Kondisi Leo Kristi Membaik Sebelum Berpulang

Senin, 22 Mei 2017  02:20

Kondisi Leo Kristi Membaik Sebelum Berpulang
Bandung (BM)  - Kondisi penyanyi senior Leo Kristi sempat membaik sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Immanuel Kota Bandung pada Minggu dini sekitar pukul 01.00 WIB.
 
"Kemaren sore karena kondisi mulai penurunan kembali dari kesadaran, kemudian beliau meninggal 21 Mei 2017 jam 1 pagi di ICU," ujar Humas RS Immanuel Yoktaf Oktora saat dihubungi melalui pesan singkat, Minggu.
 
Yoktaf mengatakan, musisi asal Surabaya tersebut masuk ke Immanuel sejak tanggal 27 April 2017 dengan kondisi yang lemas. Dalam masa perawatan kondisi Leo mulai drop, sehingga harus masuk ke ruang High Care Unit (HCU).  "Tanggal 2 Mei, karena ada penurunan kondisi perwatan di HCU sampai tanggal 15 Mei," katanya.
 
Lanjut dia, usai menjalani perawatan intensif di HCU, kondisi pria yang lahir 8 Agustus 1949 ini mulai membaik, hingga mulai dipindahkan ke ruang rawap inap untuk mendapatkan istirahat yang cukup. Tak lama, kondisi Leo kembali menurun sehingga tim dokter memasukannya ke ruang ICU.
 
"Pasien pindah ke ICU tanggal 20 Mei 2017. Dan beliau meninggal 21 Mei 2017 pukul 1 pagi," kata dia.
 
Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah Leo Kristi kemudian dibawa pihak keluarga menuju Jakarta. Namun ia tidak mengetahui secara pasti kapan almarhum Leo Kristi dibawa.
 
"Saya kurang paham, pihak keluarga tidak mengomunikasikan," kata dia.
 
Semasa hidupnya, Leo Kristi dikenal sebagai musisi pengelana yang menikmati karier bermusiknya di jalanan. Bersama rekan seangkatannya, Gombloh dan Franky Sahilatua, ia mendirikan grup band Lemon Tress yang beraliran rock progresif.
Berkawan Akrab 
Leo Kristi dikenal sebagai penyanyi yang bisa  berkawan akrab dengan penggemar lagu-lagunya. Tak hanya saat bertemu di acara konser musik Konser Rakyat Leo Kristi tapi juga dalam jalinan kehidupan sehari-hari. “Interaksinya sangat cair, seperti itulah konser rakyat yang sebenarnya,” kata Asmuji, salah seorang penggemar karya musik Leo Kristi, kemarin.
Asmuji mengaku tak hanya menyukai syair lagu dan idealisme karya Leo yang memberikan inspirasi hidup. Asmuji pun mengagumi sosok musisi kelahiran Surabaya, 8 September 1949 itu. Musisi ini dinilainya tegar dan kokoh dalam mengarungi dunia musiknya dengan corak folk song dan balada.”Tidak kompromi dan takluk pada selera pasar,” ujar Asmuji.
 
Komunitas penggemar karya Leo Kristi selalu mengundangnya untuk konser di waktu khusus seperti Hari Kemerdekaan atau Kebangkitan Nasional. Dengan dana swadaya tanpa sponsor, Leo meriung dan bernyanyi bersama. Selain bermusik, ia melukis, dan berkelana ke berbagai tempat, biasanya seorang diri. Cerita perjalanannya kerap menyelip di sela-sela konser. “Dia biasa singgah di mana pun, kadang tinggal di rumah penggemar,” kata Asmuji. 
Kalau tidak di rumah orang, Leo tidur di taman kota,atau stasiun. 
 
Leo belakangan memilih tinggal di Bandung, berpindah-pindah di rumah kawannya. Salah satunya di rumah Hendi alias Mang Oben, penggemar karya musik Leo Kristi. Di sana pernah tinggal selama lima bulan. Di rumahnya, Leo latihan musik, bermain gitar, bermain bola dengan anaknya, makan seadanya, juga mengobrol tentang dirinya, anak, serta karya lukisan. Mang Oben sempat adu argumentasi gara-gara cara mengguratkan pastel. Namun itu tak berkepanjangan. Leo, selain bermusik memang sering menumpahkan energi kreatifnya dengan melukis.Oben juga menuturkan, Leo sering keliling kota berjalan kaki pada petang atau malam hari. Ia juga sering kali pergi keluar kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Bali.
Di mata Mang Oben, Leo tergolong orang yang serius dan kurang humoris. Tak banyak orang yang bisa masuk ke dunianya.
Menurutnya selama lima tahun terakhir ini, ia berkelana sambil memikirkan kondisi negara. Leo juga orang yang bandel dalam urusan kesehatan, apalagi jika harus berurusan dengan dokter. Hingga akhirnya dia pun harus dirawat karena penyakit yang dideritanya terlambat ditangani.
 
Sementara penggemar lainnya, Ken Atik juga punya kisah sendiri. Ia terkesan oleh musisi yang ramah dan suka tersenyum ini. Namun begitu, ia pernah dibuat jengkel oleh Leo. Saat itu ia pernah bekerja sama dengan Leo saat konser di Aula Timur ITB pada 2010. Saat itu Ken bertugas sebagai koordinator acara. “Janjian ketemu malah pergi ke mana, janji latihan tiba-tiba pergi. Mungkin itu caranya dia supaya orang harus sabar,” kata pengajar Seni Kriya Tekstil dan Desain Produk di dua kampus swasta di Bandung itu. 
 
Keakraban terjalin hingga Ken menjenguk Leo yang terbaring di rumah sakit. Tangannya digenggam kuat saat bersalaman sambil berbincang hangat. Saat itu Leo menyatakan ingin makan buah anggur tanpa biji. Ken mencarinya hingga jauh. “Tujuh butir dimakan dan dinikmatinya betul,” ujarnya.  (ant/tem/nii)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>