Makna Penting Bhinneka Tunggal Ika dalam Demokrasi Indonesia
By: Wahyu
18 Des 2016 22:42
 
 
Bambang Soen, pengamat politik tinggal di Bojonegoro
 
"Berbeda-beda tetapi tetap satu". Itulah moto atau semboyan tanah air Indonesia, atau yang juga dikenal dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika. Hanya terdiri dari beberapa kata namun memiliki makna yang luar biasa besar bagi bangsa Indonesia. 
 
Setiap kata yang terkandung tentunya memiliki makna masing-masing, ‘bhinneka' berarti "beraneka ragam" namun juga dapat dikatakan "berbeda-beda. Kata neka sendiri, berarti "macam", kata ini berasal dari bahasa Sanskerta, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi aneka. Kata tunggal memiliki makna "satu", dan ika berarti "itu". 
 
Semboyan ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan berbagai budaya, suku, bahasa, agama, ras, namun dibalik keragaman tersebut, Indonesia tetap merupakan satu kesatuan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika dapat Anda temukan di dalam Garuda Pancasila, yang merupakan lambang resmi Negara Republik Indonesia. 
 
Seperti yang telah kita ketahui bersama, lambang Garuda berbentuk burung Garuda dimana posisi kepalanya menoleh ke arah kanan, memiliki perisai yang bentuknya hamper menyerupai jantung yang digantung dengan rantai di bagian pada leher burung Garuda. Dalam cengkeraman burung Garuda tersebut, tepat tertulis Semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia yang berbentuk burung Garuda ini dirancang oleh Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak, lambing tersebut kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno lalu penggunaannya sebagai lambang resmi negara Indonesia pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang berlangsung pada tanggal 11 Februari 1950. 
 
Pembahasan mengenai lambang negara ini terdapat dalam Pasal 36 A, yang berbunyi bahwa Lambang Negara Ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, serta Pasal 36 B tentang Lagu Kebangsaaan Indonesia, yaitu Indonesia Raya. Penambahan ini sebenarnya dimaksudkan untuk melengkapi ketentuan mengenai bendera dan bahasa negara, dengan tujuan untuk dapat mempererat dan memperkukuh kedudukan negara ditengah riuhnya pengaruh kehidupan global yang terus berkembang. Mengingat bahwa pengaruh tersebut dapat menjadi faktor yang mengancam kesatuan dan keutuhan sebuah bangsa.Dengan menegaskan lambang serta lagu kebangsaan Indonesia, hal tersebut meningkatkan kedaulatan dan menunjukkan identitas negara yang sesungguhnya pada lingkungan pergaulan internasional. 
 
Semboyan "berbeda-beda tetapi tetap satu" sebenarnya terdapat dalam sebuah karangan yang dinamakan buku Sutasoma dari Mpu Tantular yang dibuat sekitar abad ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit. Dalam karangan tersebut, makna dari Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan terhadap perbedaan akan kepercayaan serta kepercayaan di tengah masyarakat yang hidup pada zaman Majapahit. Pada hakikatnya, semboyan negara Indonesia ini digunakan untuk mendeskripsikan tentang persatuan dan kesatuan Bangsa yang memiliki banyak keragaman budaya, ras, serta suku bangsa. Namun secara keseluruhan, segala perbedaan tersebut merupakan bentuk persatuan bangsa dan negara Indonesia. Keragaman tersebut tidak berarti bahwa akan terjadi banyak konflik akibat berbagai perdebaaan akan adat istiadat yang saling bertolak belakang, akan tetapi justru dianggap sebagai pemersatu yang menjadi harta bangsa dan memperkaya kebudayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi setiap masyarakat Indonesia, semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat dijadikan sebagai dasar guna melaksanakan perwujudan terhadap kesatuan dan kerukuan bangsa Indonesia. Selayaknya, kita mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan cara menjalani kehidupan sengan saling menghormati dan menghargai setiap individu, terlepas dari setiap perbedaan yang ada, tidak saling membedakan bahkan mencaci karena hal ini hanyak akan menimbulkan konflik dan menjadi sumber pemecah kesatuan bangsa. 
 
Dalam demokrasi Indonesia, yang menginduk pada Pancasila dan berorientasi pada Undang-Undang Dasar 1945, serta mengacu pada Musyawarah Mufakat, nuansa kebebasan yang sudah diatur dan dilindungi norma-norma atau etika kebangsaan, telah melahirkan kembali berbagai perbedaan yang kongkrit sebagai bentuk apresiasi dari kedemokrasian tersebut, seperti partai-partai politik, organisasi massa, serta lembaga swadaya masyarakat. 
 
Maraknya keberadaan kelompok, perkumpulan atau organisasi-organisasi, baik yang bergerak di bidang politik, sosial kemasyarakatan ataupun yang lainnya, menunjukan bukti bahwa demokrasi di Indonesia telah mengalami banyak perubahan dan kemajuan. 
 
