Dibantu Australia, FDR Black Box Berhasil Diunduh

Selasa, 04 November 2018  19:50

Dibantu Australia, FDR Black Box Berhasil Diunduh

Tim SAR gabungan mengevakuasi turbin pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610

Merekam 19 Penerbangan, Selama 69 jam

JAKARTA (BM) - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil mengunduh dan membaca data dari black box milik pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jakarta Barat. Pengunduhan data dari komponen Flight Data Recorder (FDR) itu dibantu oleh dua investigator dari Australian Transport Safety Bureau (ATSB).

"Update data lab black box KNKT bahwa hari ini data FDR telah berhasil di-download," ujar Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo di kantornya, Jakarta Pusat, Minggu (4/11).

Setelah berhasil mengunduh data rekaman penerbangan, penyidik KNKT bersama ATSB langsung melakukan diskusi dan verifikasi data-data yang telah terkumpul selama enam hari terakhir.

"Data yang diperoleh (dari FDR) adalah 69 jam, mencatat 19 penerbangan, termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan," tuturnya.

Namun Nucahyo belum mengungkapkan lebih detil soal data FDR tersebut. Selain penyidik ATSB, pengunduhan data FDR juga melibatkan investigator dari Singapura. Arab Saudi juga mengutus dua orang namun kapasitasnya hanya untuk mempelajari proses investigasi kecelakaan pesawat di Indonesia.

Saat ini, KNKT tengah menunggu serah terima wreckage atau landing gear dan mesin dari tim lapangan. "Jika sudah diserahterimakan maka KNKT akan memulai proses identifikasi lanjutan dati barang-barang tersebut dibantu oleh pihak dari Boeing, GE, dan ATSB," tutup Nurcahyo.

Seperti diketahui, Australia diizinkan membantu pembukaan data kecelakaan Lion Air PK-LQP. Australia membantu bagian download data dari Flight Data Recorder (FDR) Black Box Lion Air yang telah ditemukan.

"Pada 4 November 2018, kita sampaikan bahwa kemarin sore tanggal 3 september telah bergabung bersama kami dua investigator dari Australian Transport Safety Euro atau ATSB untuk kembantu proses download data FDR," kata Nurcahyo Utomo.

Di tengah proses download, KNKT juga menunggu serah terima mesin pesawat Lion Air PK-LQP yang sudah ditemukan. Mesin itu akan diteliti di laboratorium KNKT.

"Apabila sudah diserahkan kepada KNKT, maka kita akan lakukan penelitian terhadap komponen tersebut, terutama kita akan cari tahu ini posisinya sebelah kiri atau sebelah kanan," ujar Nurcahyo.

Posisi mesin perlu diketahui untuk penelitian kerusakan. Sementara untuk roda yang telah ditemukan, KNKT menyatakan roda belakang.

"Untuk roda mendarat kita yakin itu roda mendarat belakang," tuturnya.             

Data yang didownload memuat detail soal penerbangan Lion Air PK-LQP yang jatuh, mulai dari data parkir pesawat, take off, hingga arah penerbangan ke tenggara dan kemudian jatuh.

"Rekaman akhir berakhir pada Pukul 23.31 jadi 23.31 tanggal 28 Oktober UTC time, atau 29 Oktober pada pukul 6.31.54 WIB. Jadi ini data yang kita dapat dari FDR," ujar Nurcahyo.

"Kita sedang pilah-pilah lagi parameter apa dari 1.800 yang kita butuhkan. Dari sini akan kita analisis apa yang terjadi dengan penerbangan itu," imbuhnya.

Dia mengatakan data penerbangan dari FDR sesuai dengan pemberitaan yang selama ini ada di media. KNKT masih mengharapkan data dari bagian black box lainnya, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR).

"Investigasi pada prinsipnya memanfaatkan informasi yang ada, kita punya FDR dan pastikan datanya benar dan ini membantu untuk kita. Namun ada dua black box yang isinya berbeda, ada dua info yang berbeda, apabila dua-duanya ada amat sangat saling membantu dan mendukung, namun demikian kalau seandainya hanya ditemukan satu, maka kita akan berupaya maksimum akan apa yang kita punya," tutur Nurcahyo.

 

14 Korban Teridentifikasi

Terkait evakuasi korban, Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polri Kramatjati, kembali mengidentifikasi tujuh korban pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Tim medis menggunakan metode primer melalui DNA, sidik jari dan rekam medis.

Kepala Bidang DVI Mabes Polri Kombes Lisda Cancer mengatakan, korban pertama atas nama Rohmanir Pandi Sagala berjenis kelamin laki-laki dengan usia 23 tahun. Korban merupakan warga Pondok Bahar, Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten.

Identitas teridentifikasi kedua atas nama Dodi Junaidi, laki-laki berusia 40 tahun. Korban berdomisili di Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

"Ketiga teridentifikasi atas nama Muhamad Nasir, laki-laki usia 29 tahun. Beralamat Gang Rinjani III, Kelurahan Sayang, Cianjur, Jawa Barat melaui DNA," kata Lisda di RS Polri, Jakarta Timur, Minggu (4/11).

Korban keempat teridentifikasi atas nama Janry Efriyanto Sianturi berusia 26 tahun warga Mandalo Darat, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi. Kelima yaitu Karim berusia 68 tahun warga Koba, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.

"Keenam atas nama Harwinoko, laki-laki berusia 54 tahun. Beralamat Palayu Raya, Tegalgundil, Bogor Utara, Kota Bogor. Melalui DNA," ujar dia.

Sedangkan untuk korban ketujuh bernama Verian Utama warga Tanjung Duren Dalam III, Grogol, Petamburan, Jakarta Barat. Sehingga hingga saat ini jumlah korban yang telah teridentifikasi berjumlah 14 orang.

Tujuh korban yang sebelumnya telah teridentifikasi yaitu Jannatun Cintya Dewi (24), Candra Kirana (29), Munni (41) dan Hizkia Jorry Saroinsong (23). Tiga selanjutnya yakni, Endang Sri Bagusnita (20), Wahyu Susilo (31) dan Fauzan Azima (25).

 

CVR Black Box

Terpisah, Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya M Syaugi mengatakan CVR black box pesawat Lion Air PK-LQP belum ditemukan hingga hari ketujuh operasi SAR. Kendalanya, ada lumpur setebal lebih dari satu meter di dasar laut.

"Belum ditemukan secara fisik. Kenapa? Lumpur yang ada di situ kalau ditusuk pakai besi satu meter pun belum sampe ke dalam. (Tebal) lumpurnya lebih dari satu meter," kata Syaugi di Dermaga Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (4/11/2018).

Syaugi menuturkan tim penyelam gabungan tengah menelusuri keberadaan CVR. Tim dibagi menjadi dua area pencarian dengan harapan CVR cepat ditemukan.

"Ping yang sudah kita dengar, sudah kita telusuri oleh penyelam gabungan yang handal. Ini kita bagi dua supaya lebih cepat," ujar Syaugi.

Diketahui salah satu fokus evakuasi Lion Air PK-LQP adalah pencarian Cockpit Voice Recorder (CVR) Black Box pesawat tersebut. Sinyal CVR sempat tertangkap sinyal KRI Rigel, namun kemudian menghilang lagi.

Kepala Pusat Hidro Oseanografi TNI AL Laksamana Muda Harjo Susmoro mengatakan pihaknya kini sedang berupaya menemukan CVR. Alat yang digunakan adalah High Presition Acoustic Positioning (HIPAP) dan ROV.

"Kita punya alat nama HIPAP, ini sedang diutak-atik, untuk menangkap ping, mudah-mudahan berhasil," kata Harjo di KRI Sikuda.

 

175 Penyelam Dikerahkan

Sebanyak 175 penyelam dikerahkan untuk melakukan evakuasi bawah air terhadap bangkai pesawat dan para penumpang Lion Air PK-LQP. Hari ini adalah hari ketujuh operasi SAR jatuhnya Lion Air PK-LQP di Tanjung Karawang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Berdasarkan data Basarnas, 151 penyelam berasal Basarnas Special Group 41 orang, Kansar Semarang 5 orang, POSSI 16 orang, Indonesia Diver 5 orang.

Kemudian penyelam dari Kopaska 38 personel, Denjaka 28 personel, Taifib 17 personel, KPLP 7 orang, Unit Delta Brimob 4 orang dan polisi air 14 orang.

Sementara itu secara keseluruhan, personel yang dikerahkan untuk kegiatan evakuasi baik di darat, laut dan udara sebanyak 1.396 orang. Kemudian kapal laut yang dioperasikan hari ini 69 unit dan helikopter 5 unit.

Untuk di darat disiagakan ambulans sejumlah 30 unit. Selanjutnya untuk dua daerah prioritas 1A dan 1B pencarian bawah air dikerahkan Kapal Baruna Jaya yang dilengkapi MBES, ping locator, dan DGPS serta Kapal Dunamos yang dilengkapi side scan sonar, MBES, ping locator dan DGPS. (mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>