Babak Baru Sidang DI

Rabu, 05 April 2017  23:57

Babak Baru Sidang DI

dahlan iskan

Proses persidangan kasus dugaan korupsi pelepasan aset PT Panca Wira usaha (PWU) Jatim memasuki babak baru. Majelis hakim Tipikor yang mengadili perkara itu, pada Selasa lalu, mulai memeriksa terdakwa Dahlan Iskan. Tahap pemeriksaan terdakwa dalam setiap persidangan tentulah menjadi kesempatan bagi para terdakwa untuk menyampaikan kebenaran menurut versi dia. Artinya, versi yang boleh jadi bertentangan dengan versi jaksa penuntut umum.

Ada beberapa fakta menarik yang terungkap dalam kesaksian yang diberikan terdakwa Dahlan Iskan kemarin. Kuasa hukum Dahlan Iskan, Agus Dwiwarsono, menilai pemeriksaan terhadap kliennya justru mematahkan semua dalil dakwaan jaksa pada persidangan lanjutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Surabaya, Selasa.

Salah satu fakta menarik misalnya soal pelepasan aset yang menjadi kunci permsalahan itu sendiri. Ternyata kewajiban pengumuman pelepasan aset yang diatur dalam pasal 11 ayat 4 dan 5 anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) perseroan serta pasal 88 UU PT disebutkan bahwa kewajiban mengumumkan pengalihan harta kekayaan berlaku untuk sebagian besar atau keseluruhan harta.

Pertanyaannya lalu, apakah aset di Tulungagung dan Kediri yang dilepaskan itu termasuk kategori sebagian besar atau keseluruhan harta kekayaan? Terdakwa dengan tegas menjawab tidak. Aset di Kediri dan Tulungagung itu hanya sebagian kecil aset, sehingga bukan kewajiban direksi.

Dari pihak jaksa penuntut umum sendiri, tahap pemeriksaan terdakwa ini dimanfaatkan untuk mengorek seputar hal teknis yang sebenarnya bukan tanggung jawab Dahlan sebagai direktur utama.  Misalnya, soal kewajiban mengumumkan pelepasan aset PT PWU melalui media massa. Menurut JPU, aturan tersebut tertuang dalam undang-undang perseroan terbatas (UU PT), tapi tidak dicantumkan dalam standar operational procedure (SOP) penjualan aset PT PWU.

Di pihak lain, Dahlan menjelaskan, bukan dia yang menyusun draft SOP. Yang membuat adalah pegawai senior PT PWU, yakni Suhardi. Dahlan sengaja tak melibatkan diri dalam pembuatan SOP. Sebagai seorang dengan latar belakang swasta murni, Dahlan tidak paham mengenai aturan-aturan BUMD.

Tahap persidangan dengan pemeriksaan terdakwa Dahlan Iskan ini memang sangat menentukan bagaimana kelak kiranya kasus ini berujung. Kesaksian terdakwa, yang di tahap penyidikan dan penuntutan selalu berada dalam subordinasi pihak penyidik, di tahap pemeriksaan terdakwa menjadi lebih berimbang. Jaksa tentu boleh meyakini dakwaan dan tuntutan mereka, demikian juga penasihat hukum akan habis-habisan melakukan pembelaan kliennya, tetapi gong terakhir tetap berada di ujung palu majelis hakim.

Beruntung kita memiliki majelis hakim yang dalam setiap keputusan mereka selalu diawali dengan komitmen: demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Frase itu sudah sangat jelas menggambarkan bahwa setiap vonis hakim tidak lepas dari hubungan vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa. Semoga Dahlan kelak mendapatkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa tersebut. Noor Ipansyah Iskandar

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>