Bikin Sate 'Lanjheng' saat Idul Adha

Kamis, 15 September 2016  19:21

Bikin Sate 'Lanjheng' saat Idul Adha

Tradisi unik membakar sate ‘lanjheng’ atau sate panjang. Tradisi itu dilakukan tiap Idul Adha.

PROBOLINGGO (BM) – Puluhan santri dari pondok pesantren  Riyadlus Sholihin, Kota Probolinggo, kembali melakukan tradisi unik, yakni membakar sate ‘lanjheng’ atau sate panjang. Tradisi itu dilakukan tiap Idul Adha. 
 
Pesantren di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan ini, secara berkelompok, di lahan kosong di sela-sela asrama santri, membuat tusuk sate super panjang hingga mencacah daging kurban, mereka lakukan bersama kelompoknya. 
 
Uniknya, tusuk sate yang di buatnya sangat panjang, dengan panjang mulai 1 meter hingga mencapai 10 meter.  Kemudian daging yang sudah di iris kecil-kecil, ditusukkan ke tusuk sate yang ukurannya berbeda dengan sate kebanyakan.
 
Mereka menyebutnya tradisi ‘sate lanjheng’, yakni membuat sate dengan berukuran panjang dengan harapan mencari barokah dari sepotong daging kambing kurban. 
 
Menurut Jaelani, salah seorang santri, ia bersama 25 santri dalam kelompoknya membuat sate lanjheng sepanjang 10 meter. “Tusuk sate dengan ukuran panjang ini sudah menjadi tradisi kami setiap Hari Raya Idul Adha. Kami memang sengaja membuat tusuk sate sepanjang 10 meter,” terang Jaelani, Kamis (15/9).
 
Sementara itu menurut Ustadz Iyakmul Mukdin, pengasuh ponpes, tradisi membakar sate lanjheng ini merupakan tradisi turun temurun dan merupakan wujud kebersamaan antar santri. Biasanya usai menyantap sate lanjheng ini, para santri kemudian menggelar acara halal-bihalal, baik antar santri maupun antar pengasuh Ponpes. (koc/azt)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>