Jangan Sia-siakan Usia

Minggu, 18 Juni 2017  19:45

Jangan Sia-siakan Usia

Gus Ibnu Shobir , S Pd. Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surabaya

Oleh: Gus Ibnu Shobir , S Pd
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surabaya

Sahabat Nabi Muhammad SAW, Sya’ban RA yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah Subuh bersama Rasulullah. Ia setiap hari mencari tempat sholat dipojok depan, karena tidak ingin mengganggu jamaah yang lain. Karena Istiqoma Sahabat Syahban dalam mengikuti sholat , sehingga Rasulullah hafal dengan perilaku yang dialaminya. 
 
Namun, dalam menjalankan ibadah sholat shubuh berikutnya Sahabat Sya’ ban tidak kelihatan , sampai Rasulullah berkenan untuk menunggu kedatangan  Sya’ban. Karena tidak juga hadir, maka Rasulullah memulai sholat Shubuh tanpa diikuti oleh Sahabat Sya’ ban.
 
Ketika Rasulullah selesai menunaikan ibadah sholat Shubuh, beliau menanyakan kepada jamaah tentang keberadaan Sahabat Sya’ban. Namun, para sahabat yang lain tidak mengetahui kabar tentang sahabat Sya’ ban. Saking cintanya, Rasulullah ingin di antarkan kerumah Sahabat yang istiqomah berjamaah tersebut, bagaimana keadaannya.
 
Diluar dugaan tempat tinggal Sahabat Sya’ban cukup jauh, yaitu memakan waktu selama tiga jam untuk sampai di rumah. Dari selesai sholat Shubuh sampai menjelang waktu sholat Dhuha. Sesampai di rumah Sahabat Sya’ban, Rasulullah memberi salam “ assalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh”, namun yang menjawab adalah isteri Sahabat Syahban. 
 
Rasulullah sangat terkejut manakala menanyakan dimana Sahabat Sya’ban berada yang dijawab istrinya bahwa suaminya sudah wafat. Setelah mengucapkan Innalillahi wa innalillahi rojiun dan mendoakannya, istri Sahabat Sya’ban minta ijin bertanya kepada Rasulullah terkait sakratul maut yang dialami suaminya. Dimana Sahabat Sya’ ban mengucapkan kata – kata kenama dekat, kenapa Cuma setengah dan kenapa kok hanya yang lama.
 
Rasulullah menjawab, menjawab Laqad kunta fii ghaflatin min hadzaa fakasyafnaa ‘anka ghihaa-aka fabasharukal yauma hadiidun “ yang artinya sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup(yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam (QS.50:22).
 
Maksudnya , bahwa seseorang yang mengalami sakratul maut,  Allah perlihatkan kepada manusia hal-hal yang ghoib terkait dengan balasan dari apa yang diperbuat oleh si mayat pada waktu itu.  Sahabat Sya’ban ternyata diperlihatkan 3 episode. Pertama, ditunjukkan besarnya pahala akibat sholat berjamaah dengan Rasulullah yang sangat jauh , karena indahnya beliau menyesal dengan berkata kenapa kok dekat. Kedua, ditunjukkan pahalanya ketika menolong seseorang fakir yang kelaparan dengan memberi setengah dari roti yang beliu makan, kenapa tidak seluruhnya. Ketiga, betapa besar pahalanya ketika menolong seseorang yang kedinginan, beliau memberi pakaian bekas padahal beliau membawa pakaian baru, kenapa bukan baju yang baru. Sahabat Sya’ban merasa menyesal ketika  Allah memperlihatkan keindahan yang dilakukannya.
 
Kesimpulannya, masa yang masih dikaruniai Allah dengan umur harusnya dioptimalkan untuk berbuat terbaik, karena kematian dan hari kiamat adalah merupakan saat-saat  penyesalan bagi setiap manusia. Yang menyesal bakan hanya manusia yang berbuat jahat, akan tetapi juga manusia yang berbuat baik. Yang jahat, kenapa selama hidupnya dipakai untuk kejahatan. Sedangkan manusia yang berbuat baik, kenapa perbuatannya selama hidupnya kebaikkannya nilainya sangat kecil.
 
Itulah pelajaran yang penting, agar masa yang masih ada ini digunakan untuk berbuat baik dengan kwalitas yang terbaik yang bisa kita lakukan. Ramadan, yang dimuliakan adalah waktunya. Sehingga mestinya kita belajar untuk menggunakan setiap waktu, setiap detik, setiap menit dan setiap jam untuk menghabiskan melakukan amal sholeh. Maka, kita harus komitmen terhadap ajaran Allah SWT , bahwa orang yang beriman adalah orang yang senatiasa meninggalkan perbuatan dan perkataan yang sia-sia.
 
Kalau dibulan Ramadan saja kita berbuat hal-hal yang tidak ada manfaatnya, bisa jadi diluar bulan Ramadan kwalitas kehidupan kita juga tidak lebih bermutu daripada dibulan Ramadan. Orang yang sukses,adalah  orang yang mengisi waktunya untuk berbuat baik secara optimal.
 
Dari Ramadan kita belajar tidak menyia-nyiakan usia, dari Ramadan kita belajar kiata tidak menyia-nyiakan  waktu, dari Ramadanlah kita belajar bahwa amal yang kita persembahkan kepada Allah kita upayakan yang terbaik. Seperti kata Allah dalam Surat Al Mukminun ayat 3,”  Waladziina hum ‘ani allaghwi mu’riduuna”, orang yang beriman adalah orang yangmeninggalkan segala apa saja  yang sia-sia.(dji)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>