Regulasi Tak Mendukung, Industri Alas Kaki Jatim Lesu

Rabu, 23 Mei 2018  18:28

Regulasi Tak Mendukung, Industri Alas Kaki Jatim Lesu

Adanya berbagai peristiwa dan munculnya kebijakan baru menjadi fantor lesunya industri alas kaki

SURABAYA(BM)-Kalangan pengusaha alas kaki atau sepatu di Jawa Timur mengungkapkan bila kinerja industri alas kaki sempat merosot hingga 50% akibat berbagai faktor ekonomi ditambah adanya aksi teror bom Surabaya dan Sidoarjo beberapa pekan lalu.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur, Winyoto Gunawan mengatakan peristiwa bom yang sempat mengguncang Surabaya membuat pasar berhenti untuk mendatangi pusat keramaian. Hal tersebut otomatis membuat permintaan barang di pabrikan menjadi turun drastis.

"Bukan hanya pasar domestik yang turun 30%-50%, bahkan pasar ekspor juga turun 10%-15% karena banyak buyer yang membatalkan kunjungannya ke Jatim, apalagi ada sejumlah negara yang telah mengeluarkan travel advice," ujarnya, Rabu (23/5). Dikatakan biasanya menjelang Lebaran permintaan produk sepatu atau alas kaki lainnya terjadi peningkatan 2-3 kali lipat. Namun untuk Ramadan tahun ini justru terjadi penurunan pasar karena situasi keamanan, ekonomi dan daya saing.

"Sebetulnya 2-3 tahun lalu Ramadan itu momennya nyambung langsung dengan Lebaran dan anak-anak kembali ke sekolah. Faktor itu yang bisa mendongkrak penjualan, tetapi tahun ini tidak seindah tahun sebelumnya karena pas Lebaran, anak sekolah masih libur," jelasnya.

Winyoto memaparkan, dampak lain yang menekan industri sepatu dalam negeri adalah adanya daya saing yang kuat dari industri sepatu asing seperti dari Vietnam dan China yang memiliki biaya produksi lebih rendah karena upah pekerjanya tidak semahal di Indonesia.

Momen Ramadan dan Lebaran diprediksi tidak akan mampu menggenjot penjualan sepatu dan alas kaki di Jawa Timur. Jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, sebulan sebelum Ramadan biasanya ada peningkatan penjualan sampai dua hingga tiga kali lipat.

”Tahun ini tidak ada perubahan sama sekali layaknya tidak ada Ramadan dan Idulfitri,” tambahnya.

”Banyak kebijakan yang berubah, terutama sektor perpajakan,” tutur Winyoto.Selain penurunan di pasar domestik, pasar ekspor pun terlihat anjlok. Berdasar data Aprisindo, pasar ekspor sepatu Jatim turun 10–20 persen. Melihat kondisi kinerja tersebut, industri pesimistis terhadap kinerja pada semester kedua tahun ini.(nur/dra)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>