TGPF Kasus Novel Periksa Irjen Pol Iriawan

Rabu, 10 Juli 2019  21:03

TGPF Kasus Novel Periksa Irjen Pol Iriawan

Irjen Pol M. Iqbal bersama Tim TGPF Kasus Novel di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/7).

JAKARTA (BM) - Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Hendardi, menuturkan, perwira Polri berpangkat jenderal bintang tiga yang diperiksa terkait kasus Novel Baswedan adalah mantan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochammad Iriawan.

Hendardi menyebutkan, Iriawan diperiksa dan ditanya terkait adakah keterlibatan jenderal polisi yang terlibat dalam penyerangan air keras terhadap Novel.

"Pak Iriawan kami periksa dan kami menggali tentang jenderal-jenderal lain yang disebut-sebut. Adakah kemungkinan keterlibatan jenderal-jenderal bintang lain, itu siapa, kalau ada petunjuk kasih ke kami (TGPF)," ujar Hendardi, Rabu (10/7/2019).

Ia menambahkan, TGPF tidak bisa menuduh seseorang tanpa alat bukti. Maka dari itu, guna menelisik apakah ada keterlibatan jenderal polisi lain, TGPF meminta petunjuk dari Iriawan.

"Kami enggak bisa menuduh orang, menyangkakan, dan menilai kalau enggak ada bukti. Maka, kami minta petunjuk. Nah, soal petunjuk itu diberikan atau tidak, nanti di dalam laporan yang akan disampaikan minggu depan akan dikemukakan," tuturnya.

Selain itu, seperti diungkapkan Hendardi, Iriawan juga diperiksa untuk mendalami tujuan ataupun alasannya bertemu Novel.

Seperti diketahui, Irwan pernah memperingatkan kepada Novel akan mendapat teror.

Adapun ia menegaskan, dalam pemeriksaan itu, Iriawan bukan dalam status terduga penyiraman air keras ke Novel. Iriawan hanya ditanya terkait adakah jenderal polisi lain yang diduga terlibat.

"Bukan dalam rangka kami duga, bukan. Tapi kan waktu itu dia sebagai kapolda mendatangi Novel dan sebelum kejadian juga pernah bertemu. Itu yang kami gali," kata Hendardi.

Hendardi menyebutkan, Iriawan kala itu pernah bertemu di rumah Novel, Polda Metro Jaya, dan rumah sakit. Hal itu kemudian yang digali oleh TGPF.

"Sempat bertemu Novel di rumahnya, pernah juga di Polda, dan rumah sakit. Kami periksa semuanya dalam rangka apa, kemudian saksinya ada enggak, ternyata ada dan kami periksa juga," katanya.

Sebelumnya, masa kerja TGPF dalam mengungkap penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan telah berakhir. Tim yang memiliki tenggat waktu selama enam bulan itu berakhir pada 7 Juli 2019.

Pada Selasa (9/7/2019), tim tersebut telah menyerahkan laporan hasil investigasi kepada Kapolri selaku pemberi mandat.

Setelah itu, pihak TGPF Novel Baswedan dan Polri mengadakan konferensi pers bersama.

 

Diungkap Minggu depan

Terpisah Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengaku belum mengetahui siapa jenderal bintang tiga yang dimaksud.

Pasalnya, laporan investigasi itu pun baru diserahkan kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Selasa (9/7/2019) malam, dan baru akan dipelajari.

"Kita kan belum tahu detilnya, makanya kemarin itu tim pakar menyerahkan hasilnya kepada Pak Kapolri, Pak Kapolri sedang mempelajari, kami sebagai pejabat utama belum tahu hasilnya itu," ujar Iqbal usai mengikuti peringatan Hari Bhayangkara ke-73 di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2019).

Mantan Wakapolda Jawa Timur itu pun menegaskan hasil atau laporan dari investigasi akan disampaikan secara menyeluruh dan lengkap kepada publik oleh TPF pada pekan depan.

"Nanti detilnya satu minggu ke depan akan disampaikan oleh tim pakar beserta kami," ucapnya.

Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal menyampaikan adanya temuan menarik dari tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam pengusutan kasus Novel Baswedan. Polri masih mempelajari temuan tim gabungan tersebut.

"Saya sampaikan kemarin ada beberapa temuan menarik, ada kemajuan. Temuan itu belum bisa kami sampaikan, karena baru dipelajari," kata Irjen Iqbal usai menghadiri upacara HUT Bhayangkara ke-73 di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2019).

Iqbal menjelaskan soal tim bentukan Kapolri itu terdiri dari para pakar. Mereka melakukan investigasi terkait kasus teror air keras Novel Baswedan selama 6 bulan.

"Tim pakar itu sudah selesai tugasnya dan hadap Pak Kapolri," katanya.

Tim tersebut juga telah menyampaikan beberapa rekomendasi kepada Kapolri. Ada beberapa temuan juga yang disampaikan oleh tim tersebut.

"Saya sudah sampaikan seminggu ke depan tim pakar sama kami Divisi Humas akan sampaikan secara detil apa temuan yang sudah diserahkan ke pak Kapolri," tuturnya.

Sebelumnya, anggota Tim Gabungan, Hendardi, menyampaikan adanya dugaan motif politik di balik teror air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

"Bagaimana hasilnya itu nanti minggu depan akan kami sampaikan, tapi yang kedua juga kami mencari tentu saja ini bukan perkara biasa, jadi pasti bukan perkara pembunuhan biasa di pinggir jalan atau apa. Tapi ini perkara yang melibatkan, saya kira orang yang juga bisa kita kategorikan sebagai ada latar belakang politik," kata Hendardi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (9/7/2019).

 

Jangan Spekulasi

Novel, selaku korban, berharap motif politik yang disebut tim gabungan itu bukan upaya untuk berspekulasi. "Saya pikir jangan sampai hanya terjadi upaya untuk berspekulasi, siapa aktor intelektual, dalang, koordinator, dan lain-lain tapi melupakan pelaku lapangan," kata Novel di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2019).

Novel menilai mengungkap kasus ini harus dimulai dengan menangkap eksekutor atau pelaku di lapangan. Dia mengaku tak mungkin kejahatan jalanan diungkap dari aktor intelektual lebih dulu.

"Mengungkap kejahatan jalanan begini haruslah dimulai dengan pelaku lapangannya. Tidak mungkin ada pengungkapan pelaku kejahatan kekerasan jalanan begini, tapi kemudian hanya dimulai dengan spekulasi aktor intelektual pihak mana pihak mana. Saya kira itu bukan investigasi ya. Itu hanya reka-reka atau duga-dugaan saja dan saya kira itu tidak tepat," ujar Novel.

Dia menyebut pengumuman hasil kerja tim gabungan pekan depan menjadi pertaruhan bagi orang-orang yang ada di dalam tim itu. Novel juga berharap teror terhadap pegawai KPK lainnya juga segera diungkap agar kejadian itu tidak terulang.

"Tentunya minggu depan rilis hasilnya itu seperti apa tentunya ini pertaruhan buat beliau-beliau. Saya berharap hasil yang ditemukan benar-benar signifikan," tuturnya.(det/tri/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>