Tinggal di Daerah Konflik, Pertengahan Bulan Ingin Pulang

Kamis, 08 Februari 2018  23:12

Tinggal di Daerah Konflik, Pertengahan Bulan Ingin Pulang
SURABAYA (BM) - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya peserta kuliah kerja nyata (KKN) dan praktik pengalaman lapangan (PPL) internasional telah kembali ke kampus, Kamis (8/2). 
 
Kedatangan 17 mahasiswa dari Fakultas Agama Islam (FAI) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini disambut langsung Wakil Rektor 1 UM Surabaya Azis Alimul Hidayat serta beberapa ketua dan kepala biro.
 
Sebanyak 17 mahasiswa itu baru menuntaskan KKN dan PPL di Provinsi Patani dan Yala di Thailand Selatan. Mereka di sana selama tiga bulan. Berbagai pengalaman menarik mengikuti KKN dan PPL internasional dikisahkan beberapa mahasiswa. Salah satu cerita datang dari Fadilah Fauziyah Lubis, mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris FKIP.
 
Fadilah mendapat tugas di Kota Yaha, Provinsi Yala. Daerah itu terkenal sebagai daerah konflik. "Sebelum pulang kemarin bahkan terjadi ledakan bom di sana," kata mahasiswi semester 8 ini. Sebagai daerah konflik, di Yaha pun ada jam malam. "Di atas jam 6 malam para perempuan tidak boleh keluar," ungkapnya.
 
Lokasi yang terpencil dan dekat hutan membuat Fadilah sempat ingin kembali ke Indonesia. Keinginan itu muncul setengah bulan setelah tiba di sana. Namun, karena ada perlindungan dari Kepala Dinas Pendidikan Swasta di sana dan Konsulat Republik Idonesia, keinginan pulang itu diabaikan. "Kalau pas ada tentara lewat dekat tempat kami tinggal, yang paling sibuk itu kepala dinas pendidikan di sana. Tanya keadaan dan kabar," terangnya.
 
Dia mengatakan, selama di sana mengajar bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Arab, di sekolah dan kepada warga masyarakat. "Bahkan ada mahasiswa yang membuat ote-ote," katanya. Masyarakat di Yaha juga belum menguasai bahasa Inggris. Termasuk yang berusia dewasa. Berbagai kendala komunikasi dan pengajaran harus dicarikan solusi.
 
Untuk mengatasi kesulitan itu, Fadilah dan beberapa temannya harus membuka Google Translate untuk berkomunikasi dan menggunakan bahasa isyarat. "Mereka lebih akrab dengan bahasa Melayu Patani, susah berkomunikasi dalam bahasa Inggris," ujarnya.
 
Wakil Rektor 1 UM Surabaya Azis Alimul Hidayat mengatakan, KKN dan PPL internasional merupakan agenda rutin. Sebelumnya pernah dilakukan di negara Kamboja, kemudian Thailand. "Ke depan akan ada penambahan negara. Kami sudah kerja sama dengan Malaysia," katanya.
 
Terkait minimnya jumlah mahasiswa yang mengikuti KKN-PPL internasional, Azis mengaku karena keterbatasan izin dari negara tujuan. "Mudah-mudahan tahun depan bisa ditambah kuotanya," ujarnya. Dengan adanya program ini, dia berharap semakin mengenalkan budaya, bahasa, dan keberagaman di Indonesia. (sdp/udi)
 
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>