PRO 1: Cak Imin-AHY Pemimpin Zaman Now

Kamis, 29 Oktober 2017  19:11

PRO 1: Cak Imin-AHY Pemimpin Zaman Now

Cak Imin dan AHY

JAKARTA (BM) – Dalam berbagai survei terkait Pilpres 2019, nama Presiden Jokowi masih memiliki elektabilitas tertinggi di atas para kompetitornya. Sementara itu, nama lain yang membayangi Jokowi adalah rivalnya di Pilpres lalu, Prabowo Subianto. Namun dalam sebuah survei menyebutkan, munculnya sosok alternatif diperkirakan memiliki potensi untuk bisa bersaing dengan nama-nama yang sudah ada tersebut.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) disebut sebagai sosok yang tepat sebagai calon alternatif, di luar nama Jokowi dan Prabowo. Hal itu jugalah yang membuat relawan Presiden Republik of Indonesia (PRO 1) mendukung keduanya sebagai calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019.

Ketua Nasional PRO 1, Baihaqi Maisin menilai, kombinasi antara Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin dan AHY mampu mewakili aspirasi anak muda. Di samping itu, Baihaqi melihat sosok Cak Imin dan AHY sebagai perwakilan kaum muda yang religius juga terbuka.

Terbuka menurut Baihaqi bermakna toleran, egaliter, mau mendengar, berani mencoba hal-hal baru, tidak mementingkan golongannya semata. Dua kualitas ini ada di Cak Imin-AHY.

"Religius bermakna mereka akan menjadi pemimpin yang takut kepada Tuhan, takut untuk mengkhianati sumpah jabatannya, takut untuk melalaikan amanah," ungkap Baihaqi dalam acara deklarasi Cak Imin-AHY 'Pemimpin Zaman Now' di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Minggu (29/10).

Lebih lanjut Baihaqi mengungkapkan alasan pihaknya mendukung keduanya lantaran perlu adanya pembaharuan kepemimpinan. Sejauh ini, dalam penilaian Baihaqi kerja pemerintahan Joko Widodo hanya fokus pada sektor infrastruktur telah mengorbankan kebutuhan sektor-sektor lain untuk berkembang.

"PRO 1 merupakan suatu organisasi atau lembaga masyarakat yang ingin adanya perubahan khususnya pimpinan nasional. Duet Cak Imin-AHY kami harap dapat menjadi jalan tengah yang mengimbangi kerasnya pertarungan politik akhir-akhir ini," tutup Baihaqi.

Terpisah, Ketum PKB Muhaimin Iskandar menegaskan, partai yang dipimpinnya tidak ikut latah dukung-mendukung capres 2019.

PKB ingin memberi semangat Jokowi Presiden menyelesaikan tugasnya sampai tahun 2019 sesuai dengan mandat yang diberikan oleh rakyat pada Pilpres 2014.

Soal bagaimana langkah politik PKB berikutnya, kata Muhaimin, tergantung apa kata konstituen dan pendapat para ulama PKB nanti.

"Kalau terus ya terus, kalau tidak PKB akan mempertimbangkan mendukung capres yang lain. Meskipun sebagian besar partai koalisi pendukung pemerintahan Jokowi-JK ingin mencalonkan kembali Jokowi di Pilpres 2019, PKB punya sikap sendiri," kata Cak Imin di Jakarta, Minggu (29/10/2017).

Menurut Cak Imin, PKB ingin memberikan dukungan kepada Jokowi dengan tulus, dan memang layak untuk dicalonkan kembali bukan karena motif lain atau dengan kata lain sekadar mencari selamat dari sebuah persoalan.

Diantara parpol yang telah menyatakan ingin mencalonkan kembali Jokowi adalah Golkar, Nasdem, PPP dan PDI P serta Hanura.

 

Tommy Soeharto

Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto mendapat dukungan untuk maju dalam Pemilihan Presiden 2019. Dukungan itu mencuat dalam acara Dialog Kebangsaan di Pesantren Al Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu malam, 28 Oktober 2017.

Dukungan agar putra bungsu Presiden Indonesia kedua, Soeharto, itu disuarakan seorang peserta dialog. "Mas Tommy enggak perlu mau-malu, muncul sajalah putranya Pak Soeharto. Tampillah sebagai pemuda dan calon pemimpin di negara ini," kata peserta yang mengenalkan diri sebagai dai tersebut.

Permintaan tersebut sontak disambut dengan pekikan takbir dan tepuk tangan peserta. Menanggapi permintaan tersebut, Tommy mengatakan dirinya hanya seorang pengusaha. "Saya tidak memiliki ambisi untuk menjadi presiden," ujarnya.

Selain dihadiri Tommy, acara dialog itu juga dihadiri mantan Danpuspom TNI, Mayor Jendral (purnawirawan) Syamsu Jalal, Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur La Nyalla Mataliti, serta pengurus MUI Jawa Timur. Acara tersebut juga dihadiri puluhan kiai, ustaz, dan habib dari Bondowoso dan sekitarnya serta Keluarga Besar TNI (KBTNI).

Di hadapan para peserta silaturahmi dan dialog kebangsaan yang bertema "Revitalisasi Sumpah Pemuda untuk Kedaulatan Bangsa" itu, Tommy sempat menyampaikan hasil pengamatannya ihwal gambaran situasi dan kondisi politik pemerintahan hingga perekonomian Indonesia. Tommy juga berbicara mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara yang terasa semakin jauh dari cita-cita Pancasila.

Setelah sekitar 25 menit menggambarkan situasi kebangsaan, kemudian dibuka sesi tanya-jawab. Dialog dipandu langsung KH Muhammad Maksum, yang merupakan tuan rumah dan pengasuh Pondok Pesantren Modern Al Ishlah. Sebagian besar peserta dialog bertanya ihwal situasi politik yang menghangat saat ini. Dalam kesempatan itulah, salah satu peserta dialog meminta Tommy Soeharto bangkit dan tampil ke masyarakat setiap saat. (det/tem/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>