Cerita Pendek, Mata Si Topeng
Dosen sastra Inggris UTS, Yanti Rahayuningsih. (BM/IST)
By: harun
4 Sept 2019 14:58
 
 


MATA SI TOPENG

Ah, sampai juga aku disini. Ayah ibu aku pulang.

            “taksi non!” sapa seseorang dibelakangku.

            Kuperhatikan sosok didepanku itu. Ada yang ganjil. Entah apa, sejak awal aku menginjakkan kaki di negeri ini, sesuatu ada yang berubah. Setelah lima tahun aku tinggal di Amerika, aku merasa aneh dengan “orang-orang rumahku”. Ya, aku sadar. Mereka semua memakai topeng. Yang didepanku juga sama saja. Siluetbibir di topengya tersenyum, tapi mata itu berbicara lain. Tangis, itu yang terdengar dari matanya. Tanpa komentar aku masuk kedalam taksinya.

………..

            “Duh Gusti, selamet nduk?!” sambut ibuku begitu aku tiba di depan rumah. Aku memeluknya erat. Ya Allah, ini ibuku. Kangennya aku Bu. Kupandangi sosoknya lebih teliti. Ibuku, tetap hangat seperti dulu waktu dia menyusuiku. Wajahnya tetap tercantik dari semua wanita yang pernah aku kenal. Saat memandangnya aku benar-banar yakin kalau aku sudah pulang. 

            “kamu kok makin kurus to nduk.” Komentar ibuku seperti biasanya “mbok ya kamu makan teratur. Wajah cantik tapi kalau badannya kurus begitu, nanti susah nyari suami lho nduk”

            Yah, masalah ini lagi. Inilah satu-satunya alasan yang membuatku pulang. Ibu dan ayahku hamper tiap hari telepon hanya untuk menanyakan masalah yang sama. Masalah yang menurut ku sepele, namun sangat penting bagi mereka berdua. Hanya karena usiaku yang hampir mendekati tiga puluhan.

            “Abah kemana bu?” Tanya ku mengabaikan perkataan ibuku tadi.

            Sesaat ibu diam, lalu “oh, abahmu masih ada urusan kantor nduk” jawabnya datar. Tapi. Hei, aku melihatnya lagi. Topeng itu, ibu tiba-tiba memakai topeng yang sama dengan semua orang yang ada dinegeri ini. Bibir ibu tersenyum tapi mata itu. Mata itu.

            “Ibu, ada apa?” tanyaku.

            “Apa nduk?” senyum itu kembali menghiasi topengnya.

            “Kenapa ibu pakai topeng?” tanyaku heran.

            Sekarang malah ibu yang memandang tajam padaku.

            “topeng apa maksukmu nak? Ibu ndak pake apa-apa kok.” Balas Ibuku heran.

            Aku terdiam. Apa itu semua hanya halusinasi. Apa aku kurang waras. Tidak. Ada sesuatu yang aneh disini. Kenapa cuma aku yang bisa melihatnya.

………..

            “kapan kamu nikah nduk?” itulah sapaan pertama yang dilontarkan Abah padaku. Seperti itulah Abah, selalu keras dan tanpa basa basi dalam semua hal.

            “ndak tau Bah. Belum ada yang cocok” jawabku jujur.

            “kamu itu selalu begitu. Mbok ya dipikir, kamu itu usianya berapa. Wong wadon itu harus cepet nikah!” kata Abah ku keras.

            “Sudah-sudah. Anak baru datang kok sudah dimarahi to Bah. Mbok ya nanti dulu nasehatnya. Dia kan capek.” Kata ibuku sambil membawa kopi untuk Abah. Salah satu kebiasaan ibuku setiap malam. Dia selalu mengatakan padaku, wanita itu harus selalu ngelayanin suaminya. Sunguh mulia bu, tapi aku tak pernah setuju. Kini kupandangi wanita anggun yang sekarang duduk disampingku sambil menggengam tanganku.

            “jangan selalu memanjakanya! Lihat hasil didikanmu itu. Perempuan liar! Sudahlupa dia adat darahnya. Dia terlalu bebas. Sudah habis ikatan darahnya dimakan ajaran liberalis! Sekarang didik dia dengan benar Bu. Itu tugasmu!’ ucap Abah ku pedas

            Aku sudah biasa diteriaki Abahku. Tetapi tetap, kuping ini rasanya panas. Hatiku juga. Kurasakan ibu meremas tanganku.

            “Ya Abah, Ratri anak kita. Kita didik bersama.” Sahut ibuku sabar, namun

            “itu tugas mu” Sahut Abahku cepat.

