belum diketahui siapa pelaku penyerangan tersebut. Pihak kepolisian juga menyebarkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap Novel.

 

Tanggapan Kepolisian

Polisi meminta Novel mengungkap sosok jenderal yang disebut Novel. "Katakan jenderal mana, buka," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen M Iqbal kepada wartawan di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (11/4/2018).

Iqbal mengatakan, pihaknya sangat terbuka menerima informasi dari masyarakat maupun Novel sendiri. Polisi akan sangat mengapresiasi jika Novel terbuka soal siapa sosok jenderal yang dicurigai ini.

"Itu sangat berharga, informasi apapun dari masyarakat, dari pelapor ke penyidik, buka. Kita akan ucapkan terima kasih," katanya.

Tim penyidik Polda Metro Jaya memang telah meminta keterangan dari Novel. Namun, dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) tersebut, Novel tidak pernah menyebutkan siapa jenderal yang dimaksud.

Polri sendiri tidak memaksakan Novel untuk mengungkap jenderal tersebut. Polri juga tidak akan memaksakan memeriksa Novel jika belum sembuh.

"Saya kira saudara NB kan masih dalam proses penyembuhan. Proses juga perawatan. Penyidik juga nggak boleh memaksa siapapun memberikan keterangan dengan tdk melihat kondisi kesehatan," tuturnya.

Iqbal menegaskan, pihaknya akan netral dan juga profesional andaikata Novel nantinya mengungkap ke penyidik siapa jenderal tersebut. Polisi, kata dia, akan menegakan hukum yang sama.

"Kita prinsip dalam penanganan kasus ini equality before the law, siapapun, nggak ada. Nggak ada yg kita tutupi," tuntasnya.

 

Lapor Komnas HAM

Penyidik KPK Novel Baswedan mengungkap alasan melaporkan teror air keras yang dialaminya ke Komnas HAM. Ia mengaku menolak diam atas serangan terhadap pegawai KPK.

"Ini bukan sekadar serangan terhadap diri saya pribadi, banyak sekali ancaman-ancaman pada pegawai KPK. Saya mengalami beberapa kali ancaman teror juga beberapa kali dan juga pegawai-pegawai lain alami hal serupa. Saya beberapa waktu lalu melaporkan hal itu ke Komnas HAM. Kenapa? Karena saya tidak mau diam. Saya menolak diam," kata Novel di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (11/4/2018).

Hal itu disampaikan Novel setelah mengikuti acara nonton bareng dan diskusi 'Menolak Diam' yang digelar wadah pegawai KPK untuk memperingati 1 tahun kasus teror air keras yang belum terungkap. Ia meminta pihak yang berkaitan dengan keamanan hingga presiden memberi perhatian atas kasus teror yang dialaminya dan pegawai KPK lain.

"Saya juga ingin ke depan ancaman-ancaman ini tidak bisa terus-menerus dibiarkan. Saya berharap semua elemen yang berhubungan dengan keamanan juga Bapak Presiden memberi perhatian untuk hal ini," ujarnya.

Ia menyatakan pegawai KPK yang mendapat teror harus berani menyampaikannya agar bisa diungkap. Novel menyebut para pegawai KPK tidak bekerja untuk kepentingan pribadi, melainkan bagi bangsa dan negara.

"Saya dan pegawai KPK lain bekerja bukan untuk pribadi. Kami bekerja untuk kepentingan pemberantasan korupsi. Untuk negara, untuk bela negara. Saya juga yakin Pak Saut (Wakil Ketua KPK Saut Situmorang) pernah mengalami. Mungkin hal itu juga saya kira kepada pimpinan lain," ucap Novel.

 

 

Unjuk Rasa

Aksi unjuk rasa digelar di Silang Monas yang menghadap ke Istana Negara. Unjuk rasa itu diadakan sebagai bentuk dukungan agar pemerintah segera mengambil langkah untuk penuntasan kasus penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan.

Dari pantauan, Rabu (11/4/2018), massa yang mengaku dari masyarakat umum itu membawa banner serta topeng berwajah Novel. Aksi itu dilakukan dalam rangka setahun teror pada penyidik KPK itu tak kunjung terungkap.

Tampak mereka membawa berbagai poster bertuliskan 'Jokowi Jangan Tunggu Polisi Nyerah!!' dan '365 Hari Jokowi Jangan Tunggu Polisi Nyerah!!'.

"Berantas korupsi. Ungkap kasus Novel, ungkap kasus Novel. Bentuk TGPF. Mata Novel mata keadilan," teriak orator dari pengeras suara di lokasi.

Beberapa di antara mereka ada pula yang membawa peralatan musik seperti gitar. Mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu dengan lirik sindiran terhadap pemerintah.

Selain berunjuk rasa, massa yang beraksi di Silang Monas yang berhadapan dengan Istana meluncurkan situs petisi online. Petisi itu berisi dukungan untuk mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) terkait teror penyiraman air keras ke Novel Baswedan.

"Petisi tersebut mendesak Presiden Joko Widodo segera membentuk TGPF kasus Novel," ucap salah satu orator melalui pengeras suara di lokasi, Rabu (11/4/2018).

Situs itu, tiktoknovel.com, berisi hitungan hari sejak teror pada Novel terjadi yaitu 11 April 2017. Hingga saat ini, sudah 365 hari berlalu dan pelaku teror tersebut belum diungkap.

Selain itu, tampak rapper Ignatius Rosoinaya Penyami atau yang lebih dikenal dengan nama Saykoji turut beraksi. Dia unjuk gigi dengan menyanyikan lagu 'Sebelah Mata' yang dipopulerkan band Efek Rumah Kaca, tapi Saykoji menyanyikannya dengan gaya rap.

"Saya berharap supaya ini bukan diangkat sama teman-teman aktivis saja, tapi diangkat sama teman-teman yang lain. Kita juga harus peduli untuk memberantas korupsi," kata Saykoji.

Tampak pula salah satu anggota tim advokasi Novel, Haris Azhar, yang menyampaikan orasinya. Dia menyoroti evaluasi kinerja kepolisian dalam mengungkap kasus Novel.

"Polisi itu berbicara melampaui apa yang mereka dapat dan lakukan," kata Haris.

Haris pun menyoroti bukti CCTV dan sketsa wajah yang telah didalami polisi. Haris menyebut ada sejumlah bukti CCTV yang belum diambil oleh polisi.

"Polisi sudah mengidentifikasi, tapi polisi belum mengambil. Dalam radius jarak tertentu itu ada CCTV yang belum diambil," ujar Haris.

"Kami menemukan informasi, yang paling mirip menurut saksi justru yang tidak dipublikasi. Yang dipublikasi sketsa yang tidak mendekati kemiripan," imbuh Haris. (det/tem/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>