Yusril Ungkap Alasan Tinggalkan Prabowo-Sandi

Selasa, 06 November 2018  18:29

Yusril Ungkap Alasan Tinggalkan Prabowo-Sandi

Yusril Ihza Mahendra

JAKARTA (BM) - Advokat senior Yusril Ihza Mahendra akhirnya buka suara terkait alasan, mengapa dirinya merapat ke pasangan Jokowi-Ma’ruf. Padahal, selama ini, Yusril dikenal lebih dekat dengan Prabowo-Sandi.

Yusril membenarkan adanya ajakan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk bergabung dalam tim pemenangan Pilpres 2019. Ajakan itu, kata dia, terjadi sekitar tiga bulan lalu langsung dari Sandiaga dan Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono.

"Ya kira-kira sudah tiga bulan yang lalu. Tidak lama pencalonan presiden kan bulan Agustus ya, ya kira-kira di bulan Agustus-September," kata Yusril, Selasa (6/11).

Yusril akhirnya menolak bergabung dengan Prabowo-Sandi karena kecewa. Salah satunya alasannya, dia menilai ada kesan Prabowo-Sandi hanya ingin menguntungkan timnya sendiri, dan bukannya menganut sistem 'take and gift' atau timbal balik dalam koalisi.

Yusril selama ini dikenal dekat dengan kubu Prabowo. Bahkan dia sebagai pengacara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kerap berseberangan dengan pemerintahan Jokowi. Tapi di Pilpres 2019, dia meninggalkan koalisi Prabowo.

"Saya katakan, kami kan PBB dulu sudah pernah bantu Pak Prabowo ya, kita sudah bantu Pak Sandi maju gubernur DKI. Wagub DKI. Kami punya kepentingan juga nih kita berhasil lolos empat persen ke dalam DPR," ungkapnya.

"Jadi kalau kami membantu Pak Prabowo-Pak Sandi apa yang sebaliknya bisa dibantu oleh Pak Prabowo dan Pak Sandi kepada kami. Tapi tidak ada jawaban," sambungnya.

Selama ini, lanjutnya, tim Prabowo-Sandi tidak pernah merespon keinginanya. Bahkan setelah adanya draf aliansi yang dikeluarkan saat petinggi PBB bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi.

"Pak Kaban dan Pak Afriyansah Noor untuk bertemu Habib Rizieq ya dan membahas hal yang sama dan setelah itu mereka menyusun draf aliansi partai-partai dan itu diajukan ke Pak Prabowo, tapi sampai hari ini juga enggak ada respon," ungkapnya.

Menurut Yusril, seharusnya dalam koalisi ada timbal balik yang sesuai. Pasalnya ia akan meluangkan banyak waktu untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

"Kalau saya diminta menjadi tim suksesnya Pak Prabowo-Pak Sandi saya kan akan all out kampanye siang malam mengkampanyekan pak Prabowo-Pak Sandi, tapi harus diingat saya juga jadi caleg di Jakut. Kan bakal habis waktu saya untuk kampanye Pak Prabowo-Pak Sandi," ujarnya.

Dia menilai, Prabowo sebagai pimpinan koalisi seharusnya berbicara pada semua partai koalisinya untuk bisa sama-sama memenangkan Pileg dan Pilpres bersamaan. Hal itu, kata dia, baru disebut sebagai timbal balik.

"Tapi apakah partai koalisinya juga ya semuanya bisa masuk ke parlemen itu baru namanya kita saling berkerja sama, tapi kalau cuman kami diminta bantu bapak, bapak enggak mau bantu kami gimana jadinya. Tentu tidak pernah ada jawaban waktu itu jawaban Pak Sandi dan Pak Ferry ya nanti kami akan bicarakan sama Pak Prabowo tapi sampai hari ini tidak pernah ada jawaban," ucapnya.

Diketahui, Pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra resmi menjadi kuasa hukum Capres dan Cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019. Padahal, Yusril selama ini diketahui kerap berseberangan dengan Jokowi dan lebih dekat dengan oposisi.