            Aku hanya terdiam. Hal ini selalu terjadi. Saling lempar tanggung jawab. Dan Abah, sejak dulu selalu sewenang-wenang terhadapku maupun kepada ibuku. Walau dimata umum Abahku adalah contoh pemimpin yang ideal, seorang ulama dan juga pengusaha yang sukses. Namun dimataku Abah hanya sebuah identitas, tak lebih. Ibuku, dialah yang terpenting. Dan kini kulihat dia hanya diam. Topeng yang dikenakannya tersenyum samar. Tak jelas apa yang dirasakannya, namun tangan yang mencengkeramku mengatakan sesuatu. Apa bu?.

            “Cukup Abah. Ini hidup ku. Biarkan aku mengaturnya sendiri. Dan jangan menyalahkan Ibu!” kataku keras sambil beranjak pergi.

            “lihat itu anakmu!” teriak abahku sambil menunjuk-nunjukku yang berjalan ke kamar.

………

            Aku terpekur di dalam bus kota yang mengantarku bertemu kawanku. Kejadian semalam berulang-ulang berputar di otakku bagai rol film. Aku selalu tak mengerti kenapa ibuku selalu mematuhi Abahku. Alasan tradisi Adat yang selalu ibuku katakan padaku, sama sekali tak kupahami. Sungguh tak masuk akal bila menjadi wanita seperti itu. Kalau seperti itu, apa bedanya menjadi istri dengan menjadi budak.

            “Kasian Neng.” Lirih seseorang disebelah ku.

            Rupanya seorang pengemis. Kulihat tangan hilan sebelah. Tunggu ada yang aneh. Tangan yang sebelah itu masih ada. Tersembunyi rapi dibalik kaos longgar yang dipakainya. Tidak akan disadari jika tak teliti memperhatikan. Dan wajahnya. Topeng itu menghiasi wajahnya. Expresi yang tergurat disana sama dengan expresi orang baru ditinggal mati semua sanak familinya. Sungguh iba. Namun jika kau melihat matanya, mata itu milik orang yang bila temannya kalah ataupun kehilangan, dia akan tertawa terbahak-bahak seperti melihat sirkus. Ya, matanya mengerikan. Dan mata itulah yang menghentikan tanganku yang tengah merogoh kantung tasku.

………

            “kenapa kau tak pernah membalas semua Email yang kukirim padamu?” tanyaku pada wanita berpakain perlente yang duduk didepanku.

            “wah, maaf ya Rat, aku sibuk sekali sejak setahun yang lalu. Kau tahu sendiri lah, jadi ibu rumah tangga dan juga sekretaris sungguh berat. Maaf ya. Kutraktir deh” kata Rosa temanku sambil tersenyum.

            “kenapa kau tak meneruskan cita-cita mu dulu Ros?” tanyaku heran. Kupandangi sosokyang duduk didepan ku itu. Terlihat lebih Cantik dan anggun dalam gaun malamnya yang kelihatan mahal. Sungguh berbeda dengan Rosa, temanku lima tahun lalu yang selalu memakai jins dan kaus oblong. Seorang pejuang kebebasan. Rosa, wanita yang percaya bahwa pernikahan adalah cara pelegalan sebuah perbudakan wanita dan pemerintahan adalah nama lain dari kekaisaran Firaun maupun Hitler.

            “Sekarang semuanya berubah Rat.” Jawab temanku sambil meneguk minumanya dalam-dalam “kita harus belajar menerima kenyataan. Kau tau Rat, tak semuanya berjalan seperti apa yang kita inginkan. Asal kau tau saja, sulit bagiku Rat. Sulit. Tapi kau lihat sekarang. Aku bahagia Rat. Asal kita mampu berkompromi,kita sanggup bertahan Rat. Lihat Aku.” Tegasnya sambil tersenyum bahagia,semu.

            Saat aku termanggu mendengar jawabanya itulah aku melihat topeng yang dia kenakan semakin menebal. Walau sempat memudar waktu di tengah percakapan lagi, sekarang topeng itu membungkus wajahnya ketat. Dia yang selalu berkata “tangan kita lah yang bisa merubah nasib” kini duduk pasrah didepan ku. Benar kata Ibuku, semua orang akan berubah. Tidak. Ya tidak semua orang. Abah tetap sama. Aku tak wajib berubah, tekadku sambil menghela nafas.

            “Ma’af ya ada telepon.” Kata Rosa sambil tergesa-gesa mengangkat Hpnya yang sudah bergoyang musik disko.

