Dispora Jatim Edukasi 85 Juta Pecandu Game OL dengan E-Sport

Rabu, 03 Oktober 2018  19:09

Dispora Jatim Edukasi 85 Juta Pecandu Game OL dengan E-Sport

Free Fire PUBG Mobile, game online yang masuk kategori E-Sport, dipresentasikan di Dispora Jatim. (BM/HARUN EFFENDY)

SURABAYA (BM) - Sekitar 40 juta dengan potensi peningkatan hingga 85 juta orang Indonesia mulai anak-anak hingga dewasa, usia 10-30 tahun terjangkit candu game online. Kemudian dari data tersebut, 75% memakai Ponsel Pintar, kemudian enam dari 10 orang berkembang menjadi pemain game profesional.


Dan, jauh sebelum candu game online ini menjadi viral, dalam masyarakat kita, ditemukan banyak sekali dampak negatif dari permainan tidak nyata ini. Diantaranya, malas membaca, suka berbohong, cenderung melawan orang tua, dan tidak peka lingkungan. Penyebabnya, mata yang sering melihat gambar bergerak, membuat gangguan otak, salah satunya malas membaca.


Banyak sisi negatif yang ditimbulkan game online ini tidak bisa dibendung kalau berkaca pada statistik di atas, terlebih motivasi hadiah uang yang besar, hingga USD 25 juta, misalnya pada kejuaraan di Kanada beberapa tahun lalu. Belum lagi keuntungan yang dapat dikeruk provider penyedia paket internet, kemudian produsen Smartphone yang berlomba-lomba meluncurkan produk lengkap dengan aplikasi game online.


Kekuatan uang seolah menambah daya magis perkembangan di dunia game yang terus-menerus menjangkiti anak-anak kita, tetapi di sisi lain pemerintah tidak mampu menolak masuknya permainan teknologi ini yang secara terang-terangan dapat merusak bahkan menghilangkan generasi bangsa.


Kemudahan akses game online, sehingga bisa dimainkan siapa saja, kapan saja, dimana saja, tentunya hal ini semakin menyulitkan kita dalam memberikan kontrol positif. Namun hal ini disadari oleh sekelompok anak muda yang membentuk komunitas SJU E-Sport, sebagaimana penuturan ketuanya, Tigor Panjaitan.


Fakta di luar negeri orang-orang yang kecanduan game online ini justru kaya raya, berpenghasilan besar, namun budaya di Indonesia yang religius pastinya sangat bertolak belakang, dan justru dapat menimbulkan persoalan-persoalan sosial yang baru khususnya bagi perkembangan otak anak-anak.


“Kalau saya lebih condong untuk mengarahkan hobi mereka, seperti hobi-hobi lain anak-anak, kalau kita sebagai orang tua melarang cenderung anak-anak bakal melawan, mereka akan melakukan banyak cara seperti membohongi orang tua, misalnya pamit mengaji malahan bermain game,” katanya setelah presentasi di kantor Dispora Jatim, Rabu (3/10) siang.


Menurutnya, kalau diberikan arahan maka, anak-anak bisa teratur, sebab dapat diatur, diedukasi, “kita mengaturnya tidak hanya anaknya tapi juga orang tuanya, agar bisa saling menjaga dan mengatur, tidak saling disalahgunakan, karena selama ini game itu sudah disalah gunakan oleh anak-anak, bukan sarana hiburan lagi, tetapi untuk menghabiskan waktu mereka, itu salah. tetapi kita atur game sebagai entertainment saja, yang sifatnya hiburan,” terangnya.


Masih Tigor, kalau anak-anak sudah punya waktu kosong, seperti sudah selesai mengaji, selesai beribadah, sudah selesai belajar, baru bermain. “Jadi kalau kita sudah dapat mengarahkan dan menempatkan bermain game secara benar, tidak akan ada masalah, dan masih sesuai dengan norma-norma yang ada,” timpalnya.


Artinya, lanjut Tigor, akan ada penerapan yang berbeda terkait penggunaan game ini di Indonesia dan berbeda dengan luar negeri, jadi tetap aturan-aturan yang ada akan disesuaikan dengan budaya kita, tidak memakan mentah-mentah budaya luar yang masuk ke Indonesia.


