Ramadan dan Filantropi Berbasis Keluarga

Senin, 29 Mei 2017  19:34

Ramadan dan Filantropi Berbasis Keluarga

Arin Setiyowati, MA

Oleh: Arin Setiyowati, MA*
 
Marhaban yaa Ramadhan, begitu spesialnya momen ramadhan hingga tanpa disadari setiap tahun fenomena ritual keagamaan ini punya dampak signifikan khususnya terhadap perekonomian bangsa.
 
Problem ekonomi
Seperti yang dirilis di salah satu media cetak pada Sabtu (27 Mei 2017), bertepatan dengan hari pertama umat muslim melaksanakan puasa (menahan hawa nafsu, lapar dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari). memaparkan tentang tren inflasi bulan Mei ditambah dengan berita tentang pantauan harga-harga bahan pokok di pasar yang masih terkendali kecuali beberapa komoditas, diantaranya bawang putih dan daging. Tentu ini suguhan yang perlu digarisbawahi oleh seluruh unit ekonomi terkecil kita yakni rumah tangga.
 
Ritual puasa seringnya hanya ditangkap dari segi ubudiahnya saja (sahur, tarawih, danbuka puasa). Padahal lebih dari itu, bahwa puasa mengajarkan pada umat muslim untuk belajar mengelola nafsu diri(baik yang bersifat materiil maupun non materiil),filantropi(berkasih sayang dengan berderma) dan satu lagi adalah memberdayakan. Hal ini bisa dilakukan secara harmonis jika masing-masing Muslim melaksanakan puasa dengan penuh tanggungjawab atasnama hamba Allah dan makhluk sosial.
 
Fenomena masyarakat sering menunjukan perilaku yang kontradiktif dengan logika di atas. Sebulan pelaksanaan puasa nyatanya masih sekedar menjadi ajang menyantap kuliner di atas keperluan, ajang berbelanja kebutuhan di luar kepentingan utama, sementara esensi puasa kabur seiring ramadhan pamitan berganti idul fitri. Karena kuantitas permintaanbarang yang berlebihan setiap akhir puasa berganti idul fitri sehingga menyisakan inflasi yang tajam dalam perekonomian.
 
Hal tersebut disebabkan oleh melonjaknya permintaan beberapakomoditas barang dan jasa baik sandang, pangan maupun transportasi. Tentu ini sebagai tren inflasi musiman yang seharusnya bisa dikendalikan oleh masing-masing pelaku ekonomi yakni masyarakat dan pemerintah. Masyarakat sebagai agregat konsumen yang perlu menekan daya konsumsi di bulan Puasa. Sementara pemerintah sebagai pengendali distribusi yang seharusnya mampu memberikan stimulus kebijakan sehingga bisa menekanlaju inflasi musiman ini. 
 
Modal Filantropisme
Sebagai Muslim, terdapat aturan main dalamberkonsumsi, yang mana lebih menitikberatkan nilai-nilai maslahah daripadapemenuhan utilities (kepuasan) belaka. Artinya, dalam berkonsumsi pertimbangannya bukan sekedar want maupun neednamun ada standart maslahah, yaituseberapa besar nilai kebermanfaatan untuk semua dari apa yang kita konsumsi.Sehingga harusnya di bulan puasa tidak menimbulkan tren inflasi, karena ada pengurangan jumlah konsumsi umat Muslim, namun realitanya mengungkap berbeda. Artinya ada masalah pada perilaku konsumsi Muslim di bulan puasa.
 
Berangkat dari filantropisme yaitu rasa cinta kasih terhadap sesama manusia yang diwujudkan dalam perilaku berbagimaupun berderma ini lah yang menjadi konsep distribusi pendapatan maupun kekayaan dalam Islam. Hal itu sebagai landasan penting yang dijadikan pegangan agar kekayaan tidak terkumpul hanya pada satu kelompok saja, sebagaimana termaktub dalam  QS. Al-Hasyr (59) ayat 7 ; “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara golongan kaya diantara kamu.”

Menurut M.Quraish Shihab, ayat tersebut bermaksud menegaskan bahwa harta benda hendaknya jangan hanya menjadi milik dan dikuasai sekelompok manusia. Akan tetapi harta benda harus beredar di masyarakat sehingga dapat dinikmati oleh semua anggota masyarakat dengan tetap mengakui hak kepemilikan dan melarang monopoli, karena sejak awal Islam menetapkan bahwa harta memiliki fungsi sosial.(Noor, 2013,hal 87). Sehingga prinsip keadilan dan persaudaraan (kasih sayang) pada konsep distribusi menjadi garis utama dalam pelaksanaan Islam Rahmatan lil Aalamiin. 
 
Berbicara tentang distribusi sangat erat kaitannya dengan hak-hak individu dalam masyarakat untukmenjawab keruwetan perekonomian Indonesia. Kesenjangan distribusi pendapatan akan berdampak pada aspek ekonomi dan sosial politik. Keadilan distribusi pendapatan dan kekayaan dalam Islam menjadi Ruh dalam Islam dalam bidang ekonomi yang bermuara pada Maslahah (Kesejahteraan).
 
