Tokoh Ulama Dunia Akan Hadir di Bogor

Rabu, 11 Maret 2018  18:19

Tokoh Ulama Dunia Akan Hadir di Bogor

Din Syamsuddin dan Grand Syaikh Al-Azhar

JAKARTA (BM) – Sejumlah tokoh muslim dunia akan datang di acara Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1-3 Mei 2018 di Bogor, Jawa Barat. Hal itu diungkapkan Din Syamsuddin setelah melakukan pembicaraan dengan Grand Syaikh Al-Azhar, di Kairo.

Setelah dari Kairo, Din melanjutkan perjalanannya ke Abu Dhabi Uni Emirat Arab untuk bertemu Syaikh Dr. Abdullah bin Bayah, dalam rangka menyampaikan undangan dari Presiden RI Jokowi untuk menghadiri KTT di Bogor.

Kegiatan yang diadakan oleh kantor UKP-DKAAP ini merupakan bagian dari upaya mempromosikan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan Wasathiyat Islam ke dunia.

KTT Bogor tersebut akan dihadiri oleh sekitar 50 ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai dunia.

Dalam kesempatan pertemuan dengan Syaikh bin Bayah, Din Syamsuddin menjelaskan bahwa bangsa Indonesia khususnya umat Islam sudah mengamalkan prinsip Islam yang wasathy, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa dan bernegara.

"Sistem kenegaraan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 mencerminkan nilai-nilai Islam yang wasatiyah", imbuh Din sebagaimana rilis dari Edy Kuscahyanto yang diterima redaksi, Minggu (11/3).

Dalam pertemuan yang berlangsung akrab, Syaikh bin Bayah menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Presiden Indonesia atas undangan acara KTT Bogor yang akan datang.

Syaikh bin Bayah juga mengapresiasi umat Islam Indonesia, yang dikenal selalu menampilkan Islam sebagai agama kasih sayang dan perdamaian_(dinul rahmah wa salamah). Menurutnya, umat Islam Indonesia dapat menjadi contoh bagi umat Islam di negara lainnya.

Kiai Anizar Masyhadi yang ikut mendampingi kunjungan UKP-DKAAP menyebut Syaikh bin Bayah adalah tokoh ulama terkemuka di dunia dan juga ketua Forum Promosi Perdamaian di Masyarakat Muslim yang berada di Abu Dhabi.

Selain bertemu dengan Syaikh Abdulah bin Bayah, UKP juga bertemu dengan Sekjen Majelis Hukama Muslimin Syaikh Dr. Ali Rasyid An-Nu'aimy.

"Di tengah-tengah kepadatan acaranya, Syaikh Ali Nu'aimy berjanji akan hadir ke Indonesia bersama Grand Syaikh Al-Azhar," jelas Imam Mujaddid Rais yang juga turut mendampingi lawatan UKP.

Menurut rencana, KTT Bogor nanti dihadiri antara lain Imam Masjidil Haram Syaikh Saleh bin Abdullah bin Hamid, Imam Masjidil Aqso Syaikh Muhammad Ahmad Husein, Mufti Libanon Syaikh Dr. Abdulatif Daryan, Cendekiawan Muslim Kanada Dr. Jamal Badawi, Sekjen Konferensi Muslim Eropa Dr. Muhammad Bechari dari Perancis, Sekjen Liga Dunia Islam Dr. Muhammad Abdul Karim Al-'Isa, tokoh ulama Iran Syaikh Ayatullah Ali Taskhiri, Mufti Rusia Syaikh Ravil Ismagiloviich, dan Ketua Muslim Jepang Amin K. Tokomasu.

 

Duta Besar RI Bapak Husein Bagis ikut mendampingi kedua pertemuan tersebut, dan menjamu makan malam Din Syamsuddin beserta rombongan di Wisma Duta sekaligus dialog dan diskusi tentang keumatan dan kebangsaan yang dihadiri oleh pejabat KBRI dan masyarakat Indonesia.[wid]

 

Kepemimpinan Islam Ada di Indonesia

Terpisah, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar mengatakan, saat ini pusat kepemimpinan Islam tidak berada di Timur-Tengah atau di negara-negara Arab. Melainkan, saat ini pusat Islam ada di Indonesia.