            Aku mengangguk sekilas. Kuperhatikan teman ku itu, ada yang berubah. Kini topeng bahagia itu memudar. Ada ekspresi baru terpahat di wajah cantiknya, kesedihan. Walaupun begitu ada semacam sinar kebahagian dan semangat hidup yang muluap di rona kesedihannya. Ya, wajah itulah yang akan menghiasi wajah siti Nurbaya disaat terakhirnya bersama Samsul Bahri. Aneh.

            “Ada apa Ros?” tanyaku heran saat dia menutup teleponnya.

            “Ya.” Dengan gugup dia berpaling padaku.

            “Kamu tak apa-apa kan? Siapa tadi?” tanyaku sewajar mungkin.

            “tak ada yang penting.” Senyum itu kembali menghiasi topengnya. “hanya atasanku saja. Dia bilang akan dipindah tugaskan ke kantor di daerah lain”.

            “Oh, kau tak ikut?” tanyaku hati-hati.

            “Tidak.” Jawabnya cepat, seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Entah apa.

            Aku terdiam. Rosa sudah memberi pagar, tah bisa kurusak. Bagaimanapun dia temanku. Perhatianku teralih oleh beberapa orang berpakaian resmi yang sepertinya akan makan malam di restaurant ini. Kuperhatikan wajah mereka lebih teliti. Sepertinya semenjak aku menyadari bahwa hampir semua orang memakai topeng, kecuali anak-anak yang kebanyakan jarang mengenakan topeng, aku jadi semakin tertarik untuk memperhatikan setiap topeng yang terpasang disetiap wajah. Kusadari ada banyak macam topeng. Berwarna warni dan selalu berubah warna. Berubah seiring ekspresi yang sedang ditampilkan si topeng. Lucu kalau diperhatikan. Menarik seperti melihat sandiwara. Namun lama-lama aku merasa muak.

            “Kau kenal mereka?” tanyaku pada Rosa yang kemudian memerhatikan wajah mereka.

            “Oh mereka adalah para anggota partai. Oh ya, kau lihat yang berjanggut itu?”Tanyanya sambil menunjuk seorang lelaki paruh baya yang tampaknya bersahaja. “dia adalah salah satu kandidat Calon Presiden yang dijagoin lho.” Lanjut Rosa sambil tertawa kecil.

            Kulihat Calon Presiden lebik teliti. Dibawah sinar lampu yang agak remang, raut topeng di wajahnya menampilkan sosok pemimpin yang ramah, bijaksana dan baik hati. Tapi matanya memantulkan sosok yang berbeda. Seorang lelaki bertanduk berperut buncit. Dengan mata rentenir yang sedang merayu nasabahnya.

            “Aku pulang dulu ya.” Kataku sambil beranjak pergi meninggalkan Rosa yang belum sempat mengatakan apa-apa.Aku mual.

………

            “Pemerintahan kita memang tak becus Kak.” Cerocos seseorang pemuda bertampang kumal dengan sebuah jas almamater melingkupi tubuhnya. “mereka seperti tikus. Menggeregoti uang rakyat atas nama rakyat. Munafik. Saat mau Pemilu saja mereka sesumbar kebaikan. Sok suci kayak Gandhi. Rebutan hak paten BLT pembawa maut. Huuh Goblok! Saling tuduh kalau ada bencana. Membantu hanya kalau ada kamera yang ON. Bullshit semua! Gak ada yang bener. Kampret!” kobarnya berapi-api ke arahku.

            Aku hanya mengangguk dengan tersenyum sekilas. Pemuda ini hampir berbicara sepanjang jalan saat aku pulang. Seorang pemuda yang penuh semangat, pikirku sambil memperhatikan wajahnya yang tanpa topeng namun tertutup berewoknya yang lebat.

            “sudah sampai Kak. Aku turun dulu, merdeka!.” Pamitnya sambil berdiri tiba-tiba.

            Saat hendak turun dari bus kota tak sengaja kulihat dia menabrak seorang wanita tua yang hendak naik. Bukanya membantu sang nenek berdiri, dia malah berteriak kasar “Asu! Buta ya Mbah!” Aku tertegun. Tergopoh-gopoh aku berdiri membantu sang nenek. Pemuda itu sudah pergi.

……......

            Malam ini, didalam taksi yang aku naiki  aku befikir tentang percakapanku dan Abah tiga lima hari yang lalu. Apa yang harus aku pilih. Haah, bingung. Aku sayang Ibuku, sangat malah. Hal itulah yang membuatku tak bisa lari dari rumah meski kakiku meronta sekuat tenaga.

