Tempat Hiburan Terlibat Jaringan Narkoba, Cabut Izinnya!

Senin, 12 Februari 2018  17:46

Tempat Hiburan Terlibat Jaringan Narkoba, Cabut Izinnya!

Penampakan barang bukti saat rilis kasus penyelundupan narkoba asal Malaysia, di Polda Metro Jaya, Senin (12/2).

Jakarta (BM) – Perang terhadap narkotika terus digaungkan, di tengah masih maraknya peredaran barang haram tersebut di Indonesia. Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta jajaran Polda meningkatkan razia narkotika terutama di tempat-tempat hiburan. Kapolri juga meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda) mencabut izin tempat hiburan bila terlibat dalam peredaran narkotika.

"Nanti saya minta seluruh kapolda (melakukan razia ke tempat) yang ada diduga tempat-tempat transaksi narkoba atau penggunaan narkoba, tempat hiburan, saya perintahkan untuk meningkatkan kegiatan razia. Nanti saya minta mungkin Pak Kabareskrim bisa membuat TR (telegram rahasia) untuk seluruh jajaran melakukan operasi dan memberikan laporannya," papar Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Operasi ini dinilai penting untuk menekan angka permintaan narkoba. Tapi di sisi lain, harus ada tindakan tegas juga kepada tempat-tempat hiburan yang menyediakan atau bahkan terlibat dalam peredaran narkotika.

"Tempat-tempat hiburan yang menyiapkan atau terlibat dalam peredaran narkoba--selain melakukan penegakan hukum--tentu kita minta pemerintah daerah untuk mencabut izinnya ini," tutur Tito.

Tito meminta Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono untuk mengeluarkan telegaram dalam rangka mengintensifkan razia narkoba di kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Semarang, Sulawesi Selatan dan tempat lainnya.

"Tanpa mengurangi privasi pengunjung tempat hiburan itu dan tidak mematikan tempat hinuran itu, tidak mencari-cari juga (kesalahan) kalau tempat hiburan itu memang baik," imbuhnya.

Agar penindakan itu tidak mengurangi privasi pengunjung dan juga tidak mengganggu kegiatan usaha tempat hiburan, maka perlu strategi dalam upaya tersebut. Sebelum melakukan razia, kata Tito, polisi perlu melakukan upaya penyelidikan dengan mengedepankan intelijen di tempat-tempat hiburan.

"Setelah itu lakukan penangkapan secara tertutup, di samping cek urine yang bisa membuat para pengunjung mikir kalau mau pakai tempat hiburan untuk pesta narkotik," ujar dia.

 

Bisnis Menggiurkan

Bisnis narkotika menjadi bisnis yang sangat menggiurkan. Maraknya peredaran narkotika tidak hanya menjadi masalah bagi Indonesia, akan tetapi di negara maju lainnya di seluruh belahan dunia.

"Narkotika ini bisnis besar, di Amerika juga jadi problem, di Eropa menjadi problem, di semua belahan dunia jadi problem," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Jaringan narkotika seakan tidak berhenti, meski para pelaku yang terlibat menyadari risiko yang sangat tinggi.

 

"Kenapa bisnis narkoba ini bisnis yang menggiurkan crime does pay, jadi kejahatan narkotika dianggap menguntungkan dibanding risikonya," tutur Tito.

Berbagai cara dilakukan jaringan untuk menyelundupkan narkotika ke Indonesia. Sejumlah modus mulai dari menggunakan barang-barang tertentu hingga modus body wraping sampai ditelan (swallow) pun dilakukan para pelaku.

"Mereka kembangkan modus operandi baru untuk mengelabui petugas. Kita lihat mulai tadinya di dalam tas, dimakan dalam perut banyak keungkap. Mereka cari modus baru, sekarang mesin cuci--ini modus baru--dianggapnya cuma mesin cuci lewat custom, dikelabui," imbuhnya.

Selain kejelian petugas, Polri akan mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi masuknya narkotika. Salah satunya dengan menyiagakan anjing pelacak.

"Termasuk anjing yang khusus untuk melacak narkotik dan tidak menutup kemungkinan mereka berusaha mengelabui aparat petugas hukum mulai dari kepolisian, Bea-Cukai dan instansi lain karena ini bisnis besar," tambahnya.

Seperti yang dilakukan jaringan tersangka Lim Toh Hing, WN Malaysia yang akhirnya ditembak mati polisi. Jaringan Hing diketahui sudah 6 kali menyelundupkan narkotika ke Indonesia.