 

Hilangkan Stigma

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Verry Surya Hendrawan mengatakan, bergabungnya Yusril Ihza Mahendra sebagai penasihat hukum Jokowi-Maruf Amin menambah kekuatan bagi kubunya. Menurutnya, ini menunjukkan Jokowi-Maruf bukanlah calon pemimpin anti Islam.

"Walaupun, oke Yusril bergabung sebagai pribadi, namun tentu saja figur beliau sebagai ketum partai yang mengusung tema pembela umat dan pembela rakyat tidak bisa dilepaskan dari figur beliau. Sehingga ini tentu saja memberikan kekuatan baru, menafikkan, menghilangkan stigma bahwa Paslon 01, terutama capres adalah anti atau tidak dekat dengan kaum umat islam," Verry berujar saat dihubungi wartawan, Selasa (6/11/2018).

Dia memandang Yusril sebagai ahli tata negara dan hukum ulung. Meski begitu, Ketum PBB dipastikan berada di luar struktur timses.

"Sementara untuk pembagian tugas nanti akan berkoordinasi secara teknis dengan tim atau dengan divisi direktorat hukum dan advokasi, dalam hal ini dipimpin oleh Mas Ade Irvan Pulungan," Verry melanjutkan.

Sekjen PKPI ini berujar, secara umum koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf menyambut baik kehadiran Yusril. Meskipun, Yusril pernah bersebrangan dengan pemerintah Jokowi.

"Tentu saja ini memberikan semangat baru dan memberikan dukungan secara moril bahwa kami akan terus melakukan kampanye dan berpolitik santun dan berkeadaban," tandasnya.

 

Tak Gentar

 Sementara itu, anggota Direktorat Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, Habiburokhman menegaskan timnya tidak gentar menghadapi tim hukum Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma'ruf Amin yang kini diperkuat Yusril Ihza Mahendra. Dia siap berhadapan dengan Yusril.

"Akan tetapi Sebagai sesama lawyer saya tidak gentar sedikitpun apabila nanti harus berhadapan dengan beliau (Yusril)," Kata Habiburokhman, Selasa (6/11).

Habiburokhman menghargai segala keputusan Yusril untuk bergabung di tim Jokowi-Ma'ruf. Namun, dia menegaskan tim Prabowo-Sandi juga memiliki banyak pengacara yang militan.

"Di kubu kami masih banyak lawyer muda militan yang konsisten di garis perjuangan mendukung Prabowo-Sandi," ungkapnya.

"Kami menghormati pilihan beliau apapun alasannya termasuk jika alasan tersebut adalah adanya honorarium profesional," ucapnya.

 

Mundur sebagai Pengacara HTI

Karena telah menjadi bagian Jokowi-Ma'ruf, Yusril diminta mundur dari jabatannya sebagai kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Saya memohon dan meminta kepada Pak Yusril mundur dari pengacara HTI, karena menurut saya kontradiktif," kata Influencer Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Eva Kusuma Sundari di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Eva menuturkan, ada nilai-nilai yang saling bertentangan andai Yusril tetap melanjutkan tugasnya sebagai pengacara HTI. Sebab, pasangan Jokowi-Ma'ruf, sebut dia, pro-Pancasila.

"Jokowi-Ma'ruf yang sangat pro-Pancasila dan menjadikan Pancasila sebagai orientasi dalam kebijakannya dan arah yang harus ditegakkan. Sementara beliau juga pengacara HTI yang kontradiktif dengan itu karena tidak mau Pancasila dan punya konstitusi sendiri dan seterusnya, biar pas saja," ujar politikus PDIP itu.

Meski begitu, Eva memuji sosok Yusril sebagai advokat andal. Eva menilai Yusril mampu bekerja secara profesional.

"Kalau saya lebih melihat pada kapasitas personal beliau, karena reputasi beliau selalu banyak menang kalau menjadi pengacara," ucap Eva. (rmo/mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>