Dinas Perikanan Kembangkan Teknologi Mina Katon

Rabu, 11 Maret 2018  22:12

Dinas Perikanan Kembangkan Teknologi Mina Katon

Pemijahan benih ikan di kolam beton mampu meningkatkan produksi benih

Pasuruan(BM)-Guna meningkatkan produksi benih ikan nila hingga mencapai target 10.800.000 ekor dalam setahun, Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Perikanan mengubah teknologi pemijahan nila dari kolam tanah ke kolam beton atau Mina Katon. Pemijahan ini dikembangkan di UPTD BBI (Balai Benih Ikan) Penataan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan dan terbukti berhasil meningkatkan produktifitas benih unggul hingga 60%.

Slamet Nurhandoyo, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan mengatakan, pada awalnya semua kegiatan produksi benih nila menggunakan kolam tanah seluas 300 m2. Akan tetapi banyak kendala yang dihadapi, mulai dari penanganan induk dan benih, kolam yang banyak terjadi kebocoran, tanah yang terlalu phorous serta waktu panen yang terlalu lama dikarenakan kolam terlalu luas.

“Kondisi kolam BBI yang ada umumnya terbuat dari tanah sangat berpengaruh pada rendahnya produktifitas benih ikan nila dan tidak sebanding dengan besarnya tenaga operasional yang dikeluarkan. Maka dari itu, kami merubah teknologi dari kolam tanah menjadi beton,” kata Slamet di BBI Penataan, akhir pekan kemarin

Dijelaskannya, sebelum mengetahui hasilnya, UPTD BBI Penataan terlebih dulu melakukan ujicoba pemijahan nila di kolam beton berukuran 3 X 6 sejak tahun 2013 lalu, kemudian dilanjutkan pada tahun 2014 sebanyak 18 unit kolam berukuran 4x8m.  Produksi benih ikan nila mulai meningkat hingga akhirnya membangun kolam pemijahan sebanyak 22 unit kolam beton berukuran 4x8.

“Peningkatan produktifitasnya luar biasa sampai 60%. Contohnya saja satu ekor induk betina bisa menghasilkan larva 666 ekor dari sebelumnya hanya 416 ekor larva saja, dan keunggulan lainnya,” imbuhnya. Keunggulannya , diantaranya penggunaan lahan lebih efisien, penggunaan air lebih hemat, kolam mudah di kontrol dan dibersihkan, penggunaan pakan lebih terkontrol, tenaga lebih efisien, serta kebugaran larva dan induk lebih terjaga.

“Kematian induk dan benih bisa diminimalisir, kemudian relatif lebih aman dari serangan hama/predator, dan suhu dan kualitas air lebih mudah dikendalikan. Maka dari itu, teknologi mina maton ini akan terus kami laksanakan demi dapat mencapai target benih ikan nila sampai 10.800.000 bibit nila, baik nila hitam maupun merah,”terangnya.

Sebelum mengetahui hasilnya, pihaknya melakukan ujicoba pemijahan nila di kolam beton berukuran 3m X 6m sejak tahun 2013 lalu, kemudian dilanjutkan pada tahun 2014 sebanyak 18 unit kolam berukuran 4m X 8m. Produksi benih ikan nila meningkat hingga akhirnya membangun kolam pemijahan sebanyak 22 unit kolam beton berukuran 4m X 8m.

“Peningkatan produktifitasnya sampai 60%. Contohnya saja satu ekor induk betina bisa menghasilkan larva 666 ekor dari sebelumnya hanya 416 ekor larva,” imbuhnya. Hal lainya, adanya keunggulan penggunaan lahan lebih efisien, penggunaan air lebih hemat, kolam mudah di kontrol dan dibersihkan. Disebutkan juga, penggunaan pakan lebih terkontrol, tenaga lebih efisien. Utamanya, kebugaran larva dan induk lebih terjaga.

“Kematian induk dan benih bisa diminimalisir, kemudian relatif lebih aman dari serangan hama/predator, dan suhu dan kualitas air lebih mudah dikendalikan. Maka dari itu, teknologi mina maton ini akan terus kami kembangkan agar mencapai target benih ikan nila sampai 10,8 bibit, baik nila hitam maupun merah,”pungkasnya. (pas/adv)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>