"Sekarang ini dunia hampir sepakat, bahwa sekarang ini kepemimpinan Islam itu ada di Asia Tenggara dalam hal ini adalah Indonesia," kata Umar dalam dialog nasional Indonesia Maju di UMY, Minggu (11/3/2018).

Umar menjelaskan, pendapatnya ini merujuk sebuah indeks yang menyebutkan bahwa negara paling merdeka menjalankan syariat Islam adalah Indonesia. Bukan di negara-negara Timur-Tengah atau negara Arab.

"Yang paling sering pergi salat tarawih, pergi dari masjid ke masjid, perempuan di Indonesia bisa kuliah dari ujung ke ujung hanya di Indonesia. Jadi seolah-olah kiblat peradaban Islam sekarang ini berada di Indonesia," sebutnya.

Selanjutnya, Umar menerangkan sebuah riwayat hadis yang isinya menyebutkan bahwa Rasulullah rindu terhadap kekasihnya. Kekasihnya itu bukan para sahabat, melainkan umat muslim yang hidup jauh setelah masa beliau.

"Kekasihku (Rasulullah) ialah mereka yang akan hidup jauh dari tempat kelahiranku di sini dan mereka akan hidup jauh dari waktu aku sekarang (hidup)," ucap Umar membacakan hadis.

"Nah, yang paling jauh dari tanah Arab itu Indonesia. Jangan-jangan yang dirindukan nabi adalah kita. Bangsa yang paling mencintai Rasulullah insya Allah Indonesia," lanjutnya.

Di tanah Nusantara ini, sambung Umar, hampir 24 jam salawatan berupa puji-pujian terhadap Rasulullah didengungkan. Di tanah ini pula semua muslim dan muslimah diberikan kemerdekaan beribadah.

"Ada pakar yang mengatakan bahwa Suadi Arabia atau tanah Arab itu tugasnya memang melahirkan Islam. Tetapi estafet kepemimpinan berikutnya sejarah membuktikan bergeser. Islam lahir di Mekah, terus pindah ke Madinah," terangnya.

"Selesai Khulafa'ur Rasidin itu pindah lagi ke Syiria yaitu Bani Umayyah. Setelah itu pindah lagi ke Baghdad setelah kekuasaan diambil alih oleh Abbasiyah. Setelah itu ke Turki Usmani. Nah saat ini Indonesia," tutupnya.

 

Selamatkan Wajah Dunia Islam

KH Nasaruddin Umar mengatakan Indonesia menyelamatkan wajah Islam di dunia. Kerahaman umat Islam Indonesia dapat menepis anggapan kekerasan seperti konflik yang terjadi di Timur Tengah.

"Untung ada Indonesia, seandainya tidak ada Indonesia maka muka Islam ini mau dibawa ke mana. Pasti akan ada kesimpulan agama Islam adalah agama teroris, agama kekerasan," kata Nasaruddin Umar.

Umar menerangkan, saat ini Indonesia dianggap sebagai kebanggaan bagi negara-negara Islam. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi yang memberikan kemerdekaan penuh kepada warganya dalam beribadah.

"Dunia tidak bisa mengatakan Islam itu agama teroris. Buktinya ada sebuah negara yang namanya Indonesia, peringkat demokrasinya itu tidak kalah dengan yang lain. Jadi ini suatu bukti bahwa Islam itu bisa paralel dengan prinsip demokrasi, paralel dengan sistem keuangan modern," paparnya.

Kemudian, Indonesia juga pararel dengan kesetaraan gender. Kaum perempuan juga bisa aktif berkegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi beruntunglah para perempuan di Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan Timur-Tengah, yang mengisi pasar tradisional itu adalah laki-laki. Tapi sebaliknya di

Indonesia pasar tradisional itu didominasi perempuan," lanjutnya.

Merujuk kenyataan ini, lanjut Umar, dapat disimpulkan bahwa meski bukan negara Islam tetapi umat muslim di Indonesia diberikan kebebasan, keamanan, kenyamanan dan ketentraman. Terutama bagi kalangan muslimah yang diberikan kebebasan lebih di ruang-ruang publik.

"Yang paling penting lagi bahwa dunia Islam sekarang ini mencontoh banyak sekali apa yang ada di Indonesia. Kita memang bukan negara Islam, negara Pancasila. Tapi sekarang menjadi contoh negara negara Islam. Jadi ini suatu pertanda bahwa kiblat peradaban Islam ini memang sudah bergeser," tuturnya. (det/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>