Bus Tabrak Tebing, Polisi: Diduga Rem Blong

Sabtu, 11 Februari 2018  18:45

Bus Tabrak Tebing, Polisi: Diduga Rem Blong

Suasana pemakaman korban kecelakaan maut, bus tabrak tebing

SUBANG (BM) – Sebuah bus dengan nomor polisi F 7959 AA yang membawa rombongan wisatawan dari Tangerang Selatan, terguling ketika melewati turunan panjang yang curam di tengah kebun teh dan hutan pinus, Sabtu 10 Februari 2018.

Bus pariwisata yang mengangkut 56 wisatawan itu, menabrak tebing kemudian terguling di jalan turunan tajam atau orang sering menyebutnya Tanjakan Emen di Subang. Bus itu dari Bandung menuju Subang Kota menuruni jalanan menurun terjal, berbelok-belok di tengah kebon teh dan hutan pinus.

Bus yang mengangkut rombongan anggota koperasi itu, baru saja meninggalkan wisata kawah Gunung Tangkuban Perahu di Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang untuk kembali pulang ke Tangerang Selatan via Tol Cikopo-Palimanan. Tol tersebut bisa diakses dari Gerbang Tol Subang Kota.

Saat menuju Subang Kota, bus setelah keluar gerbang Tangkuban Perahu harus melewati turunan panjang sekitar kurang lebih ‎2 km.

Saat melewati turunan panjang, curam dan kelokan di tengah kebun teh dan hutan pinus itulah bus mengalami kecelakaan tragis.

"Bus dari Bandung menuju Subang kota. Saat melintas turunan panjang dan berkelok, bus tidak terkendali karena diduga rem blong dan menabrak sepeda motor dengan nomor polisi T 4382 MM. Bus kemudian menabrak tebing sebelah kiri jalan dan terguling di bahu jalan," ujar Kapolres Subang AKBP M Joni, Sabtu (10/2/2018).

Isep Keling (37) pemilik bengkel tambal ban yang hanya berjarak kurang dari 50 meter dari lokasi kejadian kecelakaan langsung lari keluar ketika mendengar suara keras teriakan orang dan besi yang seperti jatuh dari langit.

"Saya langsung lari dan pas liat ternyata banyak korban sudah ada di luar dan kondisinya mengenaskan," kata Isep di bengkelnya, Sabtu (10/2/2018) malam.

Isep melihat belasan orang terlempar dari dalam bus dan tak tertimpa badan bus saat kecelekaan terjadi.

"Ada yang meninggal ada yang masih selamat juga. Ngeri pokoknya. Saya liat sendiri korban-korbannya," kata Isep.

Menurut Isep, pada saat kejadian kecelakaan itu arus lalu lintas terbilang sepi dan tidak ramai seperti biasanya libur akhir pekan. Cuaca, kata dia, juga cerah. Sepengetahuannya, kejadian kecelakaan itu terjadi pukul 16.30.

"Pas kecelakaan untung lagi sepi. Wah enggak tahau kalau sedang ramai. Korban bisa banyak sekali. Bus kan menabrak motor dulu lalu menabrak tebing di kiri baru ke guling ke kiri juga. Kalau kecepatan bus kurang tahu, soalnya enggak liat. Tahunya pas ada suara keras saja saya baru lari," kata dia.

Seorang wanita yang bernama Muhaya mengatakan anak laki-lakinya ikut dalam rombongan bus yang terlibat kecelakaan tersebut.

"Firasat saya sudah tidak enak, mau ngelarang tapi tidak bisa," ucap Muhaya.

Anak laki - laki Muhaya, berada di dalam daftar korban yang menderita luka ringan.

Muhaya mengatakan awalnya ia mendapat kabar bahwa anaknya berada di bus nomor tiga.

Setelah mendapat informasi lebih lanjut, anak laki - lakinya berada di dalam bus yang mengalami kecelakaan.

"Ketika mendapat kabar anak saya berada di bus nomor 1, badan saya langsung lemas dan keringat dingin," ujar Muhaya, Minggu (11/2/2018).