Yang menjadi pertanyaan, apakah perbedaan itu masih berpegang teguh pada hakekat Bhinneka Tunggal Ika, dan menjadi keragaman yang harmonis atau selaras dalam demokrasi Indonesia? Apakah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi benang merah atau rangkuman dari norma-norma atau etika kebangsaan bangsa Indonesia, hanya tinggal semboyan yang maknanya tidak lagi dipahami sebagai wejangan atau petuah untuk motivasi bagi kehidupan bangsa Indonesia sekarang dan masa depan?
 
 Demokrasi Indonesia atau Demokrasi Pancasila yang berazas musyawarah mufakat, yang secara harfiah menyimpan makna dari nilai-nilai nasionalisme dalam Bhinneka Tunggal Ika, yaitu kebersamaan yang diikat oleh rasa persaudaraan, yang menjadi manifestasi dari kokohnya persatuan serta kesatuan untuk satu tujuan, dimana setiap keputusan adalah hasil kesepakatan yang intensif dari kebersamaan, yang disaring secara jujur dan adil, dan dikembalikan dengan jujur dan adil pula untuk kebersamaan. 
 
Perbedaan kelompok, perbedaan pendapat dan pemikiran, yang disebut keragaman dalam demokrasi Indonesia, bisa menjadi penyakit mematikan yang merongrong bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhurnya, dan akan menjadi bumerang yang memalukan bagi paham serta kedemokrasiannya, jika perbedaan atau keragaman tersebut telah saling berbenturan dan tidak lagi memprioritaskan kepentingan serta tujuan bersama atas nama kebersamaan yang dilandasi oleh rasa persaudaraan, seperti yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika. 
Sejarah panjang penderitaan bangsa Indonesia pun akan terus berlarut, dan Indonesia hanya akan menjadi bangsa yang didominasi konflik internal di atas kemerdekaanya, jika ruang demokrasi yang begitu luas memberi kebebasan untuk berekspresi dan beraspirasi, telah menumbuhkan sikap egois, individualis, apatis, serta sikap mementingkan kelompok atau golongan. 
 
Sikap-sikap tersebut adalah pembunuh kebenaran makna demokrasi, yang tegas menyatakan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat, dan rakyatlah yang memegang kendali dalam sistem pemerintahan, yang kedudukannya berbentuk amanat. Sikap-sikap yang jelas bertentangan dengan hakekat Bhinneka Tunggal Ika, hanya akan membawa demokrasi Indonesia ke jurang kebablasan, dimana kedemokrasiannya bukan lagi media atau alat untuk menegakkan nilai-nilai nasionalisme yang menjadi subjek dari satu niat dan tujuan (visi dan misi) yang utuh. 
 
Tetapi, menjadi ajang perseteruan dan menjadi kendaraan untuk memperebutkan kursi kehormatan yang disebut kekuasaan. Dan Pancasila yang menjadi ruh bangsa Indonesia, yang seharusnya menjadi tolak ukur bagi pola pikir dan tindakan bangsa Indonesia untuk merealisasikan tujuan bersama dalam wadah demokrasi, hanya menjadi objek yang mandul dalam kedemokrasiannya. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah kesadaran dari setiap individunya untuk bisa mengevaluasi dan merevisi diri, serta berevolusi untuk sebuah perubahan besar di dalam diri individunya atau revolusi diri, yang disebut pembinaan moral atau akhlak. 
Karena moral atau akhlak, merupakan kerangka utama dalam demokrasi Indonesia atau Demokrasi Pancasila yang disistematikan oleh Bhinneka Tunggal Ika untuk menerapkan kejujuran dan keadilan dalam kebersamaan, demi menata dan membangun peradaban bangsa Indonesia dalam demokrasi yang berjiwa amanat: amanat dari amanat, amanat oleh amanat, amanat untuk amanat, tanpa harus dikotori oleh kebohongan. 
 
Sebab kebohongan adalah bentuk pengkhianatan yang tumbuh dari kemiskinan moral atau akhlak, yang menjadi titik awal dari kebobrokan atau kehancuran. Jangan pernah memandang perbedaan suku, agama, warna kulit, bentuk wajah, dan lain sebagainya. Setiap individu perlu memiliki kesadaran bahwa tanah air kita ini terdiri dari sekian ribu kepulauan yang tentunya hal tersebut akan melahirkan banyak perbedaan karena di setiap daerah pasti mempunyai suatu aturan dan norma tertentu. 
 
Maka dari itu, tanamkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam hati Anda, singkirkan dan buanglah jauh-jauh sikap egois yang selalu mengutamakan diri sendiri atau menomorsatukan asal daerahnya dan menganggap daerah lain tidak lebih penting daripada daerahnya. Dengan mengamalkan semboyan ini, maka negara Indonesia dapat menjadi suatu negara yang kuat dan kokoh oleh persatuan dan kesatuan, serta tidak akan mudah terpecah belah oleh pengaruh apapun yang berasal dari dalam maupun dari luar.(*)

Create Account



Log In Your Account