Cegah Komunisme, Tumbuhkan Rasa Nasionalisme

Senin, 25 September 2017  17:54

Cegah Komunisme, Tumbuhkan Rasa Nasionalisme

Cover Film G30S/PKI

Oleh :Budi Pramono, S.H, M.

Dosen Unisda Lamongan

Peristiwa G 30 S PKI adalah salah satu fakta sejarah yang sangat traumatic dalam perjalanan bangsa Indoensia. Peristiwa tersebut tak bisa dilupakan begitu saja oleh semua elemen bangsa Indonesia. Fakta sejarah menyatakan idiologi komunis pernah lahir hidurp, dan berkembang di Indonesia. Dan idiologi “peyebar maut” tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan Indonesia. Lahirnya komunisme Indonesia tak  bisa dilepaskan dari komunisme dunia. Meskipun di banyak negara idiologi komunis sudah bangkrut, namun di beberapa negara lainnya, seperti Korea Utara, Vietnam masih kokoh menjadi idiologi negaranya.

Jika kita melihat sejarah komunisme dunia, kita menyaksikan betapapun indah janji mereka untuk menciptakan perdamaian dan keadilan di dunia. Teori Marx dan Engel ternyata bersimbah darah dan menebar maut. Dengan menjadikan teori Evolusi Darwin sebagai pembenar ilmiahnya. Idiologi komunisme tersebar begitu cepat dan memunculkan revolusi pertamanya di Rusia. Lebih lanjut, kita juga tahu bahwa kelaparan dan penindasan sebagai akibat dari kebijakan Lenin (Rusia) yang telah merenggut 5 juta nyawa rakyat yang tak berdosa. Fakta sejarah juga telah membuktikan kepada kita semua bahwa (idiologi) komunisme adalah idiologi yang paling berdarah di dunia.

Dan idiologi berdarah tersebut hidup dan berkembang di Indonesia. Di mulai gerakan pemberontakan PKI Musa di Madiun tahun 1948 dan kemudian berlanjut puncaknya pada 30 September 1965, yang telah merenggut para jendral dan ratusan  rakyat yang tak berdosa. Fakta sejarah juga membuktikan, komunisme pernah menjadi partai besar dan menjadi pemenang Pemilu tahun 1955. Bahkan idiologi komunisme nyaris mengancam idiologi Negara (Pancasila) dan NKRI

Meskipun penggagas dan jutaan pengikut sebuah idiologi sudah mati, akan tetapi pemikiran dan idiologinya tetap bisa hidup dan bahkan tumbuh berkembang. Sebuah idiologi apapun akan tetap ada dan berkembang selama ada kehidupan manusia, termasuk idiologi komunis. Apalagi lahan untuk tumbuh kembangnya idiologi (komunis) sangat subur, karena –salah satunya- ada yang memberi pupuk. Salah satu lahan bagi tumbuh kembangnya idiologi komunis adalah kondisi ketimpang sosial-ekonomi masyarakat yang semakin melebar.

Apakah Indonesia dapat menjadi lahan subur bagi lahir atau bangkitnya idiologi komunisme? Jawabannya “dapat”. Indonesia dapat menjadi lahan subur bagi lahir dan bangkitnya idiologi komunisme, jika ketimpanagn sosial-ekonomi di masyarakat semakin melebar. Dan saat ini kondisi ketimpangan sosial-ekonomi Indonesia berada pada lampu kuning.

Laporan Oxfam Indonesia dan International NGO Forum on Indonesia Develop¬ment (lNFID) tahun 2017 menyebutkan ketimpangan sosial-ekonomi Indonesia sudah cukup memprihatinkan. Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan data; Tercatat kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Data lain sebagaimana hasil survey lembaga keuanagan Swiss, Credit Suisse pada Januari 2017, menyebutkan, Ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk yang paling buruk di dunia. Menurut survei tersebut, satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Kondisi ini hanya lebih baik dibanding Rusia, India, dan Thailand. Jika dinaikkan menjadi 10 persen terkaya, penguasaannya mencapai 75,7 persen.

Peneliti dan pengamat ekonomi dari The Institute For Global Justice (IGJ) Salamudin Daeng, mengungkapkan, kepemilikan lahan secara besar-besaran ini dilindungi Undang-Undang No 25 Tahun 2007. Menurutnya, sejak 2007 para pemilik modal diperbolehkan menguasai lahan paling lama 95 tahun. Ditambahkannya, hingga kini 175 juta hektar atau setara 93 persen luas daratan di Indonesia dimiliki para pemodal swasta/asing. Salamudin melanjutkan, ketimpangan peruntukan dan penggunaan tanah meliputi masalah perubahan fungsi tanah yang berkembang dengan sangat cepat, sebagai akibat dari pembangunan yang bersifat sektoral. Masalah alih fungsi tanah pertanian ke non-pertanian berlangsung cepat. Modernisasi yang hampir selalu ditandai dengan pembangunan infrastruktur pendukungnya, menyebabkan semakin tergusurnya area-area persawahan di Indonesia. Tanah sudah menjadi barang komoditas yang menguntungkan para pemilik modal. Berarti ada segelintir elite, yaitu 0,2 persen penduduk, menguasai 56 persen aset nasional dalam bentuk kepemilikan tanah

Kondisi tersebut di atas, jika dibiarkan dan bahkan negara, dalam hal ini pemerintah dengan mudahnya memberikan previllage kepada orang-orang kaya, maka akan pada tahap awal akan melahirkan kecemburuan sosial. Dan jika kecemburuan sosial menyebar secara masif dan meluas, akan melahirkan suara-suara protes yang berujung pada gerakan sosial yang menentang ketidakadilan. Isu ketimpangan dan ketidakadilan, akan menjadi lahan subur bagi lahir dan bangkitnya idiologi komunis. Kalangan Marxist dan Marxian percaya bahwa perubahan akan terjadi, jika ada perlawanan terhadap kelompok dominan/mapan (baca: borjuis) melalui gerakan konfliktual. 

 

Tumbuhkan Rasa Nasionalisme Genuin

Salah satu cara untuk mencegah tumbuh kembangnya idiologi komunisme adalah dengan membangun rasa nasionalisme Indonesia. Nasionalisme yang genuin, bukan topeng. Rasa nasionalisme yang dilandasi oleh semangat cinta tanah air dan seluruh tumpah darah indonesia. Membangun semangat kebersamaan dan gotong royong meski hidup dalam perbedaan. Kemajemukan tidak menjadi halangan bagi siapapun dengan etnis, agama, suku, bangsa apapun untuk bersatu, sebagaimana spirit Persatuan Indonesia.

Nasionalisme dan idiologi ekonomi Indonesia yang berbasis pada kerakyatan sebgaimana yang dituangkan dalam pasal 33 UUD 1945 harus benar-benar mewujud dalam setiap kebijakan negara dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Atas kondisi tersebut, kita berharap seluruh komponen bangsa ini harus mengedepankan kepentingan Negara di atas segala-galanya, NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati yang tidak boleh digantikan dengan system manapun. Itulah yang mesti kita jaga bersama demi Indonesia yang berdaulat dan bermatabat. (*)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>