Kesabaran dan Keikhlasan

Kamis, 15 Juni 2017  19:33

Kesabaran dan Keikhlasan

Sigit Sutriono (Hakim dan Humas PN Surabaya)

Oleh Sigit Sutriono
(Hakim dan Humas PN Surabaya)

Sudah 20 hari kita menjalani bulan ramadan tahun 2017 yang bertepatan dengan 1438 Hijriyah ini. Sudah dua pertiga bulan yang kita lewati. Kini kita memasuki 10 hari terakhir yang di dalamnya terdapat satu malam yang setara dengan seribu bulan, yaitu laitul qadar.
 
Baik dalam menyambut laitul qadar maupun menjalani hari-hari selama puasa ramadan, ada hal yang sepatutnya kita jadikan acuan bersama. Hal itu adalah kesabaran dan keikhlasan. Puasa di bulan Ramadan merupakan waktu yang baik bagi kita untuk melatih diri agar dapat sabar dan ikhlas. 
 
Banyak sekali ujian kesabaran bagi kita selama menjalankan hari-hari puasa ramadan. Kita, misalnya, berkesempatan untuk makan dan minum ketika sudah merasa lapar dan haus pada siang hari setelah sholat dhuhur. Itu adalah jam makan siang dalam kebiasaan kita di hari-hari di luar ramadan. Kita tentu bisa makan dan minum pada siang hari kalau kita mau. Tetapi kita bersabar dan tidak melakukan itu. 
 
Demikian pula, ramadan menjadi masa ujian bagi keikhlasan kita. Kita bisa saja tidak melaksanakan ibadah puasa di siang hari atau sholat sunnah tarawih di malam hari selama ramadan. Tetapi, tokh, kita tetap melaksanakan ibadah puasa itu dan merasakan bahwa hal itu tidak mudah. Kita juga melaksanakan ibadah sunnah dengan sholat tarawih malam hari. Semua ibadah itu kita lakukan semata karena Allah SWT. Kita ikhlas menjalankan ibadah tersebut, tanpa perasaan terpaksa.
 
Dengan berusaha selalu sabar dan ikhlas, maka selain mendapatkan pahala sebagai janji Allah, momentum ini harus kita manfaatkan sebagai pembelajaran hidup. Artinya, sabar dan ikhlas tetap menjadi acuan nilai kita dalam menjalani hari-hari pasca ramadan.
 
Artinya, kita bisa pula nantinya menerapkan kesabaran dan keikhlasan itu dalam bidang kehidupan di luar ibadah. Memang saat ini tidak mudah menjadi orang yang sabar dan ikhlas dalam beraktivitas. Banyak sekali godaan yang memancing tindakan kita untuk tidak sabar dan tidak ikhlas. Tetapi kalau kita kembalikan bahwa hidup dan mati kita sejatinya adalah milik Allah swt, maka kesadaran itu akan membuat kita menjadi bisa lebih sabar dan ikhlas.
 
Kesabaran dan keikhlasan memang dua hal yang berbeda, tetapi memiliki kaitan yang sangat erat. Seseorang harus memiliki kesabaran untuk bisa menjalani kehidupan dengan keikhlasan. Seseorang yang tidak sabar dalam melakukan sesuatu maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan ikhlas. Padahal, jika seseorang tidak ikhlas dalam pekerjaan maka bagaimana mungkin dia akan menikmati kehidupannya. Dengan kesabaran dan keikhlasan, kita betul-betul menikmati kehidupan sebagai hamba Allah sampai kelak tiba saatnya kita dipanggil kembali kepada Allah. Semoga dengan menjalankan prinsip kesabaran dan keikhlasan itu kita pun kelak bisa mencapai khusnul khotimah. Insha Allah. (*)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>