Tigor dan komunitasnya pun telah membuat  kiat-kiat untuk membatasi waktu dalam bermain game. “Kita akan membuat booth-camp khusus belajar permainan game, diluar itu, mereka sudah bukan gamer lagi, tetapi sudah harus waktunya untuk kehidupan bermasyarakat, misalnya seperti olahraga lainnya, dia main game waktu latihan di booth-camp saja, selepas latihan, harus kembali bersosialisasi di masyarakat,” ujarnya.


Hal ini dilakukan pihaknya untuk menghindari, istilah kini, menjadi generasi merunduk, dikurangi, tetapi karena itu sudah kuat pengaruhnya, maka kita tidak bisa dihapus secara langsung tetapi mengurangi perlahan.


Lebih jauh, Tigor menjelaskan bahwa titik sulitnya bukan di E-Sport, tetapi di tempat-tempat persewaan game online, sehingga untuk di jam-jam sekolah itu sudah tidak boleh dilakukan aktivitas bermain game, khususnya yang masih mengenakan seragam sekolah untuk masuk di warung game, atau kasarnya, di warnet, atau di warkop (yang ada wifi).


Jadi batasan, larangan itu untuk menghindari anak-anak bolos sekolah, yang aturan ini dibuat secara mandiri oleh komunitas-komunitas game online. Jadi sudah dapat dipastikan tempat-tempat mereka biasa bermain game online akan melarang bermain pada saat jam sekolah. Pemilik sudah koordinasi dengan komunitas yang ada, melalui jejaring sosial.


“Tetapi kalau diluar jam sekolah, kita masih terus melakukan kajian, apakah si penyewa ini masuk kategori anak-anak sekolah yang sudah belajar, atau belum, sudah mengaji, atau belum, maupun aktivitas sosial lainnya,” urainya.


Dirinya menghimbau kepada generasi gamer bahwa, kalian bermain boleh tetapi kalau harus melupakan sekitar jangan. Kita sebagai manusia juga makhluk sosial yang harus peka dengan sekitar kita.


Kalau di warnet bisa dibatasi dengan menjalin komunikasi dengan pemilik, lalu bagaimana kalau main game online lewat ponsel, cara kontrolnya, apakah perlu diblokir pada jam tertentu. Sebab terkadang anak-anak kelihatannya di rumah, tetapi justru bermain game online lewat ponsel.


“Kalau soal itu, koordinasinya banyak, harus komunikasi dengan provider, mencari solusi untuk menghindarkan agar anak ini dapat dibatasi akses dalam memainkan game. Bukan melarang, tetapi diletakkan jam-jam tertentu dalam bermain, entah itu lewat wifinya, atau hal lain,” ucapnya.


Di luar negeri program E-Sport sudah masuk kurikulum sekolah, lebih jauh Tigor, sebab untuk melarang bermain game online untuk saat ini sudah tidak mungkin, jadi kita hanya bisa memberi masukan untuk mulai mengurangi aktivitas berlebihan dalam bermain game.


“Saat ini kita saling mengkaji termasuk dengan provider-provider penyedia layanan game online, sebab pihak provider sendiri juga mempunyai visi misi perusahaan tersendiri, faktor keuntungan menjadi pertimbangan berat provider, yang mana dibutuhkan peranan pemerintah agar kita tidak kehilangan generasi emas,” pungkasnya.


Sementara itu, istilah E-Sport, atau olahraga elektronik, lahir dari maraknya perlombaan game online saat ini, terdiri dari, komputer game, console game dan mobile game, dan yang disebut terakhir populer dengan permainan online mobile Legends. Lantas, sejauh ini perkembangan E-Sport sendiri telah jadi bagian cabang olahraga (cabor) eksebisi pada Asian Games 2018 Jakarta Palembang lalu.


Di Jawa Timur perkembangan E-Sport masih lingkup kecil, jauh dari Jakarta. Sehingga Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur merasa perlu untuk memperkenalkan ke masyarakat pada even Jatim Fair tanggal 11 Oktober 2018 di Grand City Mall dalam rangka HUT Jatim ke-73, dimana acara juga dimeriahkan panggung musik, serta Coaching Clinic Sekolah Sepak Bola (SSB) yang akan dipandu legenda Indonesia, Yusuf Ekodono dan putranya yang saat ini membela Persebaya Surabaya, Fandi Eko Utomo. (har)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>