            Perhatianku teralihkan oleh suasana jalan yang ramai. Banyak mobil berhenti. Banyak warung-warung pinggir jalan dengan lampu lampion yang mengundang. Dan yang lebih aneh lagi, bertebaran gadis-gadis molek muda nan cantik berbusana yang selayaknya dikenakan di pantai musim panas daripada dikenakan di malam dingin seperti ini. Apa mereka tidak dingin, pikirku.

            “tempat apa ini Pak? Kok ramai?” tanyaku pada supir taksi didepanku.

            “Oh, ini namanya Jalan Simpang Kunang-kunang mbak.” Jelas sang Bapap sambil tertawa jenaka. “memang setiap malam ramai. Makanya jalan juga sering macet seperti ini.” Lanjutnya menjelaskan dengan wajah tersenyum.

            “sebenarnya tempat ini jual apa sih pak, kok ramai sekali?” tanyaku makin penasaran.

            “masa Mbak tak pernah tau?” tanyanya sambil melirik kaca pengemudi yang memantulkan diriku yang menggeleng. “ini sebenarnya tempat orang-orang gak bener Mbak. Orang yang ingin melupakan dinianya di siang hari. Warung itu bisa menyediakan minuman surga. Indah namun semu, kerena yang minum orang yang fana lagi bodoh. Orang-orang perlente itu berkeliaran mencari madu, melupakan bunga kering mereka dirumah. Gadis-gadis molek itu hanya mencari existansi akan tubuh ranum mereka yang semu karena mereka sendiri tak menyadari keindahannya. Sekarang apa Mbak mengerti tempat apa itu?” Tanya padaku.

            Aku hanya mengangguk. Yah  aku tahu tempat itu. Tempat orang-orang yang menderita. Kulihat wajah para pengunjung Simpang Kunang-kunang itu. Kebanyakan mereka tak bertopeng. Wajah mereka bahagia. Bahagia karena mereka bisa bebas dari kenyataan atau dari topeng? Aku juga tak tahu.

            Hei, aku seperti melihat wajah yang familiar, entah wajah siapa. Kuhentikan taksi sebentar. Sekarang aku bias melihatnya jelas. Sangat jelas sekali. Lelaki itu sedang mengandeng seorang gadis belasan nan molek. Dia tertawa terbahak-bahak dengan beberapa leleki lainnya, temannya mungkin. Matanya bersinar-sinar saat memandang gadis dipangkuanya. Nafsu. Aku terbiasa melihatnya memakai topeng berwajah bahagia, baik dan bijaksana saat dia berbicara dengan atasannya, bawahanya,temannya maupun murid-muridnya di masjid. Walau sering melihatnya memakai topeng aku tetap mengenal wajah aslinya yang kadang-kadang muncul didepanku dan di depan Ibuku. Abahku.

            Aku muntah.

……….

            “Ratri, ayo keluar Nduk. Acaranya sudah siap dimulai” Pinta Abahku didepan kamarku.

            Aku keluar dan mendapati Abahku yang tersenyum puas, tanpa topeng. Ibu berdiri disampingnya. Menangis.

            “Ibu bahagia Nduk” Kata Ibuku disela-sela tangis bahagianya. “kamu juga ya Nduk.” Pinta Ibuku sambil memelukku erat.

            “Ayo, calon suamimu sudah menunggu” ajak Abahku sambil mengandengku ke arah ruang tamu dimana Sang Suami Pilihan Abah sudah menunggu.

            “ya Abah.” Sahutku tersenyum.

            Kulihat wajahku sekilas di kaca lemari yang kulewati. Seorang wanita berkebaya menatapku. Topeng diwajahnya cantik sakali. Apalagi dengan senyum yang terulas di bibirnya membuat dia semakin anggun. Aku tak mengenalinya. Tapi tak apa. Aku akan belajar sedikit demi sedikit untuk menerima keberadaan sosok itu. Seperti kata Ibukudan Rosa. Kini aku mengerti. Aku tak bisa lari. Ibu menjerat leherku. Dan Abah menjerat leher Ibuku.

“Akankah kau akan menjerat leherku, calon suamiku” lirihku. Dan senyum di bibir itu menghias lagi. Entah mataku berkata apa. Aku tak tahu.

  

Terinspirasi dari Teori “Persona”Jung

Kos2an, 28 mei 2013

00.29 AM

Yanti Rahayuningsih, SS, MPd
Dosen Bahasa Inggris Jurusan Sastra Inggris
Universitas Teknologi Surabaya (UTS)


Create Account



Log In Your Account