Tiga Long March Masyarakat Kendengan

Selasa, 17 Januari 2017  19:04

Tiga Long March Masyarakat Kendengan
Jaya Suprana
Budayawan, dan Pembelajar Pancasila

SANUBARI saya terharu-biru ketika di mancanegara pada awal Desember 2016 berkat teknologi internet sempat menyimak berita tentang sekelompok masyarakat melakukan long march berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk menghadiri shalat Jum’at 212 di kawasan Monas, Jakarta.
 
Sanubari tergetar oleh semangat rakyat yang tidak memperoleh transpor bus tetap datang ke ibukota Republik Indonesia untuk bergabung dengan para peserta shalat Jum'at 212 dengan berjalan kaki. Sekembali ke Tanah Air di awal bulan Januari 2017, lagi-lagi sanubari saya terharu ketika menyimak kisah tokoh muda Sedulur Sikep (masyarakat Samin), Gunretno. 
 
Menurut kisah Gunretno, masyarakat Kendengan juga pernah melakukan long march demi mengungkapkan keberatan mereka terhadap pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan kapur Kendeng. Bahkan long march Kendeng ternyata bukan hanya sekali saja namun malah tiga kali.
 
Long march pertama diselenggarakan pada tanggal 15 sampai dengan 17 November 2015 dengan slogan  "KENDENG MENJEMPUT KEADILAN" melibatkan 200 rakyat menempuh perjalanan dalam jarak 122 km, dari Omah Sonokeling Minggu sore dan Selasa pagi tiba di PTUN Semarang. Long march Kendeng ke dua dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2016 dengan slogan " KENDENG NJEJEKE ADIL"  menempuh perjalanan 22 km melibatkan 1.000 orang dari makam Nyai Ageng Ngerang Kecamatan Tambakromo jam 19.00 ke Kabupaten Pati tiba di alun-alun Pati jjam 12 malam.
 
Sementara long march yang ketiga bersemboyan  "KENDENG KAWAL PUTUSAN MA" menempuh perjalanan 150 km mellibatkan  300 orang  berangkat dari Rembang 5 Desember 2017 dan tiba 9 Desember 2017 di Semarang di kantor Gubernur Jateng.
 
Akibat tidak menguasai duduk permasalahan maka saya tidak berani melibatkan diri ke dalam kemelut pro-kontra perjuangan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng. Namun selama merasa terharu belum dilarang, terpaksa saya mengakui bahwa lubuk sanubari saya memang terharu-biru ketika mendengar kisah Gunretno tentang bukan satu namun tiga long march yang dilakukan masyarakat Kendeng.
 
Keterharuan saya akibat merasakan ketulusan dan kegigihan semangat para pelaku long march demi mengungkapkan kepedulian bahkan kecintaan mereka kepada bumi dan budaya di lingkungan hidup mereka. Keterharuan saya juga akibat kesadaran bahwa keterbatasan daya lahir-batin diri saya sendiri memang memustahilkan saya melakukan long march seperti yang dilakukan teman-teman Sedulur Sikep.
 
Jangankan jarak 150 kilometer seperti pada long march kendeng yang ke tiga, sementara jarak 22 kilometer yang ditempuh long march kendeng ke dua pun, pasti saya tidak mampu melakukannya. Paling maksimal mungkin saya mampu melakukan short-march dengan jarak 22 meter saja. Itu pun secara ngos-ngosan sambil bersimbah peluh lalu nggeblak sebelum finish!
 
Maka setelah membandingkan kemampuan diri saya dengan masyarakat Kendeng, terpaksa saya mengakui kedigdayaan semangat rakyat dalam mengungkapkan aspirasi mereka.
 
Insya Allah, para pemimpin yang notabene dipilih oleh rakyat untuk duduk di tahta kekuasaan, berkenan mendengar dan mempedulikan suara sanubari rakyat selaras dengan makna adilihur yang terkandung di dalam sila-sila  Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(*)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>