Soal Ketahanan Pangan, Buwas Ancam Spekulan

Senin, 24 September 2018  18:28

Soal Ketahanan Pangan, Buwas Ancam Spekulan

Budi Waseso

JAKARTA (BM) –   Direktur Utama Perum Badan Usaha Logistik (Bulog) Budi Waseso alias Buwas menegaskan bahwa ia tak akan menolerir siapapun yang hendak mempermainkan komoditas beras sehingga mengganggu harga di pasaran. Terlebih dia mengklaim punya jaringan kuat di lapangan selama sebelumnya menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

"Saya ini mantan Kabareskrim (Kepala Badan Reserse Kriminal), saya punya jaringan. Jangan main-main sama saya," kata Buwas dalam acara Roundtable Ketahanan Pangan Nasional yang diadakan Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2018.

Sebelum menjadi Dirut Perum Bulog, Buwas memang sebelumnya menjadi Kabareskrim dari 16 Januari 2015 hingga 7 September 2015 . Di tengah masa jabatan, lulusan Akademi Kepolisian 1984 ini diangkat menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional hingga hingga akhirnya pensiun dari Polri pada Februari 2018 dengan jabatan terakhir Komisaris Jenderal.

Buwas mengatakan dirinya sudah mengerti permainan beras di pasaran berdasarkan pengalamannya menangani kasus serupa saat menjadi aparat kepolisian. Hanya saja saat ini, dirinya tidak ingin menimbulkan kegaduhan dengan mengungkapnya terang-terangan. "Saya kan gak mau bikin rame. Tapi kalau saya ditantang, saya buka benar-benar," ujarnya.

Ancaman ini disampaikan Buwas di tengah polemik impor beras yang terjadi beberapa hari terakhir. Pemerintah memutuskan kuota impor tahun ini mencapai 2 juta ton pada April 2018 untuk menjaga stok dan mengendalikan harga di pasaran hingga akhir tahun. Akan tetapi, Buwas mengatakan stok beras cukup sampai Juli 2019 dan tak akan ada penambahan lagi.

Sebabnya, kata Buwas, persoalan harga beras di pasar tidak melulu disebabkan oleh berkurangnya suplai atau meningkatkan permintaan. "Memang berpengaruh tapi gak mutlak, begitu lo." Menurut dia, penyebab lain juga muncul dari adanya permainan dari para pelaku distribusi beras.

Salah satu contoh permainan yang terjadi yaitu adanya praktik merubah beras jenis medium menjadi premium dengan zat pemutih tertentu. Praktik ini tentunya bisa membuat terjadinya perubahan harga akhir di pasaran. "Jadi bongkar jaringan narkotika saja saya berhasil, apalagi bongkar ini yang sudah telanjang mata," kata Budi Waseso.

Budi Waseso memastikan, sampai bulan Juni 2019 sebenarnya Indonesia tidak perlu melakukan impor beras.

Saat ditanya bagaimana kondisi yang sebenarnya sehingga impor beras itu tidak perlu dilakukan sampai Juni 2019, Buwas pun meminta untuk menanyakan hal itu kepada para ahli karena Bulog menurutnya hanya sebagai pihak pelaksana.

"Tapi kan saya berikan masukan kalau kondisinya seperti ini loh, bisa dilihat di pelabuhan misalnya di Tanjung Priok, sisa yang 500 ribu ton, itu hari ini dan kemarin-kemarin sudah berdatangan," kata Buwas di kantor Kadin, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 24 September 2018.

Buwas juga menjelaskan bahwa di lapangan memang ada kendala terkait masalah pengangkutan dan penyimpanan beras impor tersebut. Meski demikian, sebagai pihak pelaksana, Bulog menurutnya tetap akan bertanggung jawab mengurus beras impor tersebut.

"Itu jadi masalah juga karena tidak bisa angkut secara serempak karena tempat sulit, transportasi sulit. Tapi begitu kapal bersandar dan barang datang itu kami tanggung jawab," kata Buwas.

Mengenai target serapan beras  2019 mendatang, Buwas menjelaskan bahwa pada prinsipnya, Bulog akan berusaha menyerap sebanyak mungkin produksi beras dalam negeri untuk cadangan beras pemerintah.

"Berapa banyaknya? Sebanyak-banyaknya bagi saya. Tapi juga disesuaikan dengan keuangan yang tersedia. Tapi sebenarnya kami sudah lebihi batas yang ada sebanyak 1-1,5 juta ton. Hari ini, kami sudah 2,7 juta ton," ujarnya.

Budi Waseso, mengatakan belum ada data valid soal produksi beras. Dia pernah berdiskusi dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, cuma belum dapat jawaban pasti soal data beras.

"Jadi baik itu dari Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Kemenko kita berpikir, sampai saat ini enggak ada data valid yang saya pegang untuk bekerja dengan benar. Saya meraba-raba dalam bekerja, tanya si A beda, si B beda," jelas Budi Waseso.

"Sebenarnya produksi kaya apa sih? Oke lah ada keterbatasan lahan, masalah cuaca. Tapi berapa hasilnya? Datanya di mana? Lahannya kecil tapi produksinya berapa? Ada di mana beras yang di panen dua bulan lalu? Di pedagang? Di pengepul? Di rumah-rumah? Apa di petani?" sambung pria yang biasa disapa Buwas itu.

Bila data produksi beras valid, maka Bulog bisa memiliki pedoman untuk memutuskan kebijakan. Ia pun berharap semua pihak bisa berdiskusi bersama menetapkan acuan data yang pasti.

Dengan begitu, kebijakan pemerintah tidak lagi diiringi dengan polemik terkait data beras.

"Karena saya tidak jago, jadi data penting untuk bekerja dengan teman-teman. Mesti dibantu masyarakat, petani. Jadi hari ini saya berusaha peran Bulog terhadap ketahanan pangan punya andil besar," kata Buwas. (rmo/tem/viv/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>