Penjualan Kayu Jati Tuai Masalah

Sabtu, 08 Juni 2013  01:53

Penjualan Kayu Jati Tuai Masalah

BOJONEGORO (BM) – Adanya pembatasan dalam penjualan kayu dari pihak Perhutani KBM (Kesatuan Bisnis Mandiri) Pemasaran Unit II Bojonegoro Jawa Timur, menuai kecaman. Tidak hanya itu jika rencana aksi demontrasi pun siap dijalankan dengan memblokade jalan masuk lokasi penjualan kayu.  

Kabar ini dating dari Aspek (Asosiasi Pedagang Kayu) Kabupaten Bojonegoro. Mereka  mengeluhkan sikap KBM. Karena dilakukan penjualan tebangan kayu jati yang dibatasi untuk jenis Hara, dengan ukuran panjang satu meter dan berdiameter 30 cm ke atas.

Tidak hanya itu yang paling membuat geram para pedagang kayu di Bojonegoro, menemukan fakta jika  penjualan kayu dikhususkan untuk pengusaha mebel dari Singapura.

Padahal jika terjadi penjualan dengan pengusaha Singapura itu, dapat dipastikan cara pembayarannya bertempo selama tiga bulan. Sehingga sangat merugikan keuangan Perhutani.

“Mekanisme apa ini, seharusnya kami ini diperhatikan dan diutamakan dapat dilayani untuk dapatkan jati yang berjenis Hara. Kami ini sanggup bayar kontan. Kok malah tidak dilayani. Ini pasti ada sesuatu yang tidak baik dalam tubuh Perhutani, kami dapat membuktikannya kalau ada seperti itu, “ kata H Muntaha, Ketua Aspek Kabupaten Bojonegoro di lokasi penjualan kayu Jalan Monginsidi, Jumat (7/6).

Dia menegaskan, Aspek yang didalamnya beranggotakan ratusan pedagang kayu akan menunjukkan sikapnya. Salah satunya dengan merencanakan aksi demonstrasi memblokade KBM. Cara yang dipakai adalah dengan menutup jalan di lokasi penjualan kayu.

Namun aksi ini akan dijalankan apabila Perhutani tetap bersikukuh dengan sikapnya. Karena  Perhutani disebutnya sama dengan membunuh nafkah pedagang kayu asli Bojonegoro.

Dikonfirmasi terpisah General Manajer (GM) Perhutani KBM Pemasaran Unit II Bojonegoro, Sriyono mengakui adanya pembatasan penjualan kayu jati jenis Hara untuk pedagang kayu Bojonegoro. Alasannya pemberlakukan pembatasan dikarenakan adanya instruksi dari pimpinan.

Disampaikan Sriyono jika hal ini sesuai dengan surat Direksi Perhutani Nomor 156 tanggal 24 April 2013. Dalam instruksi tersebut menyatakan bila kayu jati ukuran kurang dari dua meter untuk sementara waktu  untuk memenuhi industri yang dikerjakan oleh Perhutani di Gresik. “Ini sudah aturan dan kami harus menjalankan, “ katanya singkat.

Terkait dengan temuan dilapangan yang diduga kuat adanya pengusaha asal Singapura terlibat dalam penjualan kayu, Sriyono tidak meu menanggapinya.(ren/yoc) 
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>