Sidang Suap, Bupati Tasdi Ungkap Pemberian Uang Rp 100 Juta

Senin, 07 Januari 2019  19:35

Sidang Suap, Bupati Tasdi Ungkap Pemberian Uang Rp 100 Juta

Bupati Tasdi saat diwawancarai wartawan seusai sidang.

Semarang (BM) –  Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang, Senin (7/1/2019), Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi mengungkapkan penerimaan sejumlah uang dari berbagai pihak dalam kasus suap dan gratifikasi yang menjeratnya.

Tasdi mengaku menerima uang baik dari bawahannya, pengusaha, hingga anggota dewan. Salah satu pemberian uang yaitu dari calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. " Rp 100 juta dari Pak Ganjar Pranowo, dikasih melalui ajudan," kata Tasdi saat diperiksa di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (7/1/2019) siang.

Tasdi mengatakan, pemberian uang tersebut diberikan saat Ganjar menghadiri kegiatan deklarasi di Purbalingga. Sesaat sebelum kegiatan tersebut, uang itu diberikan oleh ajudan Ganjar. Pemberian uang dilakukan di kediaman Tasdi. "Dikasih bulan Mei, beliau datang ke Purbalingga acara deklarasi. Sebelum itu transit di rumah saya beri Rp 100 juta untuk operasional pemenangan (Pilkada Jateng)," tambahnya.

Deklarasi pemenangan Ganjar-Yasin di Purbalingga dilakukan pada 27 Maret 2018. Tasdi yang juga ketua DPC PDI-P menargetkan perolehan Ganjar-Yasin sebanyak 77,7 persen.

Deklarasi kala itu dihadiri ribuan warga setempat dan peserta partai koalisi. Selain Ganjar, anggota DPR Utut Adianto juga disebut memberi uang untuk gotong-royong sebanyak Rp 180 juta.

Sama halnya dengan Ganjar, pemberian uang dilakukan di kediaman pribadinya. "Semua keterangan saya ada di berita acara pemeriksaan," tambahnya.

Seusai sidang, Tasdi mengaku bahwa sebagian uang pemberian dari para pihak belum sempat digunakan untuk modal pemenangan partai. Termasuk uang pemberian dari Ganjar Pranowo. "Uangnya belum dipakai karena saya keburu ditangkap KPK. Uangnya dibawa KPK," tambahnya.

Uang tersebut ternyata tidak sampai ke bendahara partai. Tasdi mengaku belum sempat menyerahkan ke bendahara karena sudah ditangkap KPK pada 4 Juni 2018.

"Dari Pak Ganjar dibawa KPK, sebenarnya mau digunakan tanggal 10 untuk buka bersama," lanjut Tasdi setelah sidang berakhir.

Jaksa Penuntut Umum dari KPK, Kresno Anto Wibowo, mengatakan yang disebut uang gotong royong itu memang tidak diserahkan Tasdi ke bendahara. Uang juga diterima Tasdi dari berbagai dinas.

"Harusnya diserahkan kepada bendahara. Tapi ini kan pengakuan dia, berdasar saksi lain ada sejumlah uang dari kepala dinas," kata Kresno.

Dalam sidang pemeriksaan saksi, Utut ikut dihadirkan ke pengadilan namun tidak dengan Ganjar. Menurut Kresno setelah ini sudah tidak ada saksi lagi karena akan menuju agenda sidang tuntutan.

"Kenapa tidak diperiksa sebagai saksi silakan tanya ke penyidik. Penuntut umum hanya menyesuaikan berkas dari penyidik," ujarnya.

Tasdi mengaku uang suap yang dia terima dari pembangunan Purbalingga Islamic Center digunakan untuk kegiatan PDI Perjuangan Purbalingga yang saat itu dipimpinnya.

Hal tersebut dia sampaikan saat hadir sebagai saksi dari 4 terdakwa, Kepala ULP Pemkab Purbalingga Hadi Iswanto, dan pihak swasta yaitu Hamdani Kosen, Librata Nababan, dan Adirawinata Nababan.

Tasdi semula selain sebagai bupati juga menjabat ketua DPC PDIP Purbalingga. Namun setelah ditangkap KPK 4 Juni 2018 lalu, ia dipecat dari partai. Tasdi diduga menerima suap dari pembangunan Purbalingga Islamic Center sebesar Rp 500 juta.

Dalam kesaksiannya, Tasdi mengaku menyampaikan kepada Hadi butuh uang Rp 500 juta. Hadi kemudian melanjutkan pesan itu ke Librata.

"Saya sampaikan butuh Rp 500 juta untuk kepentingan partai," kata Tasdi di pengadilan Tipikor Semarang, Senin (17/9/2018).

Menurutnya, sebagai kader partai, dia punya komitmen. Dan untuk memenangkan Pilkada ia membutuhkan uang tersebut karena jika sampai kalah maka tidak akan mendapatkan rekomendasi untuk maju sebagai bupati di periode kedua.

"Saya bertanggungjawab memenangkan partai. Kalau tidak memenangkan partai, nanti tidak direkomendasi lagi," tandasnya.

Dari kebutuhan Tasdi Rp 500 juta, ia mengaku baru menerima Rp 315 juta dan uang dalam dolar yaitu 20 ribu USD. Suap tersebut dimaksudkan juga agar PT Sumber Bayak Kreasi memenangkan proyek Purbalingga Islamic Center tahun 2018.

Untuk diketahui Tasdi dan Hadi ditetapkan sebagai penerima suap sedangkan 3 pengusaha ditetapkan sebagai pemberi suap. Tasdi belum menjalani sidang sebagai terdakwa. (det/kom/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>