Kadishub Jabar, Dedi Taufik mengatakan kelengkapan fasilitas lalu lintas di Tanjakan Emen sudah lengkap. Mulai dari petunjuk arah, marka jalan, marka kejut, penerangan jalan umum dan sebagainya.

"Semua fasilitas lalinnya sudah lengkap. Tinggal memang hanya harus berhati-hati saja saat melintas kesana. Karena memang di sana merupakan daerah rawan kwcelakaan," kata dia.

Ditanya terakait kelayakan jalan bus nahas tersebut, Dedi mengatakan, bus tersebut sudah melakukan uji pada tanggal 5 Oktober 2017 di Kota Bogor.

Hasilnya adalah layak jalan. Kendati demikian, untuk mengetahui penyebab kecelakaannya akan dilakukan olah TKP pada Minggu (11/2).

"Masa ujinya masih berlaku. Karena baru beberapa bulan kebelakanh melakukam uji. Tapi kami akan pastikan besok seperti apa. Polisi juga akan melakukan olah TKP," kata dia.

 

REM BLONG

Polisi menduga kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang, akibat bus rem blong. Turunan panjang yang ada di sepanjang jalan raya Subang tersebut menjadi faktor penyebab sistem pengereman bermasalah.

Polisi olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari tahu penyebab kecelakaan bus menabrak satu motor lalu menghantam tebing dan terguling hingga menewaskan 27 orang. Olah TKP menggunakan alat Faro atau pemindaian menggunakan kamera tiga dimensi (3D).

"Olah TKP menggunakan sistem Faro dengan kamera (drone) laser 3D. Nanti dipetakan jadi aplikasi yang menggambarkan terjadinya kecelakaan ini," kata Kasubdit Gakkum Korlantas Polri Kombes Joko Rudi di sela-sela olah TKP, Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (11/2/2018).

Ia menuturkan berdasarkan analisis secara kasat mata yang dilakukannya, tampak ada beberapa titik memperlihatkan bus yang datang dari arah Bandung ke Subang itu mencoba menghentikan kendaraan sebelum akhirnya terguling. Namun, nampaknya sistem rem tidak berfungsi.

"Tadi terlihat ada beberapa titik bekas pengeraman di jalan sebelum akhirnya terguling. Artinya bus sempat mencoba untuk memperlambat laju kecepatannya," ujar Joko.

Lebih lanjut ia menjelaskan lokasi kecelakaan ini merupakan titik terakhir jalan menurun dari Tanjakan Emen dari arah Bandung menuju Subang. Sehingga, sambung dia, diprediksi sistem pengereman bus mengalami gangguan lantaran sepanjang Tanjakan Emen yang mencapai 2,4 kilometer itu terus digunakan.

"Karena ini turunan terakhir mungkin (rem) panas dan memuai hingga tidak berfungsi. Karena ini kan cukup panjang turunannya, jadi rem terus dipakai," tuturnya.

Kendati demikian, kata Joko, analisis tersebut masih bersifat sementara. Pihaknya harus membuktikannya melalui olah TKP serta keterangan dari para korban selamat dan saksi mata. Kemudian, alat bukti ini direkomendasikan ke pengadilan.

"Kami pastikan bus ini tidak overload. Karena penumpang ada 53 orang, sedangkan kapasitas 54 orang. Tapi lebih lanjutnya kita tunggu hasil olah TKP dan keterangan para saksi," ucap Joko.

 

Pemakaman

Korban kecelakan bus di Tanjakan Emen, Subang, dimakamkan di Ciputat, Tangerang Selatan. Warga dan keluarga turut menghadiri pemakaman ini.

Pantauan di TPU Legoso, Ciputat, Tanggerang Selatan, Minggu (11/2/2018), jenazah dibawa ke TPU Legoso, sejak pukul 12.50 WIB. Beberapa jenazah dimasukkan ke makam secara bersamaan.

"Ini bukan massal ya hanya pengerukan bareng jadi 1 lobang kerukan dibikin kavling bukan massal, kalau massal kan ditumpuk nah ini hanya dijejer satu-satu," kata petugas makam TPU Legoso, Abdul Rosyid di lokasi.