Tiga kali di antaranya berhasil digagalkan. Dua kali digagalkan oleh aparat Polres Metro Jakarta Utara, dengan barang bukti terakhir 2 Kg sabu dan uang tunai Rp 2,7 miliar.

Terakhir, pada 7 Februari 2018, jaringan Hing juga kembali menyelundupkan 240 Kg sabu dalam mesin cuci. Namun dalam upaya kali ini terdeteksi tim Satgas Khusus Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya. Di bawah pimpinan Kombes Herry Heryawan dan Kombes Suwondo Nainggolan, jaringan pelaku ini dibekuk di pergudangan di kawasan Dadap, Kota Tangerang.

 

Market Point

Tim Satgas Khusus Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya berhasil mengungkap 240 kg sabu jaringan Malaysia. Pengungkapan ini patut mendapat acungan jempol, tapi di sisi lain menunjukkan ironi bahwa Indonesia menjadi sasaran pasar jaringan narkotika internasional.

"Pengungkapan ini menunjukkan di samping keberhasilan kita meningkat, (juga) menunjukkan juga bahwa Indonesia betul-betul menjadi market point, jadi destination (tujuan jaringan narkotika) bukan hanya transit point," kata Kapolri Jenderal HM Tito Karnavian kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Meningkatnya kelas menengah di Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor masih tingginya angka peredaran narkotika di Indonesia. Di sisi lain, Indonesia sebagai negara yang terdiri dari pulau-pulau memudahkan jaringan mengirimkan narkotika.

"Dan mungkin longgarnya wilayah kita mereka bisa masuk melalui laut, juga melalui udara, sehingga ini barang-barang bisa masuk ke Indonesia," tuturnya.

Kapolri menyampaikan apresiasinya kepada tim yang berhasil mengungkap penyelundupan sabu via mesin cuci ini. Tetapi di sisi lain, ia juga prihatin.

"Bahwa kita menjadi daerah tujuan dan ini bisa membahayakan generasi muda kita, bangsa kita," ucapnya.

 

Tembak Mati

Sebelumnya, Tim gabungan Satgas Khusus Bareskrim Polri dan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan penyelundupan 240 Kg sabu dan 30 ribu ekstasi. Barang haram tersebut diselundupkan di dalam mesin cuci.

"Tim sudah beberapa bulan melakukan penyelidikan di lapangan, sekaligus kerja sama dengan counter part kami kepolisian Malaysia juga dari Bea-Cukai dan lain-lain sehingga tim ini berhasil pada tanggal 8 Februari melakukan upaya paksa penindakan di Dadap, Tangerang," jelas Kapolri Jenderal Tito Karnavian kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Dalam kasus ini, tim menangkap tersangka Joni alias Marvin Tandiono berikut 12 mesin cuci yang digunakan untuk menyimpan 228 plastik berisi sabu dan 6 plastik berisi ekstasi. Barang bukti tersebut disita polisi di Kompleks Pergudangan Harapan Dadap Jaya No 36 Gedung E12 Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kota Tangerang pada tanggal 8 Februari 2018 lalu.

"Jaringan ini juga juga mengedarkan ekstasi. Modusnya relatif baru karena menggunakan mesin cuci, biasanya gunakan tas. Dulu pernah kami ungkap dengan modus piston sehingga tidak terdeteksi," kata Tito.

Dari penangkapan Joni ini, malam harinya tim menangkap tersangka Andu alias Aket. Dari hasil keterangan Andi, tim menangkap tersangka Lim Toh Hing alias Onglay alias Mono, WN Malaysia, di Bandara Soekarno-Hatta tanggal 9 Februari 2018.

"Sabtu, tanggal 10 Februari lalu, tersangka Lim Toh Hing ini waktu dikembangkan berusaha kabur, melawan maka ditindak tegas dan tewas dengan tembakan dalam perjalanan menuju ke rumah sakit," sambungnya.

Tito mengatakan Lim adalah pelaku utama jaringan ini. "Yang dibantu seorang tersangka yang masih menjadi narapidana di Lapas di Jakarta, namanya Indrawan alias Alun," ujarnya.

Tito menegaskan pihaknya tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas kepada bandar narkotika. "Apalagi jaringan besar apalagi kalau dari luar negeri yang bermain-main di Indonesia," ucapnya.

Para tersangka ini merupakan satu jaringan dengan jaringan yang pernah mengirimkan 2 Kg sabu dan diungkap Polres Metro Jakarta Utara pada 2 Januari 2018 lalu. Dari para tersangka, polisi juga saat itu menyita uang Rp 2,7 miliar, 2 unit mobil dan 8 buah mesin cuci. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>