Kesadaran akan pentingnya maslahah akan mendorong setiap individu untuk berperilaku ekonomi yang sesuai  ajaran Islam dan berusaha mengelola sumberdaya yang ada untuk mencapai falah (kemenangan). Jika setiap individu di Indonesia telah sadar akan pentingnya maslahah, maka akan terwujud masyarakat yang menyadari akan peran pentingmenciptakan keadilan distribusi pendapatan dan kekayaan dengan mempersempit kesenjangan ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan menunaikan kewajiban zakat, infaq maupun shodaqoh. (Noor, 2013, hal 234).
 
Empowerment (Pemberdayaan) berbasis Keluarga
Momentum puasa yang memberikan peluang besar bagi umat Muslim dalam menyemarakkan kembali insrumen-instrumen distribusi pendapatan dan kekayaan dalam praktek filantropi (cinta kasih sesama manusia) Islam. 
 
Dalam manajemen keuangan keluarga, aktivitas ekonomi harus dikelola secara benar dan profesional, agar kualitas iman, ilmu dan amal shalih dari hari ke hari selalu meningkat. Untuk memiliki kas keluarga ada tiga motif; motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi (Sulastiningsih, 2008: 105). Karena kas merupakan aset yang likuid berfungsi sebagai alat pembayaran. Maka dibutuhkan strategi jitu dalam manajemen kas keluarga, khususnya jika dialokasikan untuk fungsi sosial.
 
Pemberdayaan merupakan salah satu upaya jangka panjang dalam meminimalisir kemiskinan. Karena bantuan yang diberikan tidak bersifat konsumtif yang sekali habis, namun orientasinya adalah produktif yang memandirikan dan memberdayakan potensi yang ada untuk kesejahteraan. Bukan hanya tanggungjawab pemerintah, karena dalam Islam mengenal hukum bahwa setiap harta yang dimiliki oleh seseorang terdapat hak orang lain di dalamnya. Maka pemberdayaan ini menjadi tanggungjawab setiap Muslim sebagai bentuk rasa persaudaraan dan kasih sayang sesama.
 
Dalam logika matematika ekonomi, jika jatah makan kita di luar bulan puasa adalah 3 kali sehari, di bulan puasa berkurang satu menjadi 2 kali sehari (sahur dan buka puasa). Dalam notasi nominal, jika rerata 3 kali sehari makan kita sebesar 45rb,dg hitungan rerata 15rb setiap kali makan. Maka di bulan puasa,nominal jatah makan pun berkurang dari 45rb menjadi 30rb.Artinya masih ada sisa sebesar 15rb setiap harinya. Hal ini tentu terbukanya peluang lebih besar untuk alokasisaving/investasi maupun untuk berderma kepada sesama.
 
Hal ini akan jauh lebih punya efek positif lagi besar, jika skim berbagi maupun berderma diarahkan pada usaha produktif. Seolah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, jika jatah makan sekali dalam sehari kita sisihkan dan kumpulkan selama satu bulan. Hitungannya rerata per hari 15ribu dikali 30 hari dalam sebulan, maka selama sebulan otomatis kita dapat mengumpulkan 450ribu. Jumlah ini bisa kita dermakan secara produktif kepada kerabat maupun tetangga yang belum memiliki pekerjaan, yang kekurangan modal usaha maupun yang sedang perlu utuk keperluan usahanya. Sehingga berbagi kali ini bukan sekedar menyelesaikan masalah sehari dua hari, namun bisa membantu menyelesaikan masalah sesama untuk jangka waktu yang lama.
 
Strategi menyisihkan uang dari kebutuhan utama dalam sehari tentu butuh dikoordinir dalam satuan unit ekonomi terkecil yakni rumah tangga. Hal ini erat kaitannya dengan proses perencanaan dan pengendalian (planning and control) keuangan rumah tangga, berkaitan dengan bagimana mengatur atau mengelola harta yang telah diberikan Allah SWT kepadahamba-Nya secara amanah. Perencanaan pengeluaran bagi keluarga Muslim terkait dengan bagaimana mengatur aktivitas seluruh anggota keluarga mengonsumsi sumberdaya secara efisien dan efektif. Hal ini sesuai pesan Surat al-Furqan (25) ayat 67, yaitu orang-orang yang ketika membelanjakan harta tidak berlebih-lebihan dantidak menimbulkan keburukan, tetapi mempertahankan di antara keseimbangan antara sikap kikir dan sikap boros.
 
Mari meng-upgrade esensi filantropi kita dalam ritual puasa tahun ini. Jika sebelumnya hanya sekedar menyiapkan buka dan sahur bagi sesama, mulai saaat ini mulai Filantropisme yang memberdayakan melalui berderma secara produktif yang dimulai dari keluarga dan bisa dikelola secara masif melalui lembaga maupun ormas tertentu. 
 
*) Penulis dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua PDNA Kota Surabaya
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>