Dikatakan Rosyid, ada tiga titik galian makam di TPU Legoso. Selain itu, ada 8 makam yang disiapkan, lokasinya terpisah dari tiga titik itu.

Hingga pukul 14.15 WIB, sudah 20 jenazah yang dimakamkan. "Sudah 20 jenazah," ujarnya.

Saat ini proses pemakaman masih berlangsung. Keluarga korban bercampur dengan warga sekitar berkumpul di halaman TPU.

 

Cerita Mencekam

Di antara sejumlah korban selamat dari kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang, salah satu di antaranya adalah Lurah Pisangan, Idrus Arsenih Kurnain. Idrus menceritakan detik-detik saat peristiwa maut itu terjadi.

Tidak hanya ikut dalam rombongan, Idrus juga sekaligus menjadi ketua rombongan. Menurut penuturan Idrus, ada 59 kursi di dalam bus tersebut, namun hanya 51 kursi yang terisi. Total keseluruhan peserta yang ikut dalam acara tersebut adalah 151 orang.

"Saya di bus tiga, saya lihat mobil terbalik. Kasihan banget," tuturnya di RSUD Tangerang Selatan, Pamulang, Banten, Minggu (11/2/2018).

Menurut Idrus, seketika, para penumpang pun langsung menangis histeris mengetahui rekan-rekannya menjadi korban dari kecelakaan maut tersebut. Ada juga yang pingsan saat kejadian berlangsung.

"Semua di mobil teriak-teriak, semua pada nangis, pada pingsan," ujar Idrus.

Setelah melihat bus lainnya mengalami kecelakaan, bus yang ditumpangi Idrus pun parkir kurang-lebih 20 meter dari lokasi kejadian.

Rombongan Koperasi Permata berangkat dari Pisangan, Ciputat pada Sabtu (10/2) dini hari, tepatnya pukul 05.30 WIB. Mereka berangkat ke Ciater, Subang, Jawa Barat dalam rangka mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Setelah rapat di Lembang, mereka pun beranjak untuk berwisata di Subang. Pukul 17.00 WIB, kejadian mengerikan tersebut terjadi.

 

Cerita Waghiyo

Waghiyo (44) menceritakan saat istrinya, Siti Jubaidah selamat dari kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang. Saat peristiwa, Siti berada di dekat jendela bus.

"Posisinya saat kejadian dia di samping jendela, jadi ada pegangannya. Jadi saat bus mulai oleng, dia sadar dan dia cari pegangan dan Alhamdulillah bisa selamat," ujar Waghiyo di TPU Legoso, Ciputat Timur, Tangsel, Banten, Minggu (11/2/2018).

Wagihyo mengatakan, istrinya sudah berada di rumah. Siti mengalami memar di bagian kening.

"Istri saya sudah sampai rumah jam 04.30 WIB pagi tadi, kondisi memar aja di jidat. Dia juga bisa nolongin teman-temannya juga saat di klinik," jelas Waghiyo.

Sementara itu, Juju (43) menceritakan setelah rombongan selesai berkegiatan di Tangkuban Perahu, rombongan ingin menuju ke Ciater, Subang. Acara itu adalah acara Rapat Akhir Tahunan (RAT) yang diikuti lebih dari 150 orang.

Saat kejadian, Juju tidak sadar jika bus yang kecelakaan adalah bus rombongannya. Saat kejadian para korban melambaikan tangan dan terlihat korban mengenakan pakaian berwarna oranye-hitam.

"Di mobil itu (di bus yang ditumpanginya) memang nggak ada yang turun kecuali saya. Tapi ternyata saya juga nggak kuat," jelas Juju.

Sebelumnya, kecelakaan maut terjadi di Tanjakan Emen, Subang pada Sabtu (10/2) pukul 17.00 WIB. Ada 27 korban meninggal dunia dan 26 di antaranya adalah warga Tangerang Selatan. Korban selamat dan luka-luka baru dipulangkan hari ini. (det/tri/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>