Museum HOS Tjokroaminoto di Peneleh Gang VII

Senin, 03 September 2018  13:15

Museum HOS Tjokroaminoto di Peneleh Gang VII

Museum HOS Tjokroaminoto di Peneleh Gang VII. (BM/HARUN EFFENDY)

SURABAYA (BM) - Dikenal sebagai kota pahlawan, Surabaya memiliki tempat-tempat peninggalan sejarah yang kini menjadi tujuan wisata kota sejarah seperti sebuah rumah yang berada di Peneleh gang VII nomor 29-31 yang diketahui milik pahlawan nasional Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.
 
Rumah yang kini lebih dikenal sebagai museum HOS Tjokroaminoto itu menurut pemandu Achmad Yanuar Firmansyah, museum yang masih tergolong baru. Sebab koleksi yang ada baru mulai dilengkapi foto-fofo sejarah. Meski dikelola pemerintah kota (Pemkot) Surabaya sudah lama, sekitar 2010, hanya saja tidak ada petugas jaga, sehingga diurusi RT setempat.
 
Kalau ada kunjungan pada waktu itu, harus menghubungi dinas terkait. Lalu, dinas akan menghubungi pengurus kampung untuk dibukakan museum. Namun mulai 2017 Pemkot telah menempatkan petugas pemandu wisata rumah sejarah tersebut.
 
Museum HOS Tjokroaminoto buka Selasa-Minggu, pukul 09:00-17:00, dan mengambil libur tiap Senin. Hal ini mengacu kepada jam operasional museum secara internasional. "Koleksi utama museum yakni, foto sejarah sekaligus ulasan narasinya. Semua pengadaan baru, dan bukan koleksi asli HOS Tjokroaminoto," terang Yanuar, Minggu (2/9) siang.
 
Koleksi foto dan cerita tokoh merupakan ulasan orang-orang yang pernah tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. "Kebanyakan pengunjung datang karena ini rumah kost Bung Karno. Maka penting juga diperkenalkan pemilik rumah, HOS Tjokroaminoto itu siapa? Dan pergerakan organisasi Sarekat Islam (SI) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto itu seperti apa?" tutur pria ramah ini.
 
Selain foto-foto bapak proklamator, juga terdapat profil tokoh-tokoh nasional yang pernah kost lainnya seperti, Karto Suwiryo, Semaun dan Alimin. Keunikan dari para tokoh ini adalah meski pernah tinggal satu atap dengan sosok guru yang sama, namun pada kiprahnya usai keluar dari rumah ini, mereka memilih jalan pandangan ideologi yang berbeda.
 
"Bung Karno berhaluan nasionalis, Karto Suwiryo condong ke Islam, kemudian Alimin dan Semaun berpandangan komunis, yang mana mereka acapkali saling berseteru," ungkap Yanuar yang bercerita dengan fasih.
 
Pengunjung museum HOS Tjokroaminoto berasal dari semua kalangan, baik pelajar maupun mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Tetapi ada juga yang sekedar jalan-jalan, mencari spot foto yang bagus setelah mengetahui dari postingan teman di media sosial, atau tipikal pengunjung yang ingin tahu detil sejarah. (har)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>