Peran Ibu untuk Generasi Milenial

Rabu, 17 Januari 2018  18:39

Peran Ibu untuk Generasi Milenial

Endah Hendarwati, SE.,M.Pd

Endah Hendarwati, SE.,M.Pd

Dekan FKIP UMSurabaya

 

Kemajuan suatu negara ditentukan oleh generasi muda. Karena mereka yang akan  memimpin negara dimasa depan, dan perlu disiapkan agar  memiliki jiwa spiritualis, kapasitas intelektualitas , memiliki daya saing, visioner  dan tentu melek media digital. Dari sini peran ibu bisa dimulai, dengan mendidik anak-anak agar bisa melek di era digital namun tidak acuh terhadap lingkungan sekitar. Serta dalam rangka menyiapkan generasi muda diperlukan pembangunan pendidikan dalam perspektif masa depan. Pada tanwir Asyiah persoalan-persoalan tersebut perlu disikapi dan diperhatikan dengan serius guna merumuskan peran perempuan dalam pendidikan era digital. Menjadi lebih bagus jika dihasilkan putusan yang dapat dijadikan pedoman dalam menyiapkan generasi muda, mengingat Aisyiah sebagai ortom dari Muhammadiyah, menjadi tempat berkumpulnya ibu-ibu dalam melakukan gerakan social keagamaan yang juga bertanggung jawab terhadap pendidikan anak.

 

Perubahan pendidikan dalam 4 aspek

 

Setidaknya ada empat aspek perubahan dalam pembangunan pendidikan yang menjadi titik tolak pergerakan Aisyiah, yaitu aspek social, budaya, ekonomi dan politik.  Pembangunan pendidikan dimensi sosial,budaya, ekonomi dan politik. Dimensi sosial, pendidikan melahirkan generasi terpelajar yang berperan dalam proses perubahan sosial dalam masyarakat. Pada satu sisi di era millennial ini, anak cenderung acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, namun pada sisi lain era digital ini juga bisa membangun kepedulian sesama dalam skala nasional, seperti gerakan pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari yang dalam waktu singkat menjadi berita dan kepedulian nasional beberapa tahun lalu.

  Dimensi budaya, pendidikan merupakan wahana untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos. Kehadiran digital setidaknya meningkatkan etos budaya membaca dan menulis, meskipun anak-anak muda lebih cenderung suka membaca tulisan instan yang disebar melalui medsos tanpa dipikir secara mendalam. Era digital juga mengaburkan antara berita asli dan palsu.  Imbasnya, anak-anak muda mudah tertarik pada tulisan yang terkadang hoax lebih-lebih menjerumuskan.

Dimensi ekonomi-pendidikan dapat menghasilkan generasi yang andal untuk menjadi subyek penggerak pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Era digital ini, banyak anak muda bisa menghasilkan jutaan rupiah dengan bermodal internet. Secara tidak langsung peran sekolah juga perlu bergeser, dari tempat belajar ekonomi konvensional, menjadi tempat belajar bagaiman membangun ekonomi era digital. Jika sekolah tidak mampu mengintegrasikan ekonomi dengan kemajuan teknologi, maka tidak salah jika sekolah tidak menjadi pilihan bagi anak-anak untuk belajar.

Pada dimensi politik, pendidikan dapat mengembangkan individu yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita bisa amati, sebagian  dari kebijakan juga dipengaruhi oleh netizen. Kritik dan masukan yang membangun bisa dilakukan dalam sekejap yang menjadi isu nasional. Proses demokrasi yang terjadi juga tidak bisa dilepaskan dari digital, bagaiman netizen mampu mempengaruhi proses demokrasi. Tentu empat aspek tersebut perlu diperhatikan oleh semua pihak, kaitannya bagaimana menyipkan generasi tangguh di era millennial.

Peran Aisyiah dalam pendidikan

Jika pendidikan yang dibebankan pada institusi formal saja, tentu tidak akan bisa  melahirkan generasi  millennial yang tangguh. Artinya saat ini masih diperlukan dukungan keluarga agar tujuan dari pembanguan pendidikan berhasil. Keluarga berperan  penting dalam mempengaruhi kehidupan generasi millennial. Keluarga menjadi wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtuanya. Akan tetapi cara membimbing generasi hari ini, berbeda dengan genarasi lalu. Khalil Gibran dalam syairnya mengatakan anakmu bukan anakmu, mereka anak kehidupan. Artinya pendidikan terhadap anak harus disesuaikan dengan zaman. Apa yang dikatakan diatas sangat relevan dengan era hari ini. Membimbing tidak bisa menggunakan cara-cara lama. Aisyiah sebagai bagian dari civil society, memiliki tugas yang berat, diantaranya memberikan penyadaran pentingnya melek digital bagi ibu. Karena perubahan yang begitu cepat tersebut, memaksa tugas ibu untuk memahami perubahan dan perkembangan dalam aspek pendidikan khususnya era digital. Sebagain ibu rumah tangga lahir di era lama, sedangkan anak-anak lahir di era millennial. Cara konvensional seperti menghukum dan menyalahkan sudah tidak bisa digunakan untuk mendidik anak-anak generasi millennial. Sebab, anak-anak generasi millennial hidup dalam lingkungan dimana kebebasan menjadi ideologi dominan. Konsekwensinya, secara psikologis anak tidak suka dengan kekangan dan prilaku protektif orang tua. 

Dekade yang lalu, ibu masih menjadi guru bagi anak-anak dalam keluarga. Ia menjadi sekolah pertama. Selain itu ibu juga memiliki tuga mengantar anak ke sekolah. Namun era digital ini telah merubah banyak struktur dalam masyarakat. Mcluhan seorang matematikawan mengatakan saat ini dinding telah benar-benar runtuh, anak bisa belajar tanpa dinding tanpa sekolah. Internet memainkan peranan penting. Oleh karena itu, tugas ibu bertambah, ia juga perlu melek internet agar bisa mengarahkan anak untuk melek internet dan memanfaatkannya untuk kegiatan positif. Selain itu pendidikan etika dan moral,tetap tidak boleh ditinggalkan. Seperti sopan santun, kejujuran dan kepedulian terhadap sesama. Pembelajaran kritis terhadap media perlu dilakukan, agar anak-anak tidak mudah tersinggung, tidak  mudah emosi dan kritis terhadap media.

19-21 Januari 2018, Aisyiah menghelat sebuah acara yang besar di Surabaya. Berbagai isu strategis dibicarakan, dari tema ekonomi sampai tema pendidikan. Sebagai salah satu organisasi perempuan terbesar di Indonesia, kiprah Aisyiah atas rumusan-rumasan sidang tanwir sudah dinantikan khalayak, terutama dalam hal pendidikan terhadap anak di Indonesia. Dari Aisyiyah diharapkan lahir generasi baru yang cerdas pikir dan hati. Selamat ber-Tanwir 1 Aisyiyah !

 

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>