Rolag Kopi Warkop Naik Kelas Menjadi Kafe Milenial

Selasa, 19 Februari 2019  10:47

Rolag Kopi Warkop Naik Kelas Menjadi Kafe Milenial

GM Rolag Kopi Dewi Anggraeni W, AMd (kanan) dan Marcom Oka Suryawan di Rolag Kopi Kayoon, Jum'at (15/2) siang. (HARUN)

SURABAYA (BM) - Satu lagi tempat berkumpul favorit muda-mudi di Kota Surabaya berdiri di bantaran Sungai Kalimas, yakni Rolag Kopi Kayoon. Awalnya Rolag Kopi seperti pada umumnya, adalah warung kopi yang naik kelas.

Menurut GM Rolag Kopi, Dewi Anggraeni W., AMd Perhotelan mengatakan bahwa awalnya Rolag Kopi didirikan pada 2013 silam di sekitar pintu air Karah.

“Rolag Kopi menghadirkan lokasi yang nyaman untuk kegiatan hangout dengan menyajikan menu-menu yang enak,” ujar Dewi di Rolag Kopi Kayoon, Jum’at (15/2) siang.

Memasuki 2019 ini Rolag Kopi telah memiliki empat unit, yakni yang pertama di Karah, kemudian Alun-alun Sidoarjo, berikutnya di Jalan Prapanca dan yang baru-baru ini di Jalan Kayoon. 

“Tiap unit membawa tema masing-masing. Kalau di Karah nuansa taman pemerintah daerah, sehingga membawa konsep garden. Kalau di Sidoarjo karena ada di tengah kota, mengikuti suasana kota,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dewi menceritakan, kalau Rolag Kopi Prapanca menghadirkan konsep monumen Surabayan tempo dulu, sedangkan di Kayoon dimodifikasi seperti stasiun kereta api.

“Menu makanan relatif seragam, tetapi kalau minuman dikedepankan kopinya, sebab Rolag sendiri memiliki alat untuk roasting kopi,” ungkapnya.

Dengan kemampuan mandiri tersebut mengundang minat para investor untuk menjalin kerjasama dengan Rolag Kopi, sehingga kedepannya akan menjadi pertimbangan untuk terus melakukan inovasi, termasuk mengembangkan bisnis lainnya.

“Rolag Kopi sendiri berasal dari bahasa Belanda, Rolag, yaitu pintu air. Kenapa? Sebab unit pertama kita ada di pintu air Karah,” terang lulusan sekolah perhotelan ini.

Untuk segmen pasar sendiri Rolag Kopi membidik pengunjung mulai usia 15 tahun hingga dewasa. “Rata-rata pengunjung harian mencapai 800 orang dari kalangan pelajar, komunitas sampai pengusaha,” ungkapnya.

Selama memikul tanggung jawab besar sebagai General Manager, Dewi merasa tidak pernah menemui kendala serius. “Lebih banyak sukanya, sebab kami bekerja secara tim, merencanakan program dan melaksanakan dengan suka cita,” ucapnya.

Terkait beban dan target, masih Dewi, tentunya selalu ada, maka pihaknya akan terus mencoba melakukan inovasi-inovasi varian menu makanan. “Kedepannya, tidak hanya Chinese food saja, tetapi juga masakan Eropa dan Indonesia,” pungkasnya